EtIndonesia. Pada zaman dahulu, hiduplah seorang biksu. Suatu hari dia mendengar bahwa desa tempat dia tinggal diserbu dan dijarah oleh para perampok. Mengingat selama ini penduduk desa telah banyak membantunya, sang biksu pun tergerak untuk menyelamatkan mereka. Dia memutuskan pergi seorang diri ke markas para perampok. Namun, setibanya di sana, dia justru ditangkap.
Ketika para perampok hendak memenggal kepalanya, sang biksu berkata dengan tenang: “Kalian boleh membunuhku, tetapi setidaknya biarkan aku makan sampai kenyang dulu. Jika seorang biksu mati tanpa ada yang mendoakan, dia akan menjadi arwah kesepian.”
Para perampok berpikir, toh dia tidak akan selamat juga. Maka mereka membawa banyak makanan—ayam, bebek, ikan, dan daging—kepada sang biksu. Tanpa ragu dan tanpa memilih-milih, sang biksu memakan semuanya hingga habis.
Para perampok justru merasa senang dan tertawa puas. Dalam hati mereka berpikir : “Kami ini perampok, orang jahat. Tak disangka biksu ini juga biksu yang ‘jahat’!”
Setelah selesai makan, sang biksu kembali meminta : “Sekarang aku memang tidak akan mati kelaparan, tetapi setelah mati tetap tidak ada yang akan berdoa untukku. Tolong siapkan kertas, tinta, dan alat tulis. Aku akan menulis doa pemakamanku sendiri dan membacanya.”
Para perampok merasa ini akan menjadi tontonan menarik, maka mereka menuruti permintaannya.
Setelah selesai membaca doa pemakamannya, sang biksu berkata : “Sekarang kalian boleh membunuhku.”
Namun para perampok justru berkata: “Kamu ini lucu sekali. Kami tidak ingin membunuhmu.”
Melihat kesempatan itu, sang biksu berkata : “Jika kalian tidak membunuhku, ada satu syarat—kalian harus menjadi muridku.”
Tak disangka, semua perampok dengan gembira bersedia menjadi muridnya. Sejak saat itu, bencana di desa pun mereda.
Biksu ini berhasil karena dia menggunakan sebuah kebijaksanaan besar: tidak melekat.
Seandainya dia kaku memegang aturan dan prinsip tanpa kelenturan, dia tak akan mampu menyelamatkan siapa pun.
Sesungguhnya, kita sering kali terlalu melekat pada banyak hal—apa pun selalu ingin kita genggam erat.
Ketenaran, harta, keinginan… bahkan rasa sakit pun tidak kita lepaskan, hingga akhirnya rasa “sakit” itu berubah menjadi “penderitaan”.
Pada zaman kuno pula, ada seorang jenderal yang sangat piawai berperang dan tak terkalahkan. Dia sangat menyukai barang-barang antik.
Suatu hari, dia sedang memainkan cangkir porselen kesayangannya di rumah. Tiba-tiba, karena kurang hati-hati, cangkir itu terlepas dari tangannya. Untungnya, sang jenderal sangat gesit dan berhasil menangkapnya tepat waktu.
Namun peristiwa itu membuatnya berkeringat dingin.
Dia berpikir : “Aku memimpin jutaan pasukan, keluar-masuk medan perang, hidup dan mati sudah kulalui, tak pernah merasa takut. Mengapa hari ini hanya karena sebuah cangkir kecil aku bisa ketakutan seperti ini?”
Dalam sekejap, dia pun tersadar.
Ternyata, dia telah “dikendalikan oleh cangkir itu”.
Kelekatan terhadap benda itulah yang merusak ketenangan dan kebebasan batinnya.
Penulis Melanie Beattie dalam bukunya Codependent No More mengingatkan : “Apa pun yang ingin kita kendalikan, justru akan mengendalikan hidup kita.”
Ketika kita belajar melepaskan kelekatan—tidak lagi menggenggam terlalu erat, juga tidak mati-matian melawan—hidup akan mulai mengalir dengan lebih ringan.
Lepaskan kelekatan di setiap momen, maka pintu hati akan terbuka dengan sendirinya.
Hikmah Cerita
Kelekatan ibarat pedang bermata dua. Ia bisa membawa seseorang menuju kesuksesan, tetapi juga bisa menyeretnya ke jurang kegagalan.
Belajar, menambah pengetahuan, dan menumbuhkan kebijaksanaan sejatinya adalah proses untuk memahami satu hal penting: kapan harus bertahan dengan kelekatan, dan kapan harus berani melepaskan.
Karena tidak semua hal perlu digenggam sampai akhir— ada kalanya, melepaskan justru adalah bentuk kebijaksanaan tertinggi. (jhn/yn)




