Laut Karibia selama ini dikenal sebagai simbol keindahan dan pelarian dari hiruk pikuk dunia modern. Namun bagi sebagian orang, perairan biru jernih itu justru menyimpan trauma yang tak pernah pulih. Di balik panorama tropis Little St. James, nama asli pulau pribadi milik Jeffrey Epstein, tersimpan kisah kelam yang tak terpisahkan dari para korban anak-anak.
Masyarakat dunia pun dibuat bertanya-tanya soal sumber Kekayaan Jeffrey Epstein dan bagaimana kekayaan itu digunakan untuk membangun sebuah “kerajaan” tertutup dan “peternakan” manusia yang ia idam-idamkan.
Pulau tersebut bukan sekadar properti mewah biasa. Ia menjadi simbol bagaimana Kekayaan Jeffrey Epstein bertransformasi menjadi kekuasaan absolut, ruang privat yang nyaris tak tersentuh hukum, dan panggung bagi kejahatan yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Sebelum dikenal sebagai pengelola dana miliarder dan pemilik pulau pribadi, Jeffrey Epstein berasal dari keluarga kelas pekerja di Brooklyn, Amerika Serikat. Ia sempat bekerja sebagai guru matematika sebelum direkrut ke dunia keuangan pada 1970-an.
Epstein direkrut oleh Bear Stearns, salah satu firma keuangan terkemuka Wall Street kala itu. Meski kemudian terungkap bahwa ia tidak pernah menyelesaikan pendidikan tinggi sebagaimana tercantum dalam riwayat hidupnya, kemampuannya dalam memberikan nasihat keuangan membuat lembaga Bear Stearns mempertahankannya. Epstein bahkan bertugas memberikan nasehat terkait “penghindaran pajak” kepada klien super kaya, seperti Edgar Bronfman.
Kekayaan Jeffrey Epstein pada saat meninggal dunia diperkirakan mendekati 600 juta dolar Amerika Serikat. Kekayaan ini ditunjukkan lewat kepemilikan aset bernilai tinggi, mulai dari townhouse megah di New York, peternakan luas di New Mexico, apartemen di Paris, dua pulau pribadi di Kepulauan Virgin AS, hingga koleksi karya seni, kendaraan mewah, jet pribadi, dan rekening investasi di berbagai yurisdiksi.
Pulau Little St. James sendiri memiliki posisi istimewa dalam portofolio Kekayaan Jeffrey Epstein. Pulau inilah yang menjadi pusat “kerajaan” pribadinya, tempat ia memiliki kendali penuh atas siapa yang datang, siapa yang pergi, dan apa yang terjadi di dalamnya.
Memberikan Nasehat “Pengemplangan Pajak” Kepada Para MiliarderSejak beralih pekerjaan dari pegawai lembaga keuangan ke penasehat pribadi para Miliarder, Kekayaan Jeffrey Epstein pun melonjak sangat tajam. Epstein kemudian mendirikan perusahaan pengelola aset yang mengklaim hanya melayani individu dengan kekayaan lebih dari satu miliar dolar AS.
Jeffrey Epstein memberikan langkah strategis bagaimana caranya menghindari pajak yang besar kepada para Milyader ini. Dari sinilah ia mendapatkan relasi dengan tokoh-tokoh yang ada pada lingkaran elit global.
Leslie Wexner, pendiri L Brands yang menaungi merek terkenal seperti Victoria’s Secret dan Bath & Body Works, berhubungan sangat dekat baik secara bisnis maupun personal selama hampir dua dekade dengan Epstein.
Epstein berperan sebagai pengelola keuangan sekaligus penasihat utama bagi Wexner. Namun, hubungan yang semula didasarkan pada kepercayaan itu kemudian berujung pada kontroversi, setelah Wexner menyatakan bahwa Epstein diduga menyalahgunakan kewenangan dan mengalihkan sebagian aset miliknya tanpa izin. Wexner kemudian memutus hubungan dengan Epstein di tahun 2007 setelah ia dilaporkan mencuri uangnya sekitar puluhan juta dollar.
Selain Wexner, Epstein juga tercatat memberikan jasa konsultasi keuangan dan perencanaan pajak kepada sejumlah miliarder lain. Meski besaran detail imbalan jasa kerap dirahasiakan, dokumen pengadilan menunjukkan aliran dana bernilai ratusan juta dolar AS ke lembaga yang dikelola Epstein. Dari sinilah sumber kekayaan Jeffrey Epstein yang membuatnya bisa membeli pulau dan mendirikan “kerajaan” sesuai ambisinya.
Ambisi Gelap dan Perdagangan Anak di Bawah UmurKekayaan Jeffrey Epstein membuatnya berhasil mewujudkan apa yang ia klaim sebagai “peternakan manusia”. Dengan sumber kekayaan Jeffrey Epstein yang fantastis, ia bahkan bisa membayar para staf profesional seperti juru masak, tukang kebun, kapten kapal, teknisi, hingga pilot.
Pulau Epstein bahkan juga dikelola bersama dengan Ghislaine Maxwell, tangan kanan bisnis yang sebelumnya menjadi pacarnya. Maxwell dikenal sebagai perempuan yang perfeksionis. Setiap staf yang ia awasi diwajibkan menandatangani perjanjian kerahasiaan agar tidak membocorkan soal pulau kepada siapapun. Para pekerja diajarkan untuk tidak bertanya, bahkan memalingkan wajah ketika tamu datang.
Meski demikian, beberapa mantan staf akhirnya berani bersuara. Petugas landasan pacu di St. Thomas mengaku sering melihat Epstein tiba dengan jet pribadi, membawa gadis-gadis muda yang tampak bingung, lalu dipindahkan ke helikopter menuju pulau.
Antara Januari 2018 hingga Juni 2019, jet Epstein tercatat terbang setidaknya sekali setiap tiga hari, singgah di kota-kota seperti Paris, London, Slovakia, Meksiko, dan Maroko.


