Israel terus melanggar kesepakatan gencatan senjata. Israel terus menerus menyerang warga Gaza hingga 23 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata itu dimulai pada Oktober lalu.
Dilansir Aljazeera, Kamis (5/2/2026), korban di antaranya adalah anak-anak. Sedikitnya 14 orang tewas dalam serangan Israel di lingkungan Tuffah dah Zeitoun di Kota Gaza.
Kemudian empat orang lainnya dilaporkan tewas dalam serangan terhadap tenda-tenda yang menampung pengungsi di daerah Qizan Abu Rashwan, selatan Khan Younis, di Gaza selatan.
Dua orang lainnya tewas akibat serangan udara Israel di kamp tenda pesisir al-Mawasi. Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan salah satu korban adalah petugas pertolongan pertama Hussein Hasan Hussein al-Sumairy.
Wartawan Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, mengatakan sejumlah rumah penduduk di Kota Gaza "telah menjadi sasaran langsung tanpa peringatan sebelumnya".
Abu Azzoum mengatakan serangan-serangan tersebut, yang terjadi meskipun "gencatan senjata" yang dimediasi Amerika Serikat seharusnya telah berlaku, telah membuat warga Palestina di Gaza "tanpa rasa lega sama sekali".
"Terjadi peningkatan aktivitas militer Israel di Gaza dalam beberapa jam terakhir," katanya.
"Kita dapat mendengar suara drone Israel yang melayang di atas kepala, yang menandakan potensi serangan lebih lanjut yang mungkin terjadi," imbuhnya.
Militer Israel mengatakan unit lapis baja dan pesawatnya melakukan serangan di Gaza utara setelah seorang perwira cadangan terkena tembakan dan terluka parah.
Dikatakan bahwa perwira tersebut dievakuasi ke rumah sakit setelah insiden tersebut, yang terjadi "selama aktivitas operasional rutin" di dekat "garis kuning" yang membatasi wilayah di bawah kendali militer Israel.
Abu Azzoum mengatakan Israel memindahkan lokasi "garis kuning" di Gaza timur, yang menyebabkan kecemasan bagi penduduk di sana.
(zap/yld)





