Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki
Dalam dua hari ini ada dua pertemuan penting Presiden Prabowo yang cukup menarik perhatian publik. Kehebohannya seolah menenggelamkan isu drama tuduhan ijazah palsu, di mana dedengkot penuduh, Eggy Sujana, melaporkan aliansinya, Roy Suryo dan teman-teman, ke Kepolisian. Nampaknya juga menenggelamkan isu-isu yang cukup heboh mengenai “MBG”, termasuk permasalahan bencana di Aceh dan Sumatra yang belum tuntas.
Dua pertemuan itu adalah: satu, pertemuan dengan para tokoh Islam dan pimpinan ormas dan pesantren. Dua, pertemuan dengan para diplomat senior, mantan menlu/wamenlu dan politisi senior yang memiliki perhatian terhadap isu-isu internasional, khususnya Palestina dan Gaza. Tentu pertemuan ini menjadi sangat penting mengingat keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace cukup menarik perhatian publik dan menjadi perdebatan hangat di berbagai kalangan. Dan karenanya keinginan dan keterbukaan Presiden RI untuk berdialog dan menerima masukan menjadi sangat penting dan dihargai.
Banyak hal yang ingin saya respon dari pertemuan itu. Sebagian kecil telah saya sebutkan secara umum, tidak rinci, pada catatan sebelumnya. Namun Kali ini yang ingin saya respon secara spesifik adalah pernyataan Dr. Dino Patti Djalal yang mengatakan bahwa saat ini BOP adalah satu-satunya pilihan untuk berbuat bagi Palestina. Seolah semua pilihan lain tertutup dan hanya BOP inisiasi Trump yang menjadi jalan bagi semua pihak, termasuk dunia Islam/Indonesia untuk berbuat bagi Palestina.
Sebelum merespon ke kesimpulan itu, saya ingin menyampaikan secara jujur bahwa saya hormat dan tentunya mengakui (acknowledge) “the expertise and the experience” para diplomat senior RI. Termasuk tentunya menghormati niat baik Presiden RI untuk berbuat bagi Palestina melalui forum yang dilabeli “Peace” itu. Saya berdoa Semoga Allah Yang Maha tahu menerima niat baik tersebut.
Namun saya akan selalu menempatkan diri para posisi “idealis” berdasarkan realita yang saya tahu, maupun yang kita semua ketahui berdasarkan pengalaman, dan realita di lapangan. Bahwa Palestina tidak akan pernah bisa mendapatkan kemerdekaannya dengan bermimpi mendapat “kebaikan hati” Amerika, apalagi di bawah kekuasaan Donald Trump. Benjamin Natanyahu yang “far right extreme” itu bukan hanya ingin tetap menjajah Palestina. Justeru bermimpi mewujudkan Israel Raya mencakup beberapa wilayah di luar Palestina (lihat kembali presentasi Natanyahu di PBB beberapa waktu lalu).
Di sisi lain, Natanyahu menganggap Donald Trump sebagai pemimpin Amerika yang paling pro Israel. Mungkin saja bukan karena pembunuhan besar-besaran lagi di Gaza. Tapi melalui tekanan non militer yang menjadikan Palestina semakin tersudutkan. Di zaman Trump Jerusalem diakui sebagai Ibukota Israel oleh Amerika. Dia pula yang memindahkan Kedutaan Amerika ke Jerusalem. Di zaman Trump juga terjadi penanda tanganan hubungan diplomasi antara Israel dengan UAE, Bahrain, Oman dan Sudan.
Kenyataan-kenyataan ini dan beberapa kebijakan Trump pro Zionist, ditambah rencana mengembangkan Gaza menjadi apa yang dia sebut “the Riviera of the Middle East” yang telah cukup lama, semakin memperjelas bahwa Pembentukan BOP tidak bertujuan untuk menyelesaikan penjajahan terhadap bangsa Palestina. Sebaliknya justeru akan menjadi kendaraan bagi Trump untuk (saya ulang-ulang): membujuk, menyuap, bahkan mengancam dan memaksa negara-negara tertentu untuk ikut menanda tangani apa yang disebut “Abraham Accord” itu.
Abraham Accord secara konseptual sebenarnya sangat bagus. Karena tujuannya adalah terjadinyas solusi dua negara. Di mana negara-negara Muslim akan mengakui dan menjalin hubungan dengan Israeli jika Palestina merdeka. Hanya saja dalam kenyataannya yang terjadi adalah upaya besar-besaran untuk mengakui Israel tanpa ada niat baik dari pihak Israel dan Amerika untuk memerdekakan Palestina. Persis yang kita saksikan di Gaza saat ini. Tawanan semua lepas, tapi pembunuhan tetap berlanjut baik secara militer maupun melalui “starvation” (menghalangi bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza).
Lalu apa alternatif selain BOP?
Salah satu prediksi Rasulullah SAW tentang umatnya di akhir zaman adalah terjadinya mental inferioritas yang menjadikannya tidak memiliki posisi tegas terjadap idealisme dan jati diri. Ada dua kata yang terpakai untuk mengekspresikan ini: satu, “wahan” yang sebenarnya bermakna “rela dihinakan”. Tentu karena cinta dunia yang berlebihan. Dua, “gutsaa as-sael” atau busa yang terhanyutkan. Intinya umat kehilangan “izzah dan posisi” bagi kepentingannya.
Silahkan dicatat. BOP adalah pertemuan antara ambisi Natanyahu untuk mewujudkan Israel raya dan ambisi ekspansi bisnis Trump di bidang konstruksi dan properti. Kedua ambisi ini dipertemukan dalam situasi yang dipaksa melalui peristiwa yang luar biasa (Genosida Gaza). Dengan terbangunnya Gaza sesuai rencana yang dipersiapkan oleh pebisnis Zionist; termasuk Jared Kushner dan Steve Wittkof, tanpa melibatkan Palestina, semakin melicingkan gerakan Zionist dalam ekspansinya. Hamas dilucuti, Iran akan terus ditekan, jika memungkinkan dihancurkan. Kira-kira siapa lagi yang akan bertahan?
Karenanya, kembali ke isu awal, adakah alternatif selain BOP? Jawabannya ada kalau saja umat ini tidak sakit (wahan dan gutsaa tadi). Alternatifnya ada di tangan umat ini. Ada di negara-negara mayoritas Muslim.
Kita ketahui bahwa sejarahnya OKI didirikan untuk membela masjid Al-Aqsa yang ketika itu dibakar oleh penjajah Zionist. Artinya tujuan utama OKI didirikan untuk membela Palestina dan masjid Al-Aqsa. Karenanya saya selalu yakin, hanya dengan kekuatan umat melalui blok OKI Palestina bisa dibantu mencapai kemerdekaan. Negara-negara Islam harus mampu membangun kesatuan di antara mereka, sekaligus melakukan ekspansi persekutuan dengan negara-negara yang mulai muak dengan Israel dan Amerika. Sebagian di antaranya adalah negara-negara Eropa yang selama ini sekutu Amerika dalam membela Israel.
Akankah itu terjadi? Tanyakan ke salju-salju yang lagi membeku di Kota New York!
Manhattan, 5 Pebruari 2026
*Poetra Kajang, a Proud New Yorker



