Menggenggam Erat Emas Saat Dunia Kehilangan Arah

kompas.id
12 jam lalu
Cover Berita

Waktu belum genap pukul 08.00 WIB ketika jam operasional Kantor Pegadaian Kebayoran, Jakarta Selatan, Rabu (28/1/2026), dimulai. Hari masih dini, tetapi toko emas Galeri 24 milik Pegadaian itu sudah ramai.

Bahkan, sejumlah orang sudah datang sejak selepas shalat Subuh untuk mengambil nomor antrean sambil memantau grup Whatsapp demi mengecek ketersediaan emas fisik di toko tersebut.

Satpam yang berjaga sigap mengatur antrean. Kepada calon pembeli emas fisik, ia mengarahkan untuk mengambil nomor antrean dan menjelaskan aturan pembelian yang kian ketat. Satu orang, satu keping, satu KTP. Emas, di level ritel, telah berubah menjadi komoditas yang harus ”diburu”.

Di antara antrean itu ada Tuti Wahyuni (58), ibu rumah tangga pemilik kontrakan di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Berbeda dengan kebanyakan pembeli emas lama, ketertarikan Tuti pada logam mulia batangan terbilang baru.

”Kalau dulu saya sukanya emas perhiasan, dari SMP malah,” katanya sambil tersenyum. ”Logam mulia, mah, (dulu) enggak kepikiran.”

Perubahan itu terjadi pada Mei 2025, menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci. Anaknya menyarankan agar tabungan dialihkan ke emas agar nilainya tidak tergerus inflasi.

Tuti sempat mencoba membeli di Toko Emas Antam, tetapi berulang kali kehabisan stok. Ia lalu beralih ke Galeri 24, yang menjual berbagai merek logam mulia, termasuk dari PT Aneka Tambang (Antam) Tbk.

”Waktu itu masih dapat. Saya beli beberapa keping,” ujarnya.

Sekembalinya dari ibadah haji, suasana berubah drastis. Pembelian dibatasi, antrean semakin panjang. Tuti mengaku kerap datang sejak subuh, bahkan saat hujan.

Kini, kurang dari setahun, total emas batangan yang ia kumpulkan telah mencapai 100 gram, seluruhnya dari penghasilan kos-kosan.

”Tadinya uang cuma disimpan. Sekarang dipakai beli emas. Bisa dibilang FOMO (fear of missing out), tapi, ya, sesuai kemampuan,” katanya.

Bersama Tuti, Euis S Rohmah (69), warga Lebak Bulus, juga merasakan perubahan serupa. Selama bertahun-tahun, ia mengandalkan deposito. Namun, imbal hasil yang semakin tipis membuatnya berpikir ulang.

”Taruh Rp 500 juta di deposito, setahun untungnya cuma sekitar Rp 10 juta. Enggak sebanding,” tuturnya.

Kini, Euis kembali aktif membeli emas fisik. Bukan hanya karena faktor imbal hasil, ia juga kembali terjun ke dunia logam mulia karena belajar banyak dari orang-orang yang melek investasi, termasuk dari pemengaruh di media sosial.

”Kalau kita berkumpul sama orang-orang yang semangat investasi, kita jadi ikut semangat,” katanya. Emas, baginya, bukan hanya instrumen keuangan, tetapi juga sumber rasa percaya diri.

Minat terhadap emas tidak hanya datang dari kelompok usia lanjut. Godwin Heriachandra, pekerja kantoran di Jakarta, memanfaatkan emas sebagai bagian dari strategi keuangan aktif.

Dua tahun lalu, saat menerima bonus kerja pertamanya, Godwin bingung memilih instrumen investasi. Saham dan reksadana ia nilai terlalu fluktuatif dan tidak likuid dalam kondisi darurat. Emas menawarkan jalan tengah.

Ia membeli sekitar 10 gram emas senilai Rp 12 juta, lalu menggadaikannya di Pegadaian untuk membeli sepeda motor secara tunai. Dengan bunga gadai sekitar 1,1 persen per bulan, total pinjaman Rp 10 juta hanya membengkak menjadi sekitar Rp 11,5 juta dalam setahun.

