AMERIKA Serikat dan Rusia resmi menyepakati pemulihan dialog tingkat tinggi antara angkatan bersenjata kedua negara. Keputusan krusial ini diambil setelah pertemuan para perwira militer senior di sela-sela pembicaraan mengenai perang Ukraina di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Komando Eropa AS (US European Command) menyatakan pemulihan jalur komunikasi ini bertujuan untuk menjaga stabilitas global dan transparansi guna menghindari kesalahpahaman yang berisiko memicu konflik lebih luas.
"Menjaga dialog antar militer adalah faktor penting dalam stabilitas global dan perdamaian, yang hanya dapat dicapai melalui kekuatan, serta menyediakan sarana untuk meningkatkan transparansi dan de-eskalasi," bunyi pernyataan resmi Komando Eropa AS.
Baca juga : AS Tingkatkan Tekanan Militer, Trump Desak Iran Berunding Nuklir
Langkah ini menandai upaya perbaikan hubungan (rapprochement) yang signifikan antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia tersebut, sejalan dengan keinginan Presiden Donald Trump untuk menormalisasi hubungan kedua negara.
Menghindari Salah Hitung di Medan LagaSaluran komunikasi militer AS-Rusia sebenarnya telah menjadi tradisi selama dekade krisis untuk mencegah "salah hitung" atau eskalasi yang tidak disengaja. Namun, kontak tersebut ditangguhkan pada 2021, sesaat sebelum invasi skala penuh Rusia ke Ukraina.
Sejak penangguhan itu, sejumlah insiden berbahaya sempat terjadi, mulai dari masuknya drone dan pesawat tempur Rusia ke wilayah udara NATO, hingga pertemuan tegang antara pesawat nirawak AS di atas Suriah dan Laut Hitam.
Baca juga : AS Nilai Rusia-Ukraina Ambil Langkah Besar Menuju Perdamaian Usai Dialog Abu Dhabi
Kesepakatan baru ini dicapai dalam pertemuan antara Jenderal Alexus Grynkewich, panglima tertinggi AS dan NATO di Eropa, dengan pejabat militer senior Rusia dan Ukraina. Jalur ini diharapkan mampu memberikan kontak militer-ke-militer yang konsisten seiring upaya para pihak menuju perdamaian abadi.
Masa Depan Perjanjian Nuklir "New Start"Selain kerja sama militer, kedua negara juga dilaporkan tengah menegosiasikan perpanjangan perjanjian pengurangan senjata nuklir "New Start" yang dijadwalkan berakhir pada Kamis ini. Jika perjanjian ini kedaluwarsa, dunia untuk pertama kalinya dalam setengah abad akan berada tanpa kerangka hukum yang membatasi ambisi nuklir kedua negara.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan kesiapan Rusia untuk berdialog jika AS memberikan respons positif. Di sisi lain, Presiden Donald Trump melalui media sosial justru mengusulkan pembentukan perjanjian baru yang lebih modern.
"Daripada memperpanjang 'NEW START' (Kesepakatan yang dinegosiasikan dengan buruk oleh Amerika Serikat dan banyak dilanggar), kita seharusnya meminta Pakar Nuklir kita mengerjakan Perjanjian baru yang ditingkatkan dan dimodernisasi, yang dapat bertahan lama di masa depan," tulis Trump.
Laporan dari Axios menyebutkan bahwa negosiasi intensif telah berlangsung selama 24 jam terakhir di Abu Dhabi. Kedua negara dikabarkan semakin dekat dengan kesepakatan untuk terus mematuhi poin-poin utama perjanjian New Start, yang membatasi pengerahan hulu ledak nuklir strategis maksimal sebanyak 1.550 unit. (BBC/z-2)





