Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis antara Amerika Serikat dan Rusia (New Strategic Arms Reduction Treaty/New START ) berakhir hari ini. Perjanjian ini merupakan kelanjutan upaya pengurangan arsenal nuklir kedua negara sejak berakhirnya Perang Dingin, yang masa berlakunya resmi habis hari ini.
Setelah New START berakhir, AS-Rusia belum terlihat bernegosiasi untuk menyusun pakta pembatasan senjata nuklir baru.
Lalu apa dampaknya bagi dunia jika kedua negara tak lagi terikat pakta perjanjian tersebut?
"Untuk pertama kalinya dalam setengah abad terakhir, kita menghadapi dunia tanpa pembatasan senjata nuklir, baik itu dari sisi Rusia atau AS," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Kamis (5/2), dilansir AFP.
Guterres menilai, belakangan ini justru saat paling berbahaya, senjata nuklir harusnya dikendalikan ketat.
"Bubarnya perjanjian terjadi di saat yang paling buruk, saat risiko penggunaan (senjata nuklir) terjadi paling tinggi dalam satu dekade terakhir," kata Guterres.
Sementara Paus Leo XIV berharap para pihak meneruskan pembicaraan untuk menghindarkan dari situasi perlombaan senjata nuklir.
"Saya mendesak kedua negara, untuk tidak meninggalkan perjanjian ini tanpa perjanjian pengganti yang konkret yang efektif," kata Paus Leo.
Sementara itu, Rusia telah menyatakan bahwa tak terikat lagi dengan perjanjian tersebut.
"Rusia tidak lagi terikat dengan kewajiban atau deklarasi yang terkait dengan pakta tersebut. Lalu, Rusia akan bersikap secara tegas, jika keamanan nasional terancam," kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam statementnya.
Sekilas Pengurangan Hulu Ledak NuklirPakta pembatasan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia pertama kali diteken pada 1991, tepat di penghujung Perang Dingin, melalui START I.
Perjanjian ini mengatur pengurangan jumlah hulu ledak nuklir strategis masing-masing negara hingga maksimal 6.000 unit.
Perjanjian ini kemudian diikuti Moscow Treaty (SORT) pada 2002 sebagai masa transisi, dengan target pengurangan hulu ledak ke kisaran 1.700–2.200 unit.
Pada 2010, kedua negara memperbarui kesepakatan tersebut lewat New START, yang membatasi 1.550 hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan.
Dengan berakhirnya New START pada 5 Februari 2026, kini tidak ada lagi perjanjian aktif yang secara hukum membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang disiagakan kedua negara.




