Siswa di Ngada Bunuh Diri Gegara Tak Punya Buku, Legislator NTT: Memilukan Hati

jpnn.com
1 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Anggota DPR RI dari Dapil I Nusa Tenggara Timur Andreas Hugo Pareira mengaku sedih mendengar kabar YBS, seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, melakukan aksi bunuh diri yang diduga dipicu ketidakmampuan keluarga memenuhi permintaan korban membeli buku dan alat tulis.

"Sangat memilukan semua kita yang mempunyai hati," kata dia melalui layanan pesan, Rabu (4/2).

BACA JUGA: Siswa SD di NTT Bunuh Diri Gegara Tak Punya Buku dan Pena

Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI itu menyebut kepolisian setempat perlu menyelidiki secara pasti penyebab anak bunuh diri.

Selain itu, Andreas mengatakan pihak pemda perlu menangani persoalan keluarga si anak agar penyebab bunuh diri diketahui secara utuh. 

BACA JUGA: Polisi Buru Penyebar Hoaks Bom Bunuh Diri di Bandara Hang Nadim

"Bagaimanapun peristiwa ini merupakan tamparan untuk kita sebagai masyarakat ketika seorang bocah yang meninggal tragis karena putus asa, hilangnya perhatian, hilangnya kasih sayang dari keluarga, dari masyarakat," ujar dia.

Andreas mengatakan tanggung jawab sosial rakyat seharusnya tergugah menyikapi kabar anak di Ngada bunuh diri.

BACA JUGA: Legislator PDIP: Bunuh Diri Anak SD di Ngada Tamparan Keras bagi Negara

"Tanggung jawab sosial kita seharusnya terusik untuk menjadi tumpuan menyelamatkan generasi anak-anak ini untuk tumbuh dewasa, menjadi manusia yang kemudian berguna masyarakatnya," ujar dia.

Sebelumnya, seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya.

Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:

Surat buat Mama

Mama saya pergi dulu

Mama relakan saya pergi

Jangan menangis ya Mama

Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya

Selamat tinggal Mama

Korban diketahui tinggal bersama neneknya, karena ibundanya, yang merupakan orang tua tunggal, bekerja sebagai petani dan kerja serabutan. Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban. (ast/jpnn)


Redaktur : M. Adil Syarif
Reporter : Aristo Setiawan


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Cacahan Kertas Diduga Uang Rp 50.000 hingga Rp 100.000 Berserakan di TPS Liar Bekasi
• 18 jam lalukompas.com
thumb
Wamendagri Ribka Tegaskan Kemendagri Dukung Digitalisasi Penyaluran Bansos
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Kronologi Dugaan Manipulasi Pasar Modal yang Bikin Dua Petinggi PT Narada Aset Manajemen jadi Tersangka
• 17 jam laluliputan6.com
thumb
Miris, Tak Cukup Anggaran Jembatan di Sangalla Tana Toraja Tak Lanjut Dikerjakan
• 42 menit laluharianfajar
thumb
Ariya EV 2026: Mobil Listrik Nissan dengan Antarmuka Google Built-in
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.