Jakarta (ANTARA) - Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman mencatat realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 melampaui ekspektasi pasar, mencerminkan menguatnya permintaan domestik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Kamis, ekonomi domestik pada kuartal IV 2025 tumbuh 5,39 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang sebesar 5,04 persen (yoy).
“Angka ini (kuartal IV 2025) melampaui proyeksi kami sebesar 5,25 persen (yoy) dan konsensus pasar sebesar 5,10 persen (yoy),” kata Faisal dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Lebih lanjut, Faisal mencatat bahwa permintaan domestik yang menguat didukung oleh peningkatan belanja dan mobilitas selama musim libur akhir tahun, kenaikan belanja pemerintah seiring agenda pro-pertumbuhan, serta membaiknya aktivitas investasi.
Adapun secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2025 mencapai 5,11 persen, meningkat dari 5,03 persen (yoy) pada 2024. Faisal menilai capaian ini menandakan tren pertumbuhan yang semakin solid.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan pada kuartal IV 2025 terutama didorong oleh penguatan permintaan domestik, termasuk konsumsi rumah tangga, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan belanja pemerintah.
Konsumsi rumah tangga sebagai komponen terbesar PDB tumbuh lebih cepat sebesar 5,11 persen (yoy), dibandingkan 4,89 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya, kembali ke tingkat pertumbuhan pra-pandemi di atas 5 persen.
PMTB sebagai komponen PDB terbesar kedua meningkat dari 5,04 persen (yoy) menjadi 6,12 persen (yoy), didorong oleh investasi bangunan maupun non-bangunan.
Sementara belanja pemerintah secara keseluruhan melambat dari 5,66 persen (yoy) menjadi 4,55 persen (yoy), terutama karena sebagian kebijakan pro-pertumbuhan pemerintah disalurkan langsung untuk mendorong konsumsi rumah tangga dan aktivitas investasi.
Selanjutnya, kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan PDB menurun seiring melambatnya pertumbuhan ekspor dari 9,14 persen (yoy) menjadi 3,25 persen (yoy).
Hal ini, catat Faisal, mencerminkan normalisasi setelah percepatan ekspor (front-loading) menjelang penerapan tarif resiprokal AS pada Agustus 2025, serta perlambatan ekonomi Tiongkok yang berlanjut.
Sementara itu, pertumbuhan impor menguat dari 0,86 persen (yoy) menjadi 3,96 persen (yoy), sejalan dengan akselerasi PMTB.
Adapun dari sisi sektoral, kontributor utama pertumbuhan pada kuartal IV 2025 tetap berasal dari sektor manufaktur, perdagangan, dan pertanian, seiring menguatnya permintaan domestik.
“Kami memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia akan meningkat pada 2026, meskipun terdapat sejumlah risiko utama yang perlu dicermati,” kata Faisal.
Pada tahun ini, ujar Faisal, risiko utama terhadap prospek ekonomi Indonesia secara umum masih serupa dengan 2025.
Secara keseluruhan, tim ekonom Permata Bank memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia berada pada kisaran 5,1-5,2 persen pada 2026.
Namun, pertumbuhan ekonomi berpotensi meningkat ke kisaran 5,2-5,3 persen apabila tekanan eksternal mereda secara signifikan, kondisi politik domestik membaik dan reformasi struktural mulai menunjukkan hasil, sehingga memperkuat kepercayaan konsumen dan dunia usaha.
Sebaliknya, risiko penurunan (downside risks) berpotensi terjadi apabila pemerintah tidak berhasil menjaga keseimbangan antara agenda pro-pertumbuhan dan upaya mempertahankan stabilitas makroekonomi.
Baca juga: BPS: Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 tertinggi pascapandemi COVID
Baca juga: BPS: Ekonomi RI tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025
Baca juga: Ekonom prediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5,07 persen sepanjang 2025
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Kamis, ekonomi domestik pada kuartal IV 2025 tumbuh 5,39 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang sebesar 5,04 persen (yoy).
“Angka ini (kuartal IV 2025) melampaui proyeksi kami sebesar 5,25 persen (yoy) dan konsensus pasar sebesar 5,10 persen (yoy),” kata Faisal dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Lebih lanjut, Faisal mencatat bahwa permintaan domestik yang menguat didukung oleh peningkatan belanja dan mobilitas selama musim libur akhir tahun, kenaikan belanja pemerintah seiring agenda pro-pertumbuhan, serta membaiknya aktivitas investasi.
Adapun secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2025 mencapai 5,11 persen, meningkat dari 5,03 persen (yoy) pada 2024. Faisal menilai capaian ini menandakan tren pertumbuhan yang semakin solid.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan pada kuartal IV 2025 terutama didorong oleh penguatan permintaan domestik, termasuk konsumsi rumah tangga, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan belanja pemerintah.
Konsumsi rumah tangga sebagai komponen terbesar PDB tumbuh lebih cepat sebesar 5,11 persen (yoy), dibandingkan 4,89 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya, kembali ke tingkat pertumbuhan pra-pandemi di atas 5 persen.
PMTB sebagai komponen PDB terbesar kedua meningkat dari 5,04 persen (yoy) menjadi 6,12 persen (yoy), didorong oleh investasi bangunan maupun non-bangunan.
Sementara belanja pemerintah secara keseluruhan melambat dari 5,66 persen (yoy) menjadi 4,55 persen (yoy), terutama karena sebagian kebijakan pro-pertumbuhan pemerintah disalurkan langsung untuk mendorong konsumsi rumah tangga dan aktivitas investasi.
Selanjutnya, kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan PDB menurun seiring melambatnya pertumbuhan ekspor dari 9,14 persen (yoy) menjadi 3,25 persen (yoy).
Hal ini, catat Faisal, mencerminkan normalisasi setelah percepatan ekspor (front-loading) menjelang penerapan tarif resiprokal AS pada Agustus 2025, serta perlambatan ekonomi Tiongkok yang berlanjut.
Sementara itu, pertumbuhan impor menguat dari 0,86 persen (yoy) menjadi 3,96 persen (yoy), sejalan dengan akselerasi PMTB.
Adapun dari sisi sektoral, kontributor utama pertumbuhan pada kuartal IV 2025 tetap berasal dari sektor manufaktur, perdagangan, dan pertanian, seiring menguatnya permintaan domestik.
“Kami memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia akan meningkat pada 2026, meskipun terdapat sejumlah risiko utama yang perlu dicermati,” kata Faisal.
Pada tahun ini, ujar Faisal, risiko utama terhadap prospek ekonomi Indonesia secara umum masih serupa dengan 2025.
Secara keseluruhan, tim ekonom Permata Bank memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia berada pada kisaran 5,1-5,2 persen pada 2026.
Namun, pertumbuhan ekonomi berpotensi meningkat ke kisaran 5,2-5,3 persen apabila tekanan eksternal mereda secara signifikan, kondisi politik domestik membaik dan reformasi struktural mulai menunjukkan hasil, sehingga memperkuat kepercayaan konsumen dan dunia usaha.
Sebaliknya, risiko penurunan (downside risks) berpotensi terjadi apabila pemerintah tidak berhasil menjaga keseimbangan antara agenda pro-pertumbuhan dan upaya mempertahankan stabilitas makroekonomi.
Baca juga: BPS: Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 tertinggi pascapandemi COVID
Baca juga: BPS: Ekonomi RI tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025
Baca juga: Ekonom prediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5,07 persen sepanjang 2025


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5492136/original/047307100_1770123824-3.jpg)
