Pantau - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres menyerukan Rusia dan Amerika Serikat untuk kembali berdialog guna mencapai kesepakatan pengurangan dan pembatasan senjata nuklir di tengah berakhirnya Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru atau New START.
Seruan tersebut disampaikan menyusul berakhirnya New START yang selama ini menjadi landasan utama pengendalian senjata nuklir antara dua negara pemilik senjata nuklir terbesar di dunia.
Antonio Guterres menegaskan dunia menaruh harapan besar kepada Federasi Rusia dan Amerika Serikat untuk menerjemahkan komitmen politik menjadi tindakan nyata.
Ia mendesak kedua negara agar segera kembali ke meja perundingan dan menyepakati kerangka kerja baru sebagai pengganti perjanjian New START.
Menurut Guterres, kerangka kerja tersebut penting untuk mengembalikan pembatasan yang dapat diverifikasi, mengurangi risiko, serta memperkuat keamanan bersama di tingkat global.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan Rusia berpegang pada posisi bahwa para pihak dalam Perjanjian New START tidak lagi terikat oleh kewajiban dan deklarasi simetris setelah perjanjian tersebut berakhir.
Pada September, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan Rusia siap untuk terus mematuhi pembatasan yang ditetapkan dalam Perjanjian New START selama satu tahun setelah 5 Februari 2026.
Vladimir Putin menjelaskan kepatuhan Rusia terhadap pembatasan tersebut akan berlaku efektif apabila Amerika Serikat melakukan langkah yang sama.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi usulan tersebut dengan menyebutnya sebagai ide yang baik.
Seruan PBB ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap potensi perlombaan senjata nuklir pasca berakhirnya perjanjian antara Rusia dan Amerika Serikat.
PBB menilai dialog dan kerja sama kedua negara sangat krusial untuk menjaga stabilitas serta keamanan internasional.



