Di Balik Tragedi Anak Bunuh Diri di Ngada

republika.co.id
12 jam lalu
Cover Berita

Oleh : Bagong Suyanto, Guru Besar dan Dosen Sosiologi Anak FISIP Universitas Airlangga

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cerita memilukan itu datang dari Nusa Tenggara Timur. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Maria Goreti Te’a (47 tahun), seorang ibu yang ditinggal mati anaknya gara-gara tak bisa memberi uang yang jumlahnya tak sampai 10 ribu rupiah. YBR (10 tahun), seorang bocah yang sehari-hari tampak biasa-biasa saja, tiba-tiba memutuskan melakukan aksi bunuh diri.

Bocah malang ini nekat gantung diri di pohon cengkeh di sebelah rumah neneknya. Siswa Kelas IV SD itu, ini telah pergi selama-lamanya dan takkan kembali lagi. Sang bocah menulis alasannya di secarik kertas sebelum bunuh diri.

Di negeri yang memiliki program bantuan pendidikan bernama Program Indonesia Pintar (PIP), seorang siswa SD justru pergi selamanya karena sang ibu tak mampu membelikan buku dan pulpen. Dari Desa Batajawa, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, kisah tragis ini kini viral. Banyak pihak prihatin dan bertanya-tanya.

Mengapa hanya gara-gara tak memiliki uang untuk membeli pulpen dan buku, seorang anak nekat memilih bunuh diri. Ibu korban yang hidup di tengah belenggu kemiskinan, kini hanya bisa menyesali takdir. Seandainya orang tua korban memiliki uang dan kemudian dapat memberi anaknya 10 ribu rupiah, maka tidak mungkin anaknya bakal bunuh diri.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Berita anak bunuh diri di NTT ini bukan sekadar data statistik tentang jumlah anak yang melakukan aksi bunuh diri biasa. ini adalah alarm keras. Sebuah jeritan minta tolong dari pinggiran, yang menandakan bahwa ada yang salah dalam struktur sosial dan perlindungan anak kita.

Ketika seorang anak berusia di bawah 10 tahun merasa dan memutuskan bahwa kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari rasa kecewa, masyarakat harus bertanya: apa yang terjadi, apa yang harus kita lakukan, dan di mana kita saat anak-anak ini putus asa hingga memilih mengakhiri hidupnya?

Alarm Keras

Kini nasi sudah menjadi bubur. Nyawa bocah malang itu tidak lagi dapat diselamatkan. Sebagai anak dari keluarga miskin, YBS sebetulnya tercatat sebagai salah satu penerima program bantuan pendidikan dari pemerintah. Orang tua korban tidak perlu harus membayar uang SPP setiap bulannya. Tetapi, demi memenuhi perlengkapan sekolah, YBS meminta uang pada ibunya –yang sayangnya permintaan kecil itu ternyata tak bisa dipenuhi karena tekanan kemiskinan dan kebutuhan hidup sehari-hari yang tidak murah. 

Surat perpisahan yang ditulis dan ditinggalkannya kini menjadi saksi bisu tragedi sosial yang menorehkan luka yang mendalam bagi bangsa ini. Kematian seorang anak yang terjadi di NTT ini bukan kecelakaan karena dipicu sikap teledor kurangnya perhatian kita pada nasib anak-anak yang bernasib malang, melainkan dampak dari kemiskinan akut yang tak segera tertangani. Meski keluarga YBS menjadi bagian dari fenomena kemiskinan akut di NTT, tetapi di mata negara apa yang mereka alami umumnya tidak selalu terlihat.

Nasib anak-anak yang tumbuh di lingkungan keluarga miskin, mereka umumnya tidak memiliki banyak peluang untuk mengembangkan potensi dirinya. Akibat ketidakmampuan orang tuanya, anak-anak dari keluarga miskin biasanya terbiasa hidup marginal, tersisih dari lingkungan pergaulan dan tertatih-tatih hidup di lingkungan sosial dengan struktur yang kaku. Anak yang berasal dari keluarga miskin, sering mereka menjadi korban perundungan, cenderung menarik diri dari pergaulan sosial karena tidak percaya diri, dan tidak memiliki banyak teman yang bisa dijadikan tempat mencurahkan isi hatinya.

Kasus anak bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur ini bukan satu-satunya kasus. Ini sebenarnya bukan kasus yang pertama, melainkan puncak gunung es yang sudah lama diumumkan oleh data. KPAI bahkan menyebutkan bahwa angka bunuh diri anak di Indonesia kian mengkhawatirkan dan sudah berada pada level darurat, bahkan salah satu tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Kasus ini adakah tragedi dari sekian banyak peristiwa serupa yang diberitakan hampir setiap tahun terjadi di berbagai daerah, termasuk di provinsi yang selama ini dicitrakan “maju” dan “sejahtera”. Kasus-kasus bunuh diri di Indonesia terjadi di lingkungan sosial yang beragam, namun menunjukkan kesamaan pada satu hal, yakni banyak anak menghadapi tekanan psikologis dan tekanan ekonomi tanpa adanya dukungan sosial yang memadai.

Anak dalam kondisi seperti ini cenderung rapuh, dan gagap ketika diharuskan beradaptasi di lingkungan sosial yang makin tidak ramah. Mengakhiri hidup adalah pilihan yang dianggap paling realistik untuk lari dari kenyataan yang pahit yang dialaminya.

Menurut data, sepanjang tahun 2016–2025 tercatat ribuan kasus bunuh diri terjadi di Indonesia, meskipun pendataan masih belum terintegrasi secara nasional. Informasi masih terbagi antara catatan kepolisian, fasilitas kesehatan, dan laporan media, sehingga angka riil di lapangan bukan tidak mungkin jauh lebih besar dari yang tercatat resmi.

