Gubernur NTT Akui Gagal Deteksi Dini Kasus Siswa SD Bunuh Diri di Ngada

metrotvnews.com
6 jam lalu
Cover Berita

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, menyampaikan pengakuan terbuka terkait tragedi bunuh diri yang menimpa seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBR (10) di Kabupaten Ngada. Melki mengakui bahwa pemerintah daerah dan seluruh pranata sosial telah gagal mendeteksi dini tekanan hidup yang dialami warganya hingga berujung fatal.

Peristiwa memilukan ini diduga dipicu oleh kemiskinan ekstrem, di mana korban merasa tertekan karena tidak mampu membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp10.000.

"Saya tidak malu mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi NTT, Pemkab Ngada, sampai tingkat desa, kami gagal. Pranata pendidikan gagal, pranata sosial gagal, agama dan adat juga gagal. Semua kami gagal sampai ada yang harus meninggal seperti ini," ujar Melki Laka Lena dalam program Primetime News Metro TV, Rabu 4 Februari 2026. 
  Baca juga:
Kisah Pilu Bocah SD di Ngada Akhiri Hidup Karena Tak Mampu Beli Buku-Pena
Menurut Melki, kasus ini menjadi tamparan keras bagi seluruh elemen di NTT. Ia menilai tragedi ini bukan semata-mata soal ketidakmampuan membeli perlengkapan sekolah, melainkan hilangnya kepekaan sosial di tengah masyarakat untuk saling menyapa dan mengetahui kondisi tetangga yang kesulitan.

"Ketika semua tidak bisa mendeteksi kejadian seperti ini, berarti ada yang salah dalam kemanusiaan kita. Masa ada seorang anak manusia meninggal hanya karena urusan seperti ini?" tambahnya dengan nada prihatin.

Kendala Administrasi Bantuan Sosial

Terkait isu bahwa keluarga korban luput dari bantuan pemerintah, Melki meluruskan bahwa keluarga tersebut sebenarnya terdaftar sebagai penerima bantuan sosial (Bansos). Namun, penyaluran bantuan terkendala masalah administrasi kependudukan karena keluarga korban baru saja pindah domisili dari Kecamatan Nangaroro ke Jerebu, Kabupaten Ngada.

"Ada perpindahan lokasi tempat tinggal yang secara aturan administrasi harus diurus untuk tetap bisa mendapatkan dukungan. Ini menjadi PR bagi kami untuk memperbaiki urusan administrasi agar lebih sederhana, sehingga kasus seperti ini bisa tertangani," jelas Melki.

Tekanan Berlapis Kemiskinan

Sementara itu, Psikolog Anak dan Keluarga, Sani Budiantini, menjelaskan bahwa anak yang hidup dalam kemiskinan ekstrem seringkali mengalami tekanan psikologis berlapis. Selain rasa lapar, mereka juga mengalami pengabaian emosional karena orang tua atau pengasuh lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar perut dibandingkan kondisi mental anak.

"Di keluarga miskin, prioritasnya adalah kebutuhan dasar hidup. Emosi anak sering terabaikan. Anak merasa rendah diri, tidak punya masa depan, dan berpikir jika ia hilang maka beban keluarga akan berkurang. Ini adalah cry for help yang gagal ditangkap oleh lingkungan," ungkap Sani.

Ke depan, Gubernur Melki berjanji akan melakukan perbaikan menyeluruh, terutama terkait validitas data kemiskinan agar tidak ada lagi manipulasi data yang menyebabkan bantuan salah sasaran.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan untuk menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda merasakan gejala depresi atau memiliki pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan masalah Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, atau klinik kesehatan mental terdekat.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ibu Hilang Usai Kloset Amblas: Bahaya Rumah di Bantaran Sungai, Mesti Direlokasi
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Rebutan Anak, Inara Rusli Ancam Seret Virgoun ke Hukum
• 9 jam lalugenpi.co
thumb
Kapolri Takziah ke Rumah Duka Meriyati Hoegeng atau Eyang Meri Hoegeng Imam Santoso
• 15 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Bareskrim Polri Geledah Kantor Sekuritas Terkait Dugaan Saham Gorengan di SCBD, Ini Temuannya!
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Kemensos-BGN Matangkan Program MBG Lansia dan Disabilitas
• 18 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.