AS Menggelar Pertemuan Tingkat Menteri yang Diikuti oleh 55 Negara untuk Melemahkan Monopoli Tiongkok Terhadap Sumber Daya Mineral Utama

erabaru.net
8 jam lalu
Cover Berita

Amerika Serikat pada Rabu (4 Februari) mengundang berbagai negara serta perwakilan Uni Eropa ke Washington untuk menghadiri Konferensi Menteri Tingkat Tinggi Mineral Kritis pertama, dengan tujuan memperkuat kerja sama stabilitas rantai pasok. Sebanyak 55 negara turut serta dalam pertemuan tersebut. Amerika Serikat dan para mitranya menyatakan harapan untuk meningkatkan akses negara-negara terhadap mineral kritis dan lebih jauh melemahkan kendali Partai Komunis Tiongkok (PKT) atas mineral-mineral strategis ini. Berikut laporan wartawan.

EtIndonesia. Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengundang para pejabat setingkat menteri dari berbagai negara untuk berkumpul di Washington pada Rabu (4/2/2026). Pertemuan tersebut membahas penguatan kerjasama rantai pasok mineral kritis antar sekutu dan mitra, serta mewujudkan diversifikasi pasokan. Ini merupakan pertemuan pertama dengan tema semacam ini.

Sebanyak 55 negara, termasuk Uni Eropa, Inggris, Jerman, Australia, Jepang, Korea Selatan, India, Thailand, dan lainnya, mengirimkan perwakilan untuk menghadiri konferensi tersebut. Diperkirakan akan ditandatangani sejumlah perjanjian bilateral.

Dalam pidatonya, Wakil Presiden Vance menyatakan bahwa perang dagang selama setahun terakhir telah menyingkap fakta bahwa sebagian besar negara sangat bergantung pada sumber daya mineral dari PKT. Pemerintah AS bersama aliansi dagang barunya memiliki tanggung jawab untuk memastikan pasokan mineral kritis serta menyediakan harga pasar yang stabil.

“Kami berharap negara-negara anggota bersama-sama membangun sebuah kelompok perdagangan yang terdiri dari sekutu dan mitra, yang tidak hanya menjamin kekuatan industri Amerika Serikat, tetapi juga memperluas skala produksi di seluruh kawasan. Manfaatnya akan langsung terasa dan bersifat jangka panjang,” katanya. 

Vance juga menyebutkan bahwa Amerika Serikat berniat menetapkan kembali harga perdagangan minimum untuk logam tanah jarang, guna mencegah strategi dumping oleh pihak asing yang dapat merugikan kepentingan AS dan para sekutunya.

Wartawan melaporkan: “Latar belakang pertemuan ini adalah peluncuran baru-baru ini oleh Presiden AS Donald Trump atas sebuah proyek cadangan strategis mineral kritis bernama ‘Project Vault’ (Proyek Gudang Emas). Proyek ini didanai oleh Bank Ekspor-Impor Amerika Serikat (U.S. Export-Import Bank) dengan modal awal sebesar 10 miliar dolar AS, ditambah 2 miliar dolar AS dari pendanaan swasta. Dalam konferensi tersebut, Menteri Luar Negeri Rubio secara langsung menyebut PKT perlu dilibatkan dalam setiap perundingan pembatasan senjata nuklir di masa depan.”

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan : “Presiden Trump sebelumnya telah dengan jelas menyatakan bahwa untuk mencapai pengendalian senjata yang nyata di abad ke-21, tidak mungkin mengabaikan Tiongkok (PKT), karena persenjataan mereka sangat besar dan berkembang dengan cepat.”

Menurut laporan media asing, Uni Eropa akan mengajukan proposal kepada Amerika Serikat untuk merumuskan arah kerja sama strategis dalam waktu tiga bulan, dengan tujuan memperoleh pasokan mineral kritis tanpa bergantung pada PKT. UE juga berharap dapat menyelesaikan perundingan terkait dalam 30 hari ke depan.

Rubio menambahkan: “Saat ini, sumber daya tersebut sangat terkonsentrasi di tangan satu negara. Dalam skenario terburuk, hal ini dapat digunakan sebagai alat dalam permainan geopolitik. Selain itu, setiap kejadian mendadak—seperti pandemi atau gejolak politik—juga dapat memberikan dampak besar.”

Kolumnis Epoch Times Wang He berkomentar: “Amerika Serikat kini sedang mendorong restrukturisasi rantai pasok global untuk mineral kritis. Inilah yang dilihat banyak pihak sebagai daya tarik ‘model Amerika’ di luar model PKT, serta kepemimpinan pemerintahan Trump.”

Saat ini, lebih dari 10 negara telah menandatangani perjanjian kelompok perdagangan mineral kritis dengan Amerika Serikat, dan 20 negara lainnya menunjukkan “minat yang sangat kuat” untuk bergabung dengan aliansi tersebut.

Laporan oleh wartawan New Tang Dynasty Television Yu Liang dan Tang Cheng, wawancara dari New York.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
4 Tim Asal Filipina dan Vietnam Siap Bertarung di Semifinal CrossFire: Legends Championship (CFLC) 2025–2026
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Siswa SD di Ngada Akhiri Hidup, Alissa Wahid Ungkap Luka Sunyi di Balik Tawa Anak | ROSI
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Saktinya Barang Impor KW dari PT Blueray Lolos dari Pemeriksaan Fisik Setelah Berkomplot dengan Oknum Bea Cukai
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
BRI Super League: Van Gastel Pastikan Jop van der Avert Absen pada Laga PSIM Vs Persis di Derbi Mataram
• 21 jam lalubola.com
thumb
Kementerian ESDM Siap Lelang 110 Blok Migas pada 2026
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.