Pilunya Kehidupan Sehari-hari Anak SD NTT yang Tewas Bunuh Diri

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Tragedi anak SD, Yohanes Bastian Roja (10), mengakhiri hidupnya sendiri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) karena tak mampu membeli pena dan buku akibat kemiskinan, menjadi sorotan masyarakat luas.

Terkait hal itu, Maria Goreti Te’a (47) ibu kandung Yohanes, akhirnya buka suara. Maria Goreti menceritakan bahwa sebelum tragedi itu terjadi, pagi harinya, anaknya mengeluh pusing dan tidak mau berangkat ke sekolah.

Namun karena khawatir tertinggal pelajaran, sang ibu tetap memintanya masuk sekolah.

"Saya nasihati, minta dia rajin ke sekolah. Saya lalu tahan (pesan) ojek, minta antar ke neneknya," ungkapnya.

Ibu Yohanes dan neneknya tinggal di desa berbeda. Rumah neneknya yang berupa pondok sederhana di kebun satu rute dengan sekolah Yohanes. Yohanes sehari-hari juga tinggal dengan neneknya, sedangkan ibunya tinggal bersama 4 anaknya yang lain dan ayah sambung Yohanes. Adapun ayah kandung Yohanes sudah lama meninggal.

Maria mengatakan, setelah mengirim Yohane ke rumah nenek, ia berpikir anak bungsunya itu sudah berangkat ke sekolah. Hingga siang harinya, kabar duka itu datang.

"Saya kaget mendengar kabar ditemukan meninggal dunia," ujarnya sedih.

Hari-hari Makan Pisang dan Ubi

Sebagai keluarga miskin, Maria mengandalkan hasil kebun seadanya, pisang dan ubi menjadi menu makanan paling sering.

"Saya hidupi anak saya dari jualan kayu api dan hasil kebun," ucapnya.

Bantu Nenek Jual Kayu Bakar

Yohanes adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya meninggal dunia sejak ia masih dalam kandungan.

Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, ia tak lagi tinggal bersama ibu kandungnya dan diasuh oleh neneknya di pondok sederhana berdinding bambu.

Sehari-hari, selain bersekolah, Yohanes kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar untuk makan.

Surat Terakhir Korban

Dalam proses olah TKP, polisi menemukan sepucuk surat untuk ibunya. Surat yang ditulis tangan oleh korban ditemukan di sekitar lokasi kejadian.

Gregorius Kodo, saksi mata, menuturkan kondisi keluarga korban banyak tantangan. Itu yang membuat korban memilih tinggal bersama neneknya di pondok. Ketika kejadian berlangsung, nenek korban yang berusia sekitar 80 tahun itu tengah berada di rumah tetangga.

Menurutnya, korban kurang kasih sayang orang tua. Ayah korban meninggal dunia pada saat korban masih dalam kandungan. Ayah korban merupakan suami ketiga dari ibunya. Ibunya menafkahi lima anak, termasuk korban.

11 Tahun Bermasalah, Adminduk Keluarga Siswa SD yang Bunuh Diri Akhirnya Beres

Kematian tragis Yohanes Bastian Roja (10), seorang siswa sekolah dasar di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan duka mendalam sekaligus sorotan tajam pada sistem administrasi kependudukan.

Bocah malang tersebut diduga nekat mengakhiri hidupnya karena himpitan ekonomi yang membuatnya tidak mampu membeli perlengkapan sekolah dasar seperti buku dan pena.

Keluarga Yohanes selama 11 tahun tidak pernah mendapatkan bantuan sosial (bansos).

Menanggapi peristiwa tersebut, Pemerintah Kabupaten Ngada melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) turun tangan menelusuri penyebab keluarga korban tidak tersentuh bantuan pemerintah.

Kepala Dinas Dukcapil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, memastikan bahwa keluarga YBR memang tidak pernah menerima bantuan sosial (bansos) apa pun.

Menurutnya hal ini bukan karena unsur kesengajaan, melainkan kendala administrasi kependudukan (Adminduk) yang belum tuntas selama 11 tahun ini.

Gerardus menjelaskan, ibu korban secara de facto telah tinggal di Desa Naruwolo selama 11 tahun. Namun, secara de jure, status kependudukannya masih tercatat di Kabupaten Nagekeo.

“Ibu korban masih ber-KTP Nagekeo, meski sudah 11 tahun tinggal di Desa Naruwolo. Kondisi tersebut membuat keluarga korban tidak tercatat dalam sistem bantuan sosial di wilayah setempat,” ujar Gerardus, Kamis (5/2/2026).

Dukcapil Urus Kepindahan Domisili

Usai tragedi ini, pihak Dukcapil langsung melakukan jemput bola untuk memproses perpindahan domisili keluarga korban agar mereka bisa masuk ke dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

“Saat itu juga kami langsung mendata dan memproses pindah penduduk. Besok, seluruh dokumen kependudukan sudah selesai,” ucap Gerardus.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Indonesia Dorong ASEAN Buat Standar untuk Lawan Ancaman Deepfake Era AI
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
Luncurkan PPF Luxor Diamond Berteknologi Tetrashield di IIMS 2026
• 18 jam laluharianfajar
thumb
Foto-Foto Situasi Terkini di PN Depok Hari Ini, Wakil Ketua Kena OTT KPK
• 2 jam laludisway.id
thumb
Pemkot Solo Kekurangan 286 Guru di 2026
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Penipuan Umrah Mirip Ponzi Seret Pemengaruh-Politisi Tuai Kecaman Luas dengan 60-an Korban
• 23 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.