Soal Gentengisasi Prabowo, Tukang Ungkap Kelebihan dan Kekurangan Genteng untuk Atap

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Prabowo Subianto menyerukan gagasan “gentengisasi” sebagai gerakan nasional untuk mengganti atap bangunan di Indonesia dari material seng menjadi genteng.

Sehubungan dengan hal itu, Ari (47), seorang mandor bangunan di Jakarta Utara, mengungkapkan bahwa ada kelebihan dan kekurangan dalam penggunaan genteng sebagai atap bangunan.

Ia mengatakan bahwa masyarakat selama ini lebih banyak memilih asbes untuk atap rumahnya karena proses pemasangannya jauh lebih cepat dibandingkan genteng.

Baca juga: Cekcok Penumpang dan Petugas Transjakarta: Kita 2 Jam Nunggu, Banyakin Unitnya!

“Kalau orang milih yang mau pakai asbes karena sangat ringkas, kerjanya sangat singkat, cepat. Kalau pakai genteng agak lama,” ujarnya saat ditemui Kompas.com, Kamis (5/2/2026).

Ari yang telah bekerja sebagai tukang sejak 1988 ini menjelaskan, faktor biaya dan efisiensi pengerjaan menjadi alasan utama masyarakat beralih ke material lain untuk atap rumahnya.

“Mulai tahun 2000-an orang beralih. Praktis aja, cepat. Kalau lama-lama kan bayar tukangnya nambah,” katanya.

Menurut dia, pemasangan genteng membutuhkan tenaga dan waktu lebih panjang karena jumlah material yang digunakan lebih banyak.

"Masang genteng kalau tergantung pekerjaannya ya, kalau pekerjanya empat orang ya satu hari juga kelar. Asbes mah setengah hari juga kelar. Lebih cepat karena dia kan lebar-lebar. Tinggal pasang-pasang," ungkapnya.

Selain asbes, Ari menyebut warga juga mulai beralih ke material lain untuk atap rumah, salah satunya alderon yang dinilai lebih kuat meski memiliki harga lebih mahal.

Baca juga: Sudah 5 Hari, Kantor BPJS Kesehatan Depok Dipadati Warga Usai PBI Dinonaktifkan

“Alderon kuat, diinjek-injek kuat dia. Tapi harganya juga tinggi, bisa sekitar Rp 600.000 per lembar,” ujar dia.

Meski kalah praktis, Ari menilai genteng memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan asbes, terutama dari sisi kenyamanan suhu ruangan.

Selain itu, genteng juga dinilai lebih aman saat dilakukan perawatan atap. Menurut Ari, genteng masih memungkinkan untuk diinjak saat perbaikan, berbeda dengan asbes yang lebih berisiko.

"Kalau asbes kan terlalu riskan. Jaraknya jauh, kalau dia udah rapuh jeblos," tuturnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ari menilai warga sebenarnya masih memiliki minat menggunakan genteng, terutama jika harga material dan biaya pemasangan dapat lebih terjangkau.

“Mungkin kalau harganya terjangkau bisa berubah lagi. Orang juga masih berharap pakai genteng,” tambahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gegara Materi Stand Up Comedy Soal Tentara, Komedian Dihukum Penjara Enam Tahun!
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Jurnalis dari 30 Media Ikuti UKW di LKBN ANTARA, Perkuat Etika dan Profesionalisme
• 1 jam lalumerahputih.com
thumb
Mendag Ungkap Jurus RI Genjot Perdagangan di Tengah Tantangan Geopolitik
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
Siapa Tim Bertahan Terkuat di Haikyuu!!? Ternyata Bukan SMA Nekoma
• 17 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Saham PADI dan KOCI Keluar dari Papan FCA Besok
• 21 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.