”Di akhir cicilan, aku punya dua aset. Motornya masih ada, emasnya juga tetap,” ujarnya.

Kini, total emas Godwin mencapai 25 gram, sebagian besar fisik, sebagian kecil digital untuk likuiditas. Ke depan, emas itu ia siapkan sebagai bantalan modal usaha. ”Hidup jadi lebih tenang. Ada pegangan,” katanya.

Apa yang terlihat di Pegadaian Kebayoran itu sejatinya mencerminkan gambaran nasional. Laporan Gold for the Nation oleh World Gold Council (WGC), November 2025, menunjukkan, emas tetap menjadi salah satu aset paling diminati masyarakat Indonesia.

Survei WGC pada 2024 mencatat, 67 persen investor Indonesia memiliki emas, menjadikannya aset terpopuler kedua setelah tabungan. Bentuknya beragam: perhiasan kadar tinggi, emas batangan, hingga koin. Emas fisik disimpan rata-rata enam tahun, sementara emas digital sekitar empat tahun.

Alasan utamanya konsisten: rasa aman. Hampir separuh responden menyebut emas sebagai simpanan dana darurat. Likuiditas, volatilitas rendah, dan kemudahan pembelian menjadi daya tarik utama.

Investasi meningkat

Secara global, 2025 menjadi tahun bersejarah bagi emas. Harga emas mencetak rekor penutupan tertinggi sebanyak 53 kali. Pada 23 Desember 2025, emas menyentuh 4.449 dolar AS per troy ounce, dengan imbal hasil tahunan mencapai 67 persen.

Head of Asia Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks World Gold Council, Shaokai Fan, dalam paparan mengenai tren emas sepanjang 2025, di Jakarta, Rabu (4/2/2026), mengungkapkan permintaan emas dunia untuk pertama kalinya mencapai 5.002 ton dalam setahun.

Mayoritas atau sebanyak 2.175 ton (84 persen) permintaan emas tahun lalu didominasi kebutuhan investasi, berupa emas batangan dan koin, serta produk pasar modal exchange traded fund (ETF).

”Dalam tren kenaikan harga ini, investor tidak meninggalkan emas, tetapi justru menyesuaikan cara berinvestasi. Ini memang momen yang tepat mengambil keuntungan, tapi ternyata banyak investor yang masuk dan mulai investasi di harga tinggi. Secara global, ada perubahan persepsi yang mendukung kenaikan harga emas,” tuturnya.

Pandangan investasi ini pun menggeser permintaan perhiasan yang memuat emas dengan kadar rendah. Permintaan perhiasan emas di dunia turun sampai 18 persen. Di Indonesia, Fan mengatakan, trennya kurang lebih mirip.

Perhiasan yang dikategorikan barang mewah ikut semakin mahal dengan naiknya harga emas. Daya beli masyarakat terhadap perhiasan juga semakin turun.

Kebutuhan investasi dalam bentuk emas, menurut Shaokai, juga terbaca dari tren daur ulang emas yang pada 2025 hanya naik 3 persen. Ini menandakan, lebih banyak investor menahan emas dan memilih tidak menjual atau menggadaikan emas.

Secara pasokan, produksi emas dunia cukup stabil dengan kenaikan 1 persen di tengah banyaknya penurunan produksi tambang emas, termasuk dari kendala operasional tambang kedua terbesar di dunia, PT Freeport Indonesia. Namun, produksi ini diproyeksikan akan mengalami kenaikan pada 2026 seiring dengan pemulihan aktivitas tambang.

Dibandingkan permintaan komoditas lain, meskipun perak dan platinum juga mengalami lonjakan tajam di pengujung tahun, laporan WGC juga mencatat adanya perbedaan fundamental. Kenaikan perak dan platinum lebih didorong oleh kelangkaan pasokan jangka pendek dan distorsi kebijakan, seperti izin ekspor dari China.

Baca JugaLonjakan Harga Emas Berisiko Kerek Laju Inflasi pada 2026
Bagaimana proyeksi 2026?

