Abu Dhabi, VIVA – Pertemuan antara Presiden Kelima RI, Megawati Soekarnoputri, dengan Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled Bin Mohamed Bin Zayed Al Nahyan, tidak hanya membahas isu teknologi dan lingkungan.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Istana Kepresidenan Qasr Al Watan, Abu Dhabi, UEA, pada Rabu 4 Februari waktu setempat, Megawati juga membawa pesan ideologis yang kuat mengenai falsafah bangsa Indonesia.
Ketua DPP PDI Perjuangan bidang Agama (non-aktif) sekaligus Duta Besar RI untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, yang mendampingi Megawati, menuturkan bahwa Putri Bung Karno tersebut secara khusus mengenalkan Pancasila kepada Putra Mahkota.
"Dalam pertemuan, Ibu Megawati mengenalkan Indonesia sebagai negara yang mempunyai landasan falsafah yang kokoh, yaitu Pancasila. Beliau menjelaskan bahwa falsafah ini digali langsung oleh Bung Karno dari khazanah pemikiran dan kebudayaan Nusantara," ujar Zuhairi.
Megawati menekankan kepada Pangeran Sheikh Khaled bahwa Pancasila telah terbukti ampuh mempersatukan warga Indonesia yang sangat majemuk, baik dari segi agama, suku, maupun bahasa.
Menurut Megawati, nilai-nilai universal yang terkandung dalam Pancasila memiliki kesamaan napas dengan visi global yang diusung oleh Uni Emirat Arab (UAE).
"Falsafah Pancasila ini sejalan dengan visi dan misi Zayed Award for Human Fraternity (Penghargaan Zayed untuk Persaudaraan Manusia)," lanjut Zuhairi menyampaikan poin pembicaraan Megawati.
Dalam pertemuan hangat tersebut, Megawati juga bernostalgia mengenai peran strategisnya dalam Zayed Award for Human Fraternity.
Megawati mengungkapkan rasa bangganya pernah dipercaya menjadi salah satu dewan juri penghargaan bergengsi tersebut pada tahun 2024.
"Ibu Megawati sangat senang dan bangga saat itu ditunjuk langsung oleh Imam Besar Al-Azhar, Mesir, untuk mewakili umat Islam dan kalangan perempuan sebagai juri," ungkap Zuhairi.
Kebanggaan Megawati semakin lengkap karena pada tahun yang sama, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, terpilih menjadi pemenang Zayed Award for Human Fraternity. Momen tersebut dianggap sebagai tonggak sejarah pengakuan dunia terhadap wajah Islam Indonesia yang moderat dan damai.
Zuhairi menambahkan, penghargaan dan keterlibatan tokoh bangsa dalam ajang internasional tersebut memiliki dampak diplomatik yang signifikan.




