Operasi Senyap Dimulai? Pangkalan Rahasia Aktif, B-2 Dirumorkan Muncul, Timur Tengah di Ambang Api

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah memasuki fase paling tegang dalam beberapa tahun terakhir. Informasi terbaru yang beredar pada awal Februari 2026 menyebutkan bahwa kekuatan tempur Amerika Serikat telah memasuki Pangkalan Udara Nakhchivan di Azerbaijan serta Pangkalan Udara Shamsi di Pakistan. Dengan dukungan logistik dan politik dari Uni Emirat Arab, Pakistan, Azerbaijan, dan Kuwait, tahap awal operasi militer terhadap Iran disebut-sebut telah dimulai. Status keamanan kawasan pun dinaikkan ke siaga tinggi, memicu lonjakan ketegangan lintas negara.

Peringatan Mengejutkan dari Serbia

Presiden Serbia, Aleksandar Vučić, melontarkan pernyataan mengejutkan dengan memperkirakan bahwa Amerika Serikat berpotensi melancarkan serangan militer terhadap Iran dalam 48 jam, bahkan menyasar Teheran. Vučić menilai Gedung Putih mungkin menggunakan opsi militer untuk mengalihkan tekanan politik domestik.

Pernyataan ini menjadikan Serbia sebagai kepala negara pertama yang secara terbuka memprediksi pecahnya perang AS–Iran dalam waktu dekat. Mengingat kedekatan Serbia dengan Israel—sekutu paling strategis Washington di Timur Tengah—ucapan tersebut langsung memicu spekulasi luas di kalangan analis internasional.

Kesiapan Pertahanan AS Dipacu

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa Washington mempercepat pengerahan sistem pertahanan udara berlapis untuk mengantisipasi aksi balasan Iran. Langkah ini mengindikasikan bahwa sebelum perintah serangan udara skala besar dikeluarkan, AS masih memerlukan waktu guna menyempurnakan kesiapan tempur menyeluruh.

Saat ini, AS telah membangun jaringan pertahanan di kawasan yang mencakup delapan kapal perusak berkemampuan intersepsi udara, jet tempur F-15E di Yordania untuk misi pencegatan drone, serta pengerahan THAAD dan Patriot di Yordania, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, dan Qatar. Tambahan enam jet tempur F-35 juga dipindahkan dari Karibia ke Timur Tengah, sementara pesawat perang elektronik EA-18G dikerahkan ke Eropa—menegaskan persiapan konflik berintensitas tinggi secara sistematis.

Armada Kapal Induk dan “Garis Merah” Trump

Seiring kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln sepenuhnya memasuki wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS, konsentrasi militer Amerika di Timur Tengah terus diperluas. Presiden Donald Trump menyebut armada tersebut sebagai kekuatan militer Amerika yang “sangat besar”, memberi Gedung Putih ruang manuver militer dan politik yang lebih luas.

Fox News mengutip pernyataan Duta Besar AS untuk NATO, Matt Whitaker, yang menegaskan bahwa pengerahan armada bukan sekadar demonstrasi kekuatan, melainkan jalan keluar terakhir bagi Iran. Menurutnya, Trump telah menarik garis merah yang jelas: eskalasi atau deeskalasi sepenuhnya bergantung pada keputusan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei—dan Washington tidak akan menunggu tanpa batas waktu.

Meski spekulasi serangan menguat, Whitaker menekankan bahwa AS tidak berniat menggulingkan rezim Iran, melainkan memaksa Teheran membuat konsesi pada isu-isu kunci. Gedung Putih menegaskan prioritas tetap pada perjanjian, namun keputusan harus diambil sebelum terlambat.

Respons Iran: Unjuk Kekuatan dan Isyarat Kompromi

Sebelumnya, Khamenei memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran dapat memicu konflik regional besar. Garda Revolusi Iran memamerkan latihan rudal balistik Khaibar Shekan (jangkauan 1.450 km, hulu ledak 500 kg) sebagai sinyal kemampuan balasan. Namun, setelah peringatan AS, Iran dilaporkan membatalkan latihan militer di Selat Hormuz.