Sebaliknya, Senior Research Lead Asia Pacific WGC, Marissa Salim, pada kesempatan sama menuturkan, WGC juga menemukan, lonjakan harga emas ini bukan disebabkan kelangkaan pasokan, melainkan respons makroekonomi.

Ini dipengaruhi ketidakpastian geopolitik yang berulang, termasuk tekanan pada nilai tukar dolar AS, tren suku bunga rendah, dan kebutuhan untuk diversifikasi investasi dari surat utang dan saham. Kondisi ini membuat permintaan emas dari bank sentral di banyak negara akan tetap tinggi seperti 2025 yang lebih dari 800 ton.

Harga emas sempat melemah hingga 10 persen pada 2 Februari 2026 menjadi kisaran 4.700 dolar AS per troy ounce. Namun, dalam beberapa hari, kembali naik ke level 5.000 dolar AS per troy ounce.

”Ketegangan geopolitik kemungkinan akan kembali menjadi kontributor utama bagi kineria emas di tahun 2026, seiring terus meningkatnya permintaan bank sentral, arus masuk ETF emas yang kuat, serta permintaan emas batangan dan koin yang sehat,” tutur Salim.

Senada, pengamat pasar Hans Kwee menilai bahwa kenaikan emas mencerminkan perubahan sistemik pada aset global seperti dolar AS dan efek risiko geopolitik global yang semakin tinggi akhir-akhir ini.

Tren ini akan membuat proyeksi emas masih kuat di 2026 meski volatilitas jangka pendek tetap mengintai. Pada akhir Januari lalu, harga emas dunia mencetak rekor baru di harga 5.608 dolar AS per troy ounce.

Harga emas sempat melemah hingga 10 persen pada 2 Februari 2026 menjadi di kisaran 4.700 dolar AS per troy ounce. Namun, dalam beberapa hari, harga emas kembali naik ke level 5.000 dolar AS per troy ounce.

Pada akhir 2026, harga emas global berpotensi mendekati 5.000 dolar AS per ons.

Di Indonesia, harga logam mulia Antam juga sempat turun menyesuaikan harga emas dunia. Namun, harga jual emas Antam ukuran 1 gram sudah menyentuh level di atas Rp 3 juta per gram.

”Kenaikan harga emas itu bukan cuma karena geopolitik, tetapi karena dunia sedang berubah, meninggalkan dolar dengan memegang emas,” ujarnya dalam paparan secara daring, Jumat (23/1/2026).

Ia menyebut, setelah Donald Trump jadi presiden, dunia tahu bahwa perang tarif ini merugikan mereka sehingga banyak negara tidak mau memegang dolar AS dan beralih ke emas.

Menurut Hans, target harga emas global pada akhir 2026 berpotensi mendekati 5.000 dolar AS per ons. Bahkan, pada 2030, harga emas dunia diprediksi bisa mencapai 10.000 dolar AS per troy ons.

Pandangan senada disampaikan pengamat komoditas Lukman Leong sehingga harga emas diproyeksikan kembali naik signifikan tahun ini.

”Emas akan semakin didukung permintaan bank-bank sentral dengan semakin tidak menentunya geopolitik. Diperkirakan bisa mencapai 5.000 dolar AS bahkan 5.700 dolar AS,” ujar Lukman kepada Kompas, Rabu (7/1/2026).

Berbeda dengan komoditas non-energi lain yang sangat dipengaruhi pasokan, emas bergerak lebih sebagai aset moneter global. ”Ini bukan soal kekurangan emas fisik, tapi soal kepercayaan dan perlindungan nilai,” katanya.

Risiko kerugian akibat ”spread” justru paling besar ketika emas dijual terlalu cepat setelah dibeli, saat kenaikan harga belum cukup untuk menutup selisih tersebut.

