Grid.ID - Kasus siswa SD di NTT akhiri hidup menjadi tamparan keras bagi negara. Bocah cilik itu nekat menghilangkan nyawanya lantaran tak mampu membeli alat tulis untuk keperluan sekolah.
Kabar duka kembali menyelimuti dunia pendidikan Indonesia. Seorang siswa kelas 4 SDN Rutowaja, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditemukan tewas di Desa Nenawea, Kecamatan Jerebuu, pada Kamis (29/1/2026). Bocah berinisial YBS (10) ini diduga meninggal usai mengakhiri hidupnya.
Kasus siswa SD di NTT bunuh diri tersebut sontak menjadi perhatian publik usai viral di media sosial. Dalam beberapa unggahan yang beredar, siswa tersebut rupanya sempat menuliskan surat terakhir untuk ibunya.
Lantas, bagaimana peristiwa nahas ini bisa terjadi?
Kronologi Siswa SD di NTT Akhiri Hidup
Kasus meninggalnya siswa SD di NTT ini pertama kali diketahui oleh warga sekitar. Camat Jerebuu, Bernadus Honoratus Tage mengatakan informasi awal diperoleh dari Kepala Desa Nenawea.
"Korban ditemukan warga dalam keadaan tergantung di pohon cengkeh yang berada di lahan milik warga," ujar Bernadus seperti dikutip Grid.ID dari Tribun Flores, Rabu (4/2/2026).
Jasad YBS pertama kali ditemukan oleh seorang warga berinisial KD (59). Saat itu ia hendak mengikat hewan ternak di sekitar pondok kebun. Saat menuju pondok, saksi melihat korban sudah dalam keadaan tergantung di salah satu dahan pohon cengkeh.
"Saksi kemudian berlari ke jalan sambil berteriak meminta pertolongan, hingga warga sekitar berdatangan dan menghubungi pihak kepolisian," jelas Kapolres Ngada melalui Kasi Humas Ipda Benediktus R. Pissort
Setelah menerima laporan tersebut, Personel dari Pospol Jerebuu dan Polres Ngada melakukan penanganan awal dan penyelidikan.
"Benar, saat ini personel Pospol Jerebuu dan Polres Ngada sedang menuju dan menangani lokasi kejadian," ungkap Bernadus.
Menurut Kompas.com, siswa kelas 4 SD itu nekat mengakhiri hidupnya lantaran diduga putus asa dengan keadaan yang dialaminya. Saat meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000, ibunya MGT (47) menjawab mereka tak punya uang. Bagi keluarga mereka, mendapatkan uang dengan nominal itu memang tidak mudah.
MGT sehari-hari hanya bekerja sebagai petani dan buruh serabutan, sementara dia harus menghidupi lima orang anak. Untuk mengurangi beban MGT, korban diminta tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok.
Di tempat sederhana itulah, YBS ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 12.30 WITA.
Saat kejadian, nenek korban tengah mandi di kali yang jaraknya tak jauh dari pondok. Tak ada tanda-tanda mencurigakan sebelumnya. Tak ada pertengkaran. Tak ada riwayat perilaku menyimpang.
YBS merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, ia tak lagi tinggal bersama ibu kandungnya dan diasuh oleh neneknya di pondok sederhana berdinding bambu.
Ayahnya telah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan tak pernah kembali. Sehari-hari, selain bersekolah, YBS kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi dan kayu bakar.
Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya, pisang dan ubi menjadi menu paling sering. Menurut keterangan nenek, YBS dikenal sebagai anak pendiam dan penurut. Ia tak pernah menunjukkan perilaku aneh. Keluhannya hanya sederhana, buku tulis dan pulpen untuk sekolah.
"Kami selalu berusaha penuhi, semampu kami," tutur sang nenek lirih.
Saat ditemukan, korban tampak mengenakan baju olahraga berwarna merah. Warga juga menemukan sebuah pesan tertulis yang ditujukan kepada sang ibunda. Pesan itu ditulis pada sebuah kertas berwarna putih dalam bahasa daerah setempat.
"Surat untuk mama Reti," tulis YBS di awal surat tersebut.
"Mama terlalu kikir, Mama baik sudah, saya kalau mati jangan sampai menangis ee mama. Mama, saya kalau mati jangan menangis dan cari saya ee. Mama sudah baik," tulisnya.
Tamparan Keras untuk Negara
Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani (Ari) meminta negara tidak membiarkan anak-anak memikul beban hidupnya sendirian. Ari menegaskan, pemenuhan kebutuhan belajar harus ditanggung negara.
Hal tersebut Ari sampaikan dalam merespons peristiwa anak SD berumur 10 tahun yang meninggal bunuh diri di Ngada, NTT, diduga karena tak mampu membeli pena dan buku.
"Jangan biarkan anak-anak memikul beban hidup sendirian, apalagi hal ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan belajarnya yang seharusnya ditanggung negara," kata Ari, dikutip dari Kompas, Rabu (4/2/2026).
Ari menyampaikan, kasus meninggalnya anak SD di NTT ini sangat memilukan, dan harus jadi alarm keras bagi semua pihak. Menurutnya, jika benar ada motif ekonomi, itu menunjukkan negara belum sepenuhnya hadir melindungi anak dari tekanan kemiskinan yang berdampak pada mental dan keberlangsungan pendidikan.
"Ke depan, negara wajib memperkuat jaring pengaman sosial di sekolah, memastikan tidak ada anak yang merasa terbebani karena kemiskinan," ucap dia.
Di saat yang sama, Ari mendesak orangtua, keluarga, dan lingkungan terdekat harus lebih peka terhadap kondisi mental anak.
"Tidak menganggap remeh keluhan kecil, dan aktif memberi dukungan emosional," tandas Ari. (*)
Artikel Asli




