Dalam kebijakan-kebijakannya—baik di periode kepresidenan pertamanya maupun saat ini—Presiden Donald Trump dikenal menerapkan strategi short-term win: kemenangan cepat yang diproyeksikan sebagai keberhasilan besar, meskipun memiliki dampak yang kompleks dalam jangka panjang.
Pendekatan ini menonjol pada kebijakan yang menekankan hasil segera untuk meningkatkan posisi tawar AS, baik di mata domestik maupun internasional, terutama melalui tekanan militer dan diplomasi simbolik.
Strategi semacam ini—seperti dianalisis oleh Aljazeera—sering dikaitkan dengan madman theory pada era Presiden Richard Nixon, yaitu taktik menciptakan ketidakpastian untuk memaksa lawan bernegosiasi dalam situasi mendesak.
Serangan ke Suriah: Demonstrasi Kekuasaan InstanSalah satu contoh paling jelas dari short-term win terjadi pada 7 April 2017, ketika AS meluncurkan 59 rudal Tomahawk ke Pangkalan Udara Shayrat di Suriah sebagai respons atas dugaan serangan senjata kimia. Serangan ini dimaksudkan untuk menampilkan ketegasan kekuatan militer AS, meskipun tidak mengubah secara substansial dinamika konflik yang lebih luas.
Strategi Tekanan Maksimum terhadap IranDalam kaitannya dengan situasi di Iran, Trump memperkuat pendekatan "tekanan maksimum" melalui mobilisasi militer besar di Timur Tengah sebagai bagian dari upaya memaksa Teheran kembali ke meja perundingan nuklir.
Seperti dimuat oleh kumparan, Trump menyatakan bahwa armada militer AS—termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln—sedang bergerak ke wilayah tersebut untuk mendorong kesepakatan yang menghambat ambisi nuklir Iran.
Namun, respons Iran tetap tegas: pemimpin tertinggi Iran memperingatkan bahwa setiap serangan militer bisa memicu perang regional yang lebih luas.
Selain itu, Iran menegaskan bahwa negosiasi hanya dapat dilakukan dengan syarat setara tanpa ancaman. Meskipun demikian, tidak adanya mobilisasi militer balasan—baik dari Iran maupun negara-negara sekutunya (yang tentunya dapat berujung pada konflik bersenjata terbuka)—membuat situasi yang ada seakan menjadi "kemenangan" bagi Amerika Serikat, yang semakin menegaskan kecenderungan Trump untuk mendapatkan short-term win.
Board of Peace: "Inovasi" Diplomasi di Luar Jalur KonvensionalSelanjutnya, Trump meluncurkan Board of Peace pada 22 Januari 2026 di World Economic Forum, Davos, sebagai inisiatif yang diposisikan untuk memperkuat gencatan senjata dan rekonstruksi, terutama terkait konflik Gaza.
Seperti dimuat ANTARA News, Indonesia secara resmi menandatangani piagam Board of Peace bersama beberapa negara lain. Namun, respons internasional tidak seragam.
Beberapa negara, termasuk Selandia Baru, menolak undangan bergabung dengan Board of Peace dalam bentuknya saat ini, seraya menyerukan agar mandatnya selaras dengan Piagam PBB.
Kritik lain—seperti yang dimuat oleh kumparan—menyebut bahwa Board ini dinilai berpotensi menyaingi otoritas Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam urusan perdamaian global, sehingga menjadi simbol upaya quick diplomacy yang sejalan dengan short-term win ala Trump yang mengedepankan hasil cepat daripada konsensus panjang.
Kunjungan ke Tiongkok: Pencapaian Diplomasi SimbolikHal yang menarik, terlepas dari aksi-aksinya dan dari sentimen negatif yang selalu ditunjukkan Trump terhadap Tiongkok, Trump justru dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Beijing pada April 2026, setelah menerima undangan dari Presiden China Xi Jinping.
Dalam rilis ANTARA News, kunjungan ini direncanakan sebagai bagian dari pembicaraan bilateral luas mengenai perdagangan, pertanian, dan isu strategis lain antara dua kekuatan ekonomi global terbesar.
Langkah semacam ini dapat dipandang sebagai short-term diplomatic win yang memberi momentum naratif keberhasilan diplomasi cepat di arena global, tanpa merombak struktur hubungan strategis yang lebih kompleks, sekaligus menunjukkan bahwa seolah Tiongkok masih "membutuhkan" Amerika Serikat, bahkan di tengah perang dagang.
Implikasi Global dari Short-Term Win ala TrumpSecara keseluruhan, pola short-term win dalam politik luar negeri Trump saat ini sangat dipengaruhi oleh kepentingan domestik dan proyeksi kekuatan Amerika Serikat ke dunia internasional.
Strategi ini efektif membangun headline dan memberi kesan ketegasan, tetapi juga menimbulkan kecemasan di kalangan aktor internasional dan bahkan sekutu tradisional Amerika Serikat sendiri yang lebih menyukai diplomasi konvensional.
Bahkan, seperti dirilis oleh AP News, negara-negara Arab—yang menjadi sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah—menyerukan restriksi terkait pola politik luar negeri dengan gaya Trump saat ini demi pengamanan konflik supaya tidak merembet lebih luas, serta memperingatkan bahwa eskalasi dari konflik yang ada bisa mengguncang stabilitas regional dan pasar energi global.
Singkatnya, short-term win ala Donald Trump adalah strategi politik luar negeri yang memberi hasil langsung di beberapa isu geopolitik, tetapi meninggalkan tantangan besar dalam hal stabilitas jangka panjang dan hubungan multilateral.
Pendekatan semacam ini memperlihatkan perubahan signifikan dalam kebijakan politik luar negeri dan tradisi diplomasi AS yang dahulu (pernah) lebih mengedepankan kerja sama multilateral yang formal dan konvensional.





