Biang Kerok Pasar Kripto Ambrol, Bitcoin Terjun ke US$70.000

bisnis.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar kripto tengah menghadapi tekanan dari beragam sentimen global. Harga Bitcoin yang sempat menyentuh US$100.000 tahun lalu, terjun bebas ke level US$70.000.

Dalam sepekan, koin-koin big caps kompak ambles. Melansir coinmarketcap pukul 18.44 WIB, harga Bitcoin dalam 7 hari terakhir turun 19,65% ke US$70.465, ETH bahkan terjun 28,57% ke US$2.089, hingga XRP yang terpangkas 26,35% ke US$1,37.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur mengatakan bahwa dalam jangka pendek pasar kripto masih dibayangi sentimen negatif yang berasal dari faktor makroekonomi dan geopolitik global.

"Sikap The Fed yang mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% serta sinyal belum terburu-buru memangkas suku bunga membuat minat investor terhadap aset berisiko tetap terbatas," kata Fyqieh kepada Bisnis, dikutip Kamis (5/2/2026).

Faktor arah moneter The Fed itu menurutnya juga diperparah oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor mengambil posisi defensif dan mengurangi eksposur pada aset kripto. Tekanan tersebut tercermin dari koreksi harga Bitcoin dan ETH dalam 7 hari terakhir.

Kemudian, sentimen negatif lainnya juga datang dari sisi teknikal dan struktur pasar. Dia mencatat dua pekan lalu Bitcoin masih bergerak di bawah rata-rata pergerakan jangka pendek, dengan RSI di level 34,4 yang menandakan tekanan jual masih dominan meskipun mendekati area oversold. Selain itu, likuidasi besar akibat leverage tinggi turut memperdalam koreksi.

Baca Juga

  • Bitcoin Anjlok ke Bawah US$72.000, Krisis Kepercayaan dari Asia Tekan Aset Kripto
  • Kapitalisasi Aset Kripto Bitcoin Cs Susut Rp2.857 Triliun dalam Sepekan, Peran Emas Digital Diragukan
  • Harga Bitcoin Terjun Bebas, Rekor Terendah Sejak Trump Menang Pemilu

Saat pasar dihadapkan dengan sejumlah tantangan, dia melihat masih terdapat beberapa katalis positif yang dapat menopang pasar kripto dalam jangka menengah. Pertama, meredanya tekanan leverage dan stabilisasi harga di area support kunci berpotensi membuka ruang pemulihan secara bertahap.

Kedua, kembalinya minat investor institusional juga menjadi faktor penting. Setelah mencatatkan net outflow sekitar US$278 juta sepanjang bulan Januari 2026, arus dana ke Bitcoin ETF dinilai berpotensi berbalik arah apabila sentimen makro membaik dan valuasi saat ini dinilai lebih menarik.

"Secara keseluruhan, pasar kripto dalam jangka pendek hingga menengah masih akan bergerak volatil dengan keseimbangan antara tekanan makro dan peluang pemulihan. Risiko koreksi lanjutan tetap ada selama sentimen global belum sepenuhnya kondusif, namun peluang penguatan tetap terbuka apabila tekanan teknikal mereda, arus dana institusional kembali masuk, serta kejelasan kebijakan dan regulasi terhadap aset digital semakin meningkat," tandasnya.

Rekomendasi Investasi

Fyqieh bilang, dalam kondisi pasar kripto yang masih terkoreksi dan volatil ini investasi sebaiknya difokuskan pada pendekatan yang lebih defensif dan terukur. Investor disarankan untuk tidak melakukan pembelian secara agresif, melainkan menerapkan strategi akumulasi bertahap seperti dollar cost averaging (DCA), terutama pada aset kripto dengan fundamental kuat seperti Bitcoin dan Ethereum (ETH). 

Menurutnya, pendekatan tersebut bertujuan untuk mengurangi risiko volatilitas jangka pendek sekaligus memanfaatkan koreksi harga sebagai peluang masuk secara bertahap.

"Di sisi lain, ketika koin-koin besar mengalami penurunan tajam, alternative coin (altcoin) dapat menjadi pilihan selektif, namun dengan tingkat kehati-hatian yang lebih tinggi," jelasnya.

Fyqieh menjelaskan, Altcoin yang memiliki fundamental jelas, utilitas nyata, serta likuiditas memadai berpotensi mencatatkan kinerja relatif lebih baik saat pasar mulai stabil. Biasanya, rotasi dana ke altcoin terjadi setelah tekanan jual pada aset utama mereda, sehingga investor perlu mencermati momentum dan tidak berspekulasi berlebihan di fase pasar yang masih lemah. Namun demikian, penting bagi investor untuk menyadari bahwa altcoin umumnya memiliki volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan Bitcoin dan Ethereum.

Oleh karena itu, alokasi investasi ke altcoin dia sarankan sebaiknya dibatasi dan disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor. Menghindari penggunaan leverage berlebihan serta memperhatikan volume perdagangan dan sentimen pasar menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko.

"Secara keseluruhan, strategi investasi kripto dalam situasi ini menuntut disiplin dan selektivitas. Fokus pada manajemen risiko, menjaga diversifikasi portofolio, serta memilih altcoin dengan use case dan adopsi yang jelas dapat membantu investor tetap menangkap peluang, sekaligus menjaga ketahanan portofolio di tengah tekanan pasar yang masih berlangsung," tandasnya.

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual kripto. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Remontada! Ginting Pastikan Indonesia Juara Grup D BATC 2026 Usai Ganyang Malaysia
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Realisasi Tunjangan Guru ASN di NTT Capai Rp138 Miliar pada Awal 2026
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Rupiah Melemah ke Rp16.805 per Dolar AS, Dipicu Data Ekonomi Amerika yang Kuat
• 18 jam lalupantau.com
thumb
BEI Perketat Syarat dan Aturan IPO
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
OJK Harap Calon Emiten Bisa Sesuaikan Free Float Ikuti Aturan Baru
• 7 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.