FAJAR, TORAJA — Pengerjaan proyek jembatan penghubung antar desa di wilayah Sangalla, Tana Toraja, Sulsel, tak dilanjutkan.
Tahun 2024, pemerintah mengalokasikan dana Rp200 juta untuk pengerjaan tahap awal. Tahun 2025 kembali dianggarkan melalui dana perubahan sebesar Rp150 juta.
Setelah peninjauan konsultan, dana itu dinilai tidak cukup. Hal ini disampaikan oleh PLT Kadis PUPR Tana Toraja, Anti, saat dihubungi Harian Fajar, pada Rabu siang, 4 Februari, via ponsel.
“Berhubung keterbatasan anggaran, maka untuk tahun anggaran 2026 ini, kami (PUPR Tana Toraja) belum menganggarkan pembangunan jembatan tersebut,” ucapnya.
Padahal sebelumnya, warga di sekitar jembatan tersebut sudah sangat bahagia mendengar adanya penganggaran kembali pembangunan jembatan tersebut.
Namun janji tinggal janji, ternyata proyek tersebut tak dilanjutkan.
Andarias (20), salah satu pemuda setempat menyampaikan kekecewaannya.
“Saya kecewa saya kira jembatan tersebut tetap dilanjut, nyatanya tidak,” ucapnya.
Ia juga heran setiap pemaparan Pemkab Tana Toraja, selalu Pendapatan Asli Daerah (PAD) cukup tinggi dan lebih dari target.
“Ini kan selalu katanya Pemkab tinggi capaian masa pembangunan infrastruktur di beberapa wilayah termasuk di sini alasannya tak ada anggaran, dan lain sebagainya kan aneh juga ya,” tuturnya.
Diketahui bahwa Jembatan Sura (Tete Sura) yang menghubungkan Kelurahan Buntu Masakke, Kecamatan Sangalla, dan Lembang Rantelakbi Kambisa, Kecamatan Sangalla Utara, Tana Toraja. Dan beberapa desa di sekitar wilayah tersebut. (edy)




