Penulis: Fityan
TVRINews-Moskow
Berakhirnya Perjanjian New START memicu kekhawatiran perlombaan senjata baru di tengah absennya kesepakatan Washington-Moskow.
Kremlin menegaskan bahwa Rusia akan tetap bertindak sebagai kekuatan nuklir yang bertanggung jawab meskipun masa berlaku New START, perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Moskow dan Washington, resmi berakhir pada Kamis 5 Februari 2026.
Berakhirnya pakta tersebut menandai berakhirnya pembatasan senjata nuklir strategis selama lebih dari setengah abad antara kedua negara.
Para pakar memperingatkan bahwa kekosongan regulasi ini berisiko memicu perlombaan senjata global baru.
"Hari ini akan berakhir, dan perjanjian tersebut akan berhenti memberikan dampak apa pun," ujar juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, kepada awak media.
Penyesalan dari Moskow dan Beijing
Pemerintah Rusia menyatakan penyesalannya atas hilangnya landasan hukum tersebut. Sebelumnya, Moskow telah mengusulkan perpanjangan syarat perjanjian secara sukarela selama satu tahun untuk memberi ruang bagi diskusi naskah pengganti.
Namun, usulan tersebut diklaim tidak pernah dijawab secara resmi oleh Presiden AS, Donald Trump.
Dmitry Peskov menyatakan bahwa masalah stabilitas ini juga menjadi topik pembahasan antara Presiden Vladimir Putin dan Presiden China, Xi Jinping.
"Rusia akan mempertahankan pendekatan yang bertanggung jawab dan saksama terhadap isu stabilitas strategis di bidang senjata nuklir. Kami akan tetap dipandu oleh kepentingan nasional kami," tambah Peskov.
Dinamika Persenjataan Global
Perjanjian New START, yang ditandatangani pada 2010, membatasi masing-masing pihak pada angka 1.550 hulu ledak strategis yang dikerahkan pengurangan hampir 30 persen dari batas tahun 2002.
Saat ini, Rusia dan Amerika Serikat secara kolektif menguasai lebih dari 80 persen hulu ledak nuklir dunia.
Di sisi lain, China melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Lin Jian, turut menyatakan kekhawatirannya.
Beijing menilai berakhirnya New START berdampak negatif pada sistem pengendalian senjata internasional.
Meski demikian, China tetap menolak untuk bergabung dalam negosiasi pengurangan senjata trilateral yang diinginkan Donald Trump.
"Kekuatan nuklir China tidak berada pada level yang sama dengan Amerika Serikat dan Rusia. China tidak akan berpartisipasi dalam negosiasi perlucutan senjata pada tahap ini," tegas Lin Jian.
Statistik dan Proyeksi Keamanan
Data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan perbandingan kekuatan yang kontras:
• Rusia & AS: Masing-masing memiliki sekitar 4.000 hulu ledak.
• China: Diperkirakan memiliki 600 hulu ledak, namun tumbuh pesat dengan penambahan sekitar 100 hulu ledak per tahun sejak 2023.
Menanggapi situasi ini, pihak Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Trump akan menentukan langkah selanjutnya terkait pengendalian senjata nuklir sesuai dengan lini masa yang ditetapkannya sendiri.
Sementara itu, pejabat NATO mendesak kedua negara untuk bertindak dengan menahan diri demi menjaga keamanan global.
Editor: Redaktur TVRINews




