Menjelang Dimulainya Putaran Terbaru Pembicaraan Trilateral, Rusia Serang Ukraina dengan 71 Rudal dan 450 Drone

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

Etindonesia. Sehari sebelum Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina dijadwalkan menggelar putaran kedua perundingan tiga pihak, Rusia melancarkan serangan rudal dan drone terbesar tahun ini terhadap Ukraina. Hanya dalam semalam, ribuan warga Kyiv kehilangan pemanas di tengah suhu ekstrem di bawah minus 20 derajat Celsius. 

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin kembali mengingkari janji. Sebelumnya, Putin dikatakan telah berjanji kepada Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan serangan terhadap Ukraina sementara waktu karena gelombang udara dingin yang melanda kawasan tersebut.

Menjelang Perundingan Damai Baru

Rusia Luncurkan 71 Rudal dan 450 Drone, Menggempur Ukraina

Dari Senin (2 Februari) malam hingga Selasa (3 Februari) dini hari, ketenangan singkat di Kyiv mendadak pecah. Rusia melancarkan serangan udara terbesar musim dingin ini terhadap Ukraina, dengan menembakkan 71 rudal, termasuk 32 rudal balistik (jumlah tertinggi yang pernah tercatat), 28 rudal jelajah, serta mengerahkan 450 drone tempur.

Serangan tersebut memicu kebakaran di gedung-gedung tinggi dan menyebabkan puluhan korban tewas dan luka-luka di seluruh negeri. 

Selain Kyiv, infrastruktur energi di berbagai wilayah Ukraina juga menjadi sasaran, termasuk Sumy di utara, Kharkiv di timur laut, Dnipro di wilayah tengah, serta Odesa di selatan. Kondisi ini membuat pekerjaan perbaikan fasilitas yang sudah sulit menjadi semakin berat.

Serangan ini menyebabkan 1.170 gedung apartemen di Kyiv lumpuh sistem pemanasnya, sementara di Odesa sekitar 50.000 orang mengalami pemadaman listrik, di saat suhu udara di Ukraina telah turun hingga minus 20 derajat Celsius.

Warga Ukraina, Hlobenko, mengatakan: “Menurut kalian, di mana sebenarnya perundingan itu? Mereka (Rusia) mengklaim setuju untuk berunding, bahkan setuju pada suatu bentuk gencatan senjata. Lalu, di mana gencatan senjatanya? Di mana?”

Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina akan menerapkan gencatan senjata selama seminggu. Moskow sebelumnya menyatakan bahwa gencatan senjata berakhir pada hari Minggu lalu, sementara Kyiv menuduh Rusia telah melanggar komitmennya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan: “Faktanya, keputusan gencatan senjata mulai berlaku sejak Jumat malam lalu. Namun malam ini (serangan udara terjadi), kami menilai Rusia telah mengingkari janji mereka.”

Zelensky mengecam Rusia karena menyetujui usulan gencatan senjata sementara dari Amerika Serikat bukan untuk mendukung upaya diplomasi, melainkan untuk memanfaatkan periode paling dingin dalam setahun guna menimbun rudal, dengan tujuan tetap melanjutkan perang.

Juru bicara Gedung Putih Leavitt mengatakan: “Saya berbicara dengan Presiden (Trump) pagi ini mengenai serangan tersebut. Reaksinya adalah sangat menyesalkan, namun tidak merasa terkejut.”

Serangan besar Rusia ini terjadi tepat sehari sebelum putaran kedua perundingan tiga pihak antara Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina. Para analis menilai, langkah ini merupakan sinyal politik dari Moskow untuk menunjukkan sikap keras menjelang meja perundingan.

Sekjen NATO Kunjungi Kyiv di Tengah Dentuman Senjata

Meragukan Ketulusan Gencatan Senjata Moskow

Pada hari Selasa, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengunjungi Kyiv dan bersama Zelensky mengheningkan cipta bagi para prajurit yang gugur, di tengah bunyi sirene serangan udara. Ia juga meninjau langsung pembangkit listrik Kyiv yang diserang pasukan Rusia.

Rutte menyatakan bahwa pencapaian kesepakatan damai berarti harus membuat pilihan-pilihan yang sulit.

Sekjen NATO Mark Rutte mengatakan: “Kesepakatan ini harus dapat diterima oleh semua pihak, terutama oleh Ukraina — ini tidak diragukan lagi. Namun tentu saja, hal ini menimbulkan pertanyaan apakah Rusia benar-benar memiliki ketulusan untuk mencari perdamaian. Semoga mereka memang serius.”

Rutte juga menyebutkan bahwa ia yakin negara-negara anggota NATO pada tahun 2026 dapat menyediakan 15 miliar dolar AS bagi Ukraina, melalui mekanisme Daftar Kebutuhan Prioritas Ukraina (PURL), untuk membeli senjata buatan Amerika Serikat.

Selain itu, kedua pihak juga membahas isu yang sangat krusial, yaitu jaminan keamanan Ukraina pascaperang.

Zelensky menegaskan: “Yang paling penting adalah, jika Rusia kembali menyerang kami, apa yang siap dilakukan oleh Eropa, apa yang dapat dilakukan Amerika Serikat, dan bagaimana kesiapan mereka untuk bertindak.”

Harian Inggris Financial Times pada hari Selasa mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut, menyebutkan bahwa Ukraina telah mencapai kesepahaman dengan negara-negara Barat. Jika Rusia melanggar aturan dalam perjanjian gencatan senjata apa pun di masa depan, hal itu dapat memicu respons militer bertingkat dan terkoordinasi antara Ukraina, Eropa, dan Amerika Serikat.

Reporter New Tang Dynasty Television, Yi Jing, laporan gabungan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Anak SD di NTT Bunuh Diri, Ada Fenomena Lebih Gelap dari Sekadar Tidak Punya Uang
• 5 jam lalukompas.id
thumb
Chris Hemsworth Akui Pernah Kejar Penghargaan dan Bayaran Besar, Kini Lebih Pilih Waktu Bersama Keluarga
• 44 menit lalutabloidbintang.com
thumb
Megawati Bertemu Putra Mahkota Abu Dhabi, Bahas Palestina dan Perkuat Hubungan Diplomatik
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Mulai Saat Ini Ada Aturan Pemasangan Atribut Parpol di DKI
• 3 jam lalujpnn.com
thumb
BEI Utamakan 49 Emiten Big Caps Penuhi Free Float 15%
• 20 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.