Di tahun 2020 jumlah kasus bunuh diri tercatat 1.180 kasus dan tahun 2021 sebanyak 1.300 kasus. Di tahun 2022 angksa bunuh diri turun menjadi 826 kasus, sementara itu di tahun 2023 naik kembali menjadi 1.350 kasus, dan bahkan di tahun 2024 terus naik menjadi 1.445 kasus.

Stengel (1973) mendefinisikan bunuh diri sebagai setiap tindakan yang disengaja untuk membahayakan diri sendiri yang menyebabkan si pelaku tidak bisa bertahan hidup. Bunuh diri yang dilakukan YBS adalah tindakan sengaja untuk membunuh dirinya sendiri. Tidak semua aksi bunuh diri dilakukan memang untuk mengakhiri hidup.

Bunuh diri ada pula yang sifatnya palsu, karena sebetulnya niat pelaku melakukan aksi bunuh diri adalah sekadar untuk mencari perhatian, dan ia melakukan aksi bunuh diri sebetulnya tetap berharap hidup dan sekaligus mencari pertolongan.

Bukan tidak mungkin aksi bunuh diri yang dilakukan YBS adalah cara dia untuk meminta perhatian pada lingkungan sekitarnya. Ini bukan soal kepribadian yang rapuh. Ini adalah bentuk protes YBS pada tekanan kemiskinan yang dialaminya dan ia berharap apa yang dilakukan menjadi bentuk teriakan untuk meminta pertolongan sekaligus perhatian dari kita semua. Agresi salah tempat adalah salah satu motif seseorang melakukan aksi bunuh diri (Stekel dan Adler, 1973).

Peran Negara

Banyak yang akan menyalahkan kurangnya perhatian orang tua atau kerentanan emosional anak sebagai pemicu terjadinya aksi bunuh diri. Namun, sebagai masyarakat dan bangsa, kita tidak bisa lepas tangan. Kematian tragis di Ngada ini menyingkap tabir kemiskinan ekstrem yang masih mengakar, di mana kebutuhan dasar—alat tulis— masih menjadi kemewahan yang tak terjangkau.

Kasus ini adalah tamparan keras bagi negara dan elit politik di tanah air. Kemiskinan tidak hanya membuat anak-anak kelaparan dan sakit-sakitan karena kurang gizi, tetapi juga membunuh mental mereka secara perlahan. Ketika anak dalam usia yang masih belia terpaksa menanggung beban psikologis orang dewasa karena keterbatasan ekonomi, sistem perlindungan anak kita ternyata gagal untuk menjaga mereka. 

Dalam kasus anak SD di NTT yang melakukan aksi bunuh diri, rasa kecewa tidak dibelikan alat tulis mungkin sekadar pemicu dan menjadi puncak dari akumulasi rasa minder, tekanan sosial di sekolah, atau perasaan menjadi beban bagi orang tua. Anak-anak miskin di daerah terpencil seringkali memiliki resiliensi yang rendah terhadap tekanan emosional karena minimnya akses ke pendampingan psikososial. 

Ketika pemicu kecil bertemu dengan rasa putus asa yang sudah terakumulasi, maka tragedi menjadi tak terhindarkan. Ketika kita abai dan membiarkan anak bertarung sendirian menghadapi kekecewaan dan tekanan kemiskinan, maka tragedi pun tiba-tiba datang tak terduga. Kematian anak SD di Ngada adalah sebuah peringatan keras atas kebebalan dan kurangnya perhatian negara dan masyarakat pada keselamatan anak-anak miskin di sekitar kita.

Kematian anak SD di NTT akibat bunuh diri ini harus menjadi titik balik. Kita seyogyanya tidak lagi abai dan membiarkan hal-hal sepele, seperti buku dan pena menjadi pemicu anak melakukan aksi bunuh diri. Ketika negara dan masyarakat gagal memberikan perlindungan kepada anak agar tidak dilanggar dan ditelantarkan hak-haknya, kita tidak hanya kehilangan satu nyawa, tetapi sesungguhnya juga masa depan bangsa. Semoga kasus anak bunuh diri di Ngada menjadi tragedi yang terakhir, dan negara benar-benar selalu hadir untuk melindungi anak-anak, bahkan di sudut daerah yang terpencil sekalipun. Bagaimana pendapat Anda?

Kehidupan adalah anugerah berharga dari Allah SWT. Segera ajak bicara kerabat, teman-teman, ustaz/ustazah, pendeta, atau pemuka agama lainnya untuk menenangkan diri jika Anda memiliki gagasan bunuh diri. Konsultasi kesehatan jiwa bisa diakses di hotline 119 extension 8 yang disediakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes juga bisa dihubungi pada 021-500-454. BPJS Kesehatan juga membiayai penuh konsultasi dan perawatan kejiwaan di faskes penyedia layanan
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pimpin Rakor Kementerian, Zulhas: PSEL Mulai Launching Maret
• 11 jam lalueranasional.com
thumb
Raheem Sterling Selangkah Lagi Gabung Napoli
• 20 jam lalumerahputih.com
thumb
Keluarga Putra Protes di Polrestabes Medan, Sebut Tak Dapat Izin Jenguk
• 12 menit lalukumparan.com
thumb
PKB Mantap Dukung Prabowo 2 Periode, tetapi Belum Tentu Bersama Gibran
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
UNISA Yogyakarta Benarkan Dugaan Kekerasan Mahasiswa, Prioritaskan Pemulihan Kondisi Korban
• 9 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.