Menurut Reuters, Teheran mengusulkan penyerahan sekitar 400 kg uranium yang diperkaya sebagai imbalan pencabutan sanksi. Juru bicara Kemenlu Iran, Ismail Baghaei, menyatakan bahwa semua dimensi perundingan tengah dievaluasi dan menegaskan waktu sangat krusial, dengan pencabutan sanksi sebagai prioritas utama. Iran mengajukan syarat awal penarikan pasukan AS dari wilayah sekitar Iran. Pejabat keamanan tertinggi Iran, Ali Larijani, mengonfirmasi melalui platform X bahwa pengaturan perundingan sedang berjalan.

Sumber-sumber Iran menyebutkan tiga prasyarat yang diajukan Washington: nol pengayaan uranium, pembatasan program rudal balistik, dan penghentian dukungan terhadap kelompok proksi regional. Dua pejabat Iran mengakui bahwa isu rudal balistik merupakan titik paling sulit untuk dikompromikan.

Koordinasi AS–Israel dan Eskalasi di Lebanon

Di tengah ketegangan, koordinasi militer AS–Israel meningkat tajam. Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menggelar pertemuan darurat dengan Kepala Staf Umum Israel, Eyal Zamir, mengirim sinyal kuat koordinasi tingkat tinggi.

Hampir bersamaan, Israel Defense Forces meningkatkan operasi udara terhadap Hizbullah di Lebanon. Setelah peringatan evakuasi sipil, gelombang serangan presisi dilancarkan. IDF mengonfirmasi tewasnya Ali Dawoud Amich, pejabat teknik senior Hizbullah, serta dilumpuhkannya satu komandan pertahanan udara senior. Langkah ini dipandang sebagai tekanan tidak langsung terhadap Iran.

Rumor B-2 dan Sikap Rusia

Beredar pula laporan belum terkonfirmasi mengenai pendaratan pesawat siluman B-2 di Pangkalan Udara Bagram, Afghanistan, dengan rumor bahwa Taliban mengizinkan penggunaan pangkalan tersebut sebagai imbalan dukungan finansial. Meski belum ada konfirmasi resmi, kabar ini menambah kekhawatiran eskalasi.

Di sisi lain, Kremlin menyatakan bahwa Rusia tidak berencana mengirim pasukan untuk membela Iran jika AS menyerang. Moskow menegaskan solusi terbaik tetap diplomasi dan memperingatkan dampak destabilisasi regional. Para analis menilai sikap ini mencerminkan dua pesan: Rusia tidak ingin terseret perang baru, dan Moskow menjaga fleksibilitas strategis di tengah tekanan global serta beban konflik Ukraina.

Gambaran Besar:  Hingga awal Februari 2026, kawasan berada di persimpangan berbahaya. Pengerahan militer besar-besaran AS dan Israel berjalan beriringan dengan jalur diplomasi yang rapuh. Keputusan-keputusan dalam hitungan hari ke depan—baik di Washington maupun Teheran—akan menentukan apakah krisis ini mereda lewat perjanjian, atau justru meluncur ke konflik terbuka berskala regional.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bojan Hodak Blak-blakan soal Rumor Ragnar Oratmangoen ke Persib
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Pemerintah Komitmen Reformasi Pasar Modal, IHSG Berpotensi ke 8.210
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Indonesia Darurat Narkoba, Siti Aisyah Soroti Ledakan Kasus di Lapas dan Desa
• 21 jam lalupantau.com
thumb
Prabowo Jelaskan Soal Iuran Board of Peace, Ketum PBNU: Bisa Dipahami
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Eko Suwanto Dorong Implementasi Perda untuk Tekan Angka Stunting di DIY
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.