Berbicara tentang gosip, ada sebuah standar ganda yang menggelikan, tetapi terus lestari di ruang sosial kita, mulai dari arisan tetangga hingga koridor korporasi. Jika sekumpulan laki-laki tertawa dan berbincang serius di kedai kopi, kita menyebutnya sebagai diskusi, jejaring, atau lobi politik.
Namun, ubah subjeknya menjadi sekumpulan perempuan yang melakukan hal sama persis, maka labelnya serta-merta berubah menjadi bergosip, rumpi, atau buang-buang waktu.
Pelabelan “Tukang Gosip” pada perempuan bukan sekadar lelucon seksis. Ini adalah upaya kultural untuk meremehkan cara perempuan membangun aliansi. Padahal, jika kita mau membedahnya dengan pisau analisis yang lebih tajam, apa yang sering dianggap sebagai gosip sebenarnya adalah bentuk kecerdasan interpersonal tingkat tinggi yang krusial bagi kelangsungan hidup sosial.
Bukan Sekadar "Mulut Ember", Ini Strategi EvolusiSelama berabad-abad, narasi patriarki menempatkan komunikasi perempuan sebagai sesuatu yang trivial. Komunikasi ini dianggap hanya membicarakan orang lain tanpa substansi.
Namun, sains berbicara lain. Berbincang mengenai orang lain atau gossiping bukanlah cacat karakter, melainkan keterampilan sosial (social skill) yang berevolusi.
Faktanya, laki-laki dan perempuan sama-sama bergosip. Perbedaannya hanya terletak pada motivasi di baliknya. Hal ini ditegaskan oleh Frank T. McAndrew, seorang profesor psikologi, dalam tulisannya yang mendalam mengenai psikologi evolusioner.
Dalam risetnya yang berjudul "The Evolutionary Psychology of Gossip", McAndrew menyoroti bahwa meskipun kedua gender menghabiskan waktu yang sama banyaknya untuk membicarakan orang lain, tujuannya berbeda secara fundamental.
Laki-laki cenderung bergosip untuk meningkatkan status atau berkompetisi. Pembicaraan mereka sering kali berpusat pada pencapaian diri sendiri atau merendahkan saingan untuk terlihat lebih dominan.
Sebaliknya, perempuan cenderung menggunakan gosip sebagai alat untuk membangun keintiman jaringan. Bagi perempuan, berbagi informasi personal bukanlah tentang menjatuhkan, melainkan bentuk pertukaran kepercayaan.
Ketika seorang perempuan menceritakan masalahnya atau membicarakan dinamika kelompok kepada perempuan lain, ia sedang melakukan "cek ombak" untuk mengetahui apakah lawan bicaranya berada di pihaknya atau memiliki nilai yang sama. Ini adalah mekanisme ikatan yang menciptakan solidaritas yang kuat.
Gosip sebagai Mekanisme PertahananJika kita melihat lebih dalam, komunikasi perempuan yang detail dan intensif ini juga berfungsi sebagai sistem keamanan. Dalam sejarah, perempuan sering kali memiliki kekuatan fisik dan politik yang lebih kecil dibandingkan laki-laki. Akibatnya, mereka harus mengandalkan informasi verbal untuk melindungi diri.
Apa yang disebut laki-laki sebagai "gosip jahat", bagi perempuan sering kali adalah peringatan dini. Fenomena whisper network atau jaringan bisik-bisik di kantor—yang memperingatkan karyawan baru tentang atasan yang manipulatif atau gemar melakukan pelecehan—adalah bukti nyata.
Informasi ini tidak tertulis dalam aturan perusahaan, tetapi beredar melalui jalur komunikasi informal perempuan. Dalam konteks ini, label "tukang gosip" menjadi tidak relevan karena mereka sesungguhnya sedang menjadi penjaga keselamatan komunitas.
Mengubah Cara PandangSudah saatnya perempuan berhenti meminta maaf karena menjadi komunikator yang aktif. Kemampuan untuk membaca situasi sosial, memahami siapa yang bisa dipercaya, dan menjaga kohesi kelompok melalui pertukaran informasi verbal adalah kemampuan non-teknis yang sangat dibutuhkan di era modern yang serba kolaboratif ini.
Dunia kerja saat ini menuntut empati dan kecerdasan emosional. Padahal, dua hal tersebut justru diasah melalui pola komunikasi perempuan yang selama ini distigmatisasi.
Jadi, lain kali jika Anda melihat sekelompok perempuan sedang asyik bertukar cerita, jangan sebut itu bergosip. Sebutlah itu sebagai rapat strategis untuk mempererat kohesi sosial. Karena di balik label "tukang gosip", terdapat kekuatan jejaring yang mampu menopang satu sama lain di tengah dunia yang keras.