Aset jangka menengah

Harga emas domestik, termasuk emas Antam, memiliki korelasi yang kuat dengan harga spot emas global serta pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Oleh karena itu, Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva mengatakan, apabila harga emas dunia melanjutkan tren penguatan hingga akhir 2026 dan nilai tukar relatif stabil, harga emas ritel di dalam negeri berpotensi bergerak searah. Besarannya sangat bergantung pada dinamika kurs dan struktur biaya domestik.

”Kenaikan harga emas di Indonesia pada dasarnya merupakan proses transmisi dari faktor makroglobal melalui harga internasional dan ekspektasi pasar, bukan semata akibat kondisi pasokan fisik di dalam negeri,” kata Taufan kepada Kompas, Senin (26/1/2026).

Secara struktural, pola harga emas ritel di Indonesia secara konsisten menunjukkan adanya spread atau selisih beberapa persen antara harga jual dan buyback oleh toko emas.

Jika ditarik lebih panjang, sepanjang 2024 hingga 2025, besaran spread harga jual dan buyback emas Antam memang bersifat fluktuatif, mengikuti dinamika harga emas global dan permintaan domestik.

Berdasarkan data harga emas Antam yang tersedia, pada akhir Desember 2025, harga buyback berada di kisaran Rp 2,36 juta per gram, dengan selisih terhadap harga jual sekitar Rp 141.000 per gram.

Baca JugaJangan Hanya FOMO, Ini Tip Cuan Investasi Emas

Kondisi ini mencerminkan bahwa secara tipikal, harga emas perlu naik berkisar 5-6 persen dari harga beli awal, agar investor dapat mencapai titik impas jika dilakukan penjualan kembali dalam jangka pendek.

Dalam praktiknya, waktu jual emas lebih efektif ditentukan dengan membaca tren makro jangka menengah, bukan fluktuasi harian. Masyarakat umumnya menunggu penguatan fundamental seperti arah suku bunga global yang menurun, meningkatnya volatilitas ekonomi di negara maju, atau menguatnya sentimen safe haven.

Faktor-faktor ini meningkatkan peluang harga emas naik cukup signifikan. Dengan demikian, bukan hanya menutup spread, tetapi juga menghasilkan keuntungan bersih.

”Karena itu, emas pada dasarnya tidak cocok untuk transaksi jangka sangat pendek. Risiko kerugian akibat spread justru paling besar ketika emas dijual terlalu cepat setelah dibeli, saat kenaikan harga belum cukup untuk menutup selisih tersebut,” kata Taufan.

Dalam rangka investasi, ICDX mencatat, emas tidak hanya dibeli dalam bentuk fisik konvensional, tetapi juga secara digital. Sepanjang 2025, ICDX mencatat pertumbuhan yang sangat signifikan pada perdagangan emas fisik yang diperdagangkan secara digital.

Volume transaksi emas fisik digital di ICDX mencapai 58,65 juta gram dengan nilai transaksi sekitar Rp 115,6 triliun, meningkat tajam dibandingkan tahun 2024. Data ini mencerminkan minat masyarakat yang semakin besar terhadap kanal digital dalam berinvestasi emas, seiring kemudahan akses, efisiensi transaksi, serta biaya yang relatif lebih kompetitif dibandingkan transaksi emas fisik konvensional.

Pada akhirnya, emas tampaknya akan tetap menjadi jangkar psikologis dan finansial bagi banyak rumah tangga Indonesia. Dari antrean subuh di toko emas hingga dinamika bank sentral dunia, emas menjelma lebih dari sekadar logam mulia.

Emas menjadi cara masyarakat membaca zaman—menjaga nilai, mengelola risiko, dan bertahan di dunia yang semakin sulit diprediksi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Australian PM Announces New Defense Cooperation Initiatives with Indonesia
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mengukur Likuiditas Saham Big Caps BREN & PGEO Cs saat Free Float Dinaikkan
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Likuidasi Asuransi Tak Lagi Ditangani OJK, Nasib Wanaartha dan Kresna?
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Aksi Heroik Petugas Damkar Terobos Atap Apartemen yang Terbakar di Shanghai | BERUT
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Ekonomi Rusia "Mati" Pelan-Pelan, Defisit Anggaran Membengkak
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.