JAKARTA, KOMPAS.TV - Seorang anak kelas 4 SD di Kabupaten Ngada, NTT, diduga mengakhiri hidupnya lantaran tak mampu membeli buku dan pena seharga kurang dari 10 ribu rupiah.
Tragedi meninggalnya seorang anak mengguncang nurani publik. Surat yang ditinggalkan korban menyisakan luka, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi kita semua sebagai masyarakat.
Psikolog keluarga, Alissa Wahid, menegaskan bahwa secara psikologis, usia 10 tahun adalah fase di mana anak seharusnya memandang dunia dengan penuh sukacita. Dunia yang sederhana, minim beban, dan dipenuhi rasa aman.
Namun ketika seorang anak di usia tersebut memilih mengakhiri hidupnya, itu menandakan kondisi psikologis yang sangat genting.
Alissa menekankan, persoalan ini bukan soal nominal atau kejadian tunggal. Anak yang dikenal periang dan penuh tawa justru kerap menyimpan luka paling dalam.
Alissa menilai kasus ini menjadi alarm serius bagi sistem perlindungan anak di Indonesia.
Anak yang memutuskan mengakhiri hidupnya, menurut Alissa, bukan karena ingin mati, melainkan karena meyakini bahwa keberadaannya tidak lagi bermakna.
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/fXp27lsQ16U
**diskusi ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu untuk bercerita dan berkonsultasi kepada ahli.
#siswa #alissawahid #kpai
Penulis : Elisabeth-Widya-Suharini
Sumber : Kompas TV
- siswa
- ngada
- ntt
- alissa wahid
- kpai

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5494716/original/071093100_1770309327-WhatsApp_Image_2026-02-05_at_23.13.19.jpeg)


