Beredar Bocoran Data RKAB Batu Bara 2026, ESDM Sebut Tidak Valid

cnbcindonesia.com
14 jam lalu
Cover Berita
Foto: Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM RI, Tri Winarno saat menyampaikan sambutan sebagai pembicara utama mewakili Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam acara Energy Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (5/2/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat suara soal beredarnya dokumen atau data terkait besaran kuota produksi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara tahun 2026. Pemerintah menegaskan bahwa data yang beredar tersebut bukan data valid karena proses persetujuan masih berlangsung di internal kementerian.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengakui bahwa dirinya juga telah menerima dan melihat data yang menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku usaha pertambangan tersebut. Namun, ia menekankan bahwa hingga saat ini surat keputusan resmi mengenai kuota produksi belum diterbitkan oleh pemerintah.


"Saya juga dapat, saya juga dapat (datanya). Tapi poinnya adalah yang di Kementerian ESDM belum, sampai saat ini belum mengeluarkan persetujuan RKAB untuk tahun 2026," ujar Tri di sela acara Energy Outlook 2026 CNBC Indonesia, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Pilihan Redaksi
  • Awas, Ekspor Batu Bara RI Bisa Anjlok Gegara Produksi Dipotong
  • ESDM Respons Isu PHK Imbas Pemangkasan Produksi Batu Bara

Tri menanggapi isi bocoran data tersebut yang menunjukkan adanya perusahaan yang mendapatkan kuota 0% hingga pemangkasan hebat mencapai 70%. Menurutnya, jika ada perusahaan yang tercatat nol, hal itu bisa disebabkan oleh berbagai faktor teknis, mulai dari tidak adanya pengajuan dari perusahaan terkait hingga habisnya cadangan tambang.

"Kalau 0% bisa jadi dia nggak mengajukan juga ya. Atau kinerja dia juga 0%, bisa jadi karena cadangan dia juga sudah nggak ada. Macem-macem lah," jelasnya.

Lebih lanjut, Tri menjelaskan logika di balik kebijakan pengendalian produksi yang sedang digodok pemerintah. Pada tahun sebelumnya, persetujuan produksi mencapai angka fantastis 1,2 miliar ton, namun realisasi di lapangan hanya berkisar 800 juta ton, sehingga diperlukan penyesuaian agar harga batu bara di pasar global dapat terkerek naik.

"Ini supaya laju produksi bisa diminimalkan, terus kemudian terkait dengan harga bisa diharapkan bisa terkontrol, terkatrol, dan lain sebagainya," tambahnya.

Meski demikian, Tri memberikan sinyal bahwa pemangkasan produksi tidak akan dipukul rata untuk semua perusahaan. Pemerintah akan menerapkan skema proporsional dengan mempertimbangkan kontribusi perusahaan terhadap penerimaan negara.

"Tapi otomatis kita proporsional, artinya yang PNBP-nya (Penerimaan Negara Bukan Pajak) gede, yang kontribusinya gede itu otomatis pemotongannya nggak begitu (besar)," tandasnya.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Lampaui Target, PNBP Sektor ESDM Capai Rp 138 T di 2025

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
FSP BUMN Bersatu Dukung Presiden Prabowo Bersihkan Perusahaan Pelat Merah dari Korupsi
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
7 Rekomendasi Drama China Seru yang Wajib Kamu Tonton untuk Merayakan Imlek 2026
• 4 jam lalugrid.id
thumb
Ternyata Ini Alasan Juda Agung Mundur dari Bank Indonesia
• 8 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Di Balik Tragedi Anak Bunuh Diri di Ngada
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
DPR Minta Satgas Tindak Tegas Pelaku Penimbunan Bahan Pangan
• 22 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.