FAJAR, KUPANG – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, mengeluarkan ancaman keras. Bakal mempidanakan aparaturnya yang terbukti lalai menjalankan tugas hingga menyebabkan warga meninggal akibat kemiskinan ekstrem.
Peringatan tegas ini merupakan buntut dari tragedi memilukan YBS (10), seorang siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada yang nekat bunuh diri. Dia diduga depresi, karena tidak mampu membeli buku tulis dan pena.
Berbicara dalam peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa di Kupang, Rabu (4/2), Melkiades Laka Lena tidak mampu menyembunyikan rasa marah sekaligus malunya. Ia menegaskan bahwa di bawah kepemimpinannya, nyawa warga tidak boleh melayang hanya karena masalah ekonomi yang seharusnya bisa diatasi oleh negara.
“Jangan ada lagi model-model begini. Besok ada lagi model begini saya tuntut orang-orangnya,” tegas Melkiades dalam sambutannya.
Politikus Partai Golkar ini menambahkan bahwa tanggung jawab hukum ini berlaku secara adil, termasuk bagi dirinya sendiri. Ia merasa geram karena dana bantuan sosial yang mengalir ke NTT mencapai angka triliunan rupiah, namun jaring pengaman sosial tersebut justru jebol di tingkat akar rumput.
“Guna apa kita punya perangkat itu PKH, perangkat sosial segala macem. Uang ngalir triliunan untuk orang miskin masih ada yang mati urusan begini. Nggak boleh ini,” cetusnya dengan nada tinggi.
Tragedi Pilu YBS
Peristiwa yang mengguncang Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, ini bermula dari permintaan sederhana seorang anak yatim. Sehari sebelum kejadian, YBS sempat meminta sang ibu membelikan peralatan sekolah. Namun, karena himpitan ekonomi yang sangat berat, permintaan itu tidak dapat dipenuhi.
YBS ditemukan tak bernyawa di sebuah pohon cengkih oleh warga sekitar. Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, mengungkapkan bahwa YBS adalah sosok anak yang rajin dan tidak pernah mengeluh meski hidup dalam serba kekurangan bersama neneknya yang berusia 80 tahun.
“Menurut keterangan tetangga, dia anak yang baik dan rajin sekolah. Tidak ada tanda-tanda yang mencolok bahwa dia menyimpan beban berat,” kata Bernardus mengutip dari Radar Pati.
Surat Wasiat Bahasa Daerah
Kepolisian Polres Ngada yang menangani kasus ini menemukan secarik kertas yang ditulis tangan oleh YBS menggunakan bahasa daerah setempat. Surat tersebut menjadi bukti betapa beratnya beban batin yang dipikul bocah berusia 10 tahun itu.
Adapun isi surat wasiat yang ditinggalkan YBS adalah sebagai berikut: “Mama saya pergi dulu, mama relakan saya pergi, jangan menangis ya mama. Mama saya pergi tidak perlu mama menangis dan mencari atau merindukan saya.”
Menanggapi surat wasiat yang menyayat hati tersebut, Gubernur Melkiades memastikan bahwa kejadian ini harus menjadi yang terakhir di NTT. Ia menginstruksikan evaluasi total dan menyatakan siap mengambil tindakan hukum bagi pejabat atau petugas lapangan yang terbukti abai.
“Agak kaget juga saya. Cukup ini yang terakhir. Besok secara berjenjang bertingkat siapa yang punya tanggung jawab kita eksekusi dia,” pungkasnya. (*)





