Mengapa Banyak Anak Muda Memilih Putus saat Diselingkuhi?

grid.id
4 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Perselingkuhan sudah menjadi isu yang umum, terutama di kalangan anak muda.

Cerita tentang hubungan yang kandas akibat orang ketiga kini mulai banyak dibahas, baik di media sosial maupun lingkungan sehari-hari.

Paparan mengenai informasi ini membuat generasi muda semakin terbuka membicarakan batas dalam hubungan romantis, termasuk soal kesetiaan dan kejujuran.

Seiring berubahnya cara memaknai relasi, perselingkuhan kerap menjadi momen penentu bagi keberlanjutan sebuah hubungan.

Jika generasi sebelumnya menganggap sikap memaafkan sebagai bentuk kedewasaan, kini banyak anak muda yang memilih mengakhiri hubungan ketika perselingkuhan terungkap.

Gambaran ini tecermin dalam survei IDN Times pada 2025 terhadap 350 responden berusia 21-30 tahun.

Hasil survei menunjukkan bahwa pengalaman bersentuhan dengan perselingkuhan bukanlah hal langka.

Sebanyak 35,7 persen responden mengaku pernah menjadi korban perselingkuhan, sementara 19,1 persen pernah berada di posisi korban sekaligus pelaku.

Mayoritas responden dalam survei tersebut adalah perempuan, dengan proporsi mencapai lebih dari delapan puluh persen.

Perselingkuhan di mata anak muda

Dari sudut pandang korban, perselingkuhan dianggap sebagai bentuk pengkhianatan yang meninggalkan dampak emosional besar, mulai dari rasa kecewa hingga hilangnya kepercayaan terhadap pasangan.

Ketika ditelusuri lebih jauh, alasan terjadinya perselingkuhan juga tidak selalu berkaitan dengan hubungan intim.

Dalam survei yang sama, hampir setengah responden menilai peluang atau kesempatan sebagai pemicu utama perselingkuhan.

Faktor lain yang kerap disebut adalah rasa bosan serta masalah emosional yang tidak terselesaikan dalam hubungan.

Temuan ini menunjukkan bahwa perselingkuhan sering tumbuh dari relasi yang sudah menyimpan ketegangan sejak awal.

Pandangan tentang penyebab perselingkuhan pun sejalan dengan temuan riset psikologi hubungan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Sex & Marital Therapy menjelaskan konsep deficit model of infidelity, yang menggambarkan perselingkuhan sebagai konsekuensi dari kekurangan dalam hubungan.

Ketika kebutuhan emosional tidak terpenuhi atau kepuasan relasional menurun, sebagian orang mencari pemenuhan tersebut di luar hubungan utamanya.

Dalam situasi tersebut, perselingkuhan tidak dipandang sebagai kesalahan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai indikator bahwa hubungan sudah tidak berjalan sehat.

Memilih putus setelah pasangan berselingkuh

Ketika pengkhianatan terjadi, dampaknya tidak berhenti pada rasa kecewa.

Studi yang juga dimuat dalam Journal of Sex & Marital Therapy menunjukkan bahwa perselingkuhan dapat memicu trauma emosional yang sulit dilupakan.

Kepercayaan yang rusak membuat sebagian orang kesulitan kembali merasa aman dalam hubungan yang sama.

Proses pemulihan yang panjang dan tidak selalu berhasil membuat banyak korban perselingkuhan menilai bahwa melanjutkan hubungan justru berisiko memperpanjang luka.

Dalam konteks ini, mengakhiri hubungan kerap dipandang sebagai pilihan bijak untuk melindungi kesehatan emosional dan mencegah terbukanya kembali luka yang sama.

Masih dikutip dari survei IDN Times, sebanyak 53,4 persen responden mengaku memilih langsung mengakhiri hubungan setelah mengetahui pasangannya berselingkuh.

Adapun 40,1 persen responden memilih memaafkan dan memberi kesempatan kepada pasangan untuk menjelaskan dan mempertimbangkan langkah selanjutnya sebelum mengambil keputusan.

Hanya 1,1 persen yang mengaku bereaksi secara agresif, seperti membalas selingkuh atau melabrak pihak ketiga.

Trauma dan trust issue

Selain trauma emosional, keputusan untuk mengakhiri hubungan juga dipengaruhi oleh kekhawatiran (trust issue) bahwa perselingkuhan berpotensi terulang.

Dalam survei yang sama, persepsi tentang selingkuh sebagai perilaku yang cenderung berulang terbagi dalam dua pandangan.

Sebanyak 53,8 persen responden percaya bahwa perselingkuhan bersifat adiktif, sehingga orang yang pernah melakukannya berpotensi mengulang kesalahan yang sama dan sulit berubah.

Di sisi lain, 46,2 persen responden masih meyakini bahwa pelaku perselingkuhan dapat berubah dan tidak selamanya mengulangi perilaku tersebut.

Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu keputusan yang berlaku untuk semua orang.

Baik memilih bertahan maupun mengakhiri hubungan dapat menjadi pilihan bijak, selama diambil dengan kesadaran penuh terhadap risiko, batasan diri, dan kesiapan emosional masing-masing.

 

Meski demikian, dominannya pandangan bahwa perselingkuhan cenderung kambuh memberi gambaran mengapa sebagian besar anak muda bersikap lebih tegas.

Keraguan terhadap kemungkinan perubahan pasangan membuat melanjutkan hubungan dipandang berisiko membuka luka yang sama di kemudian hari.

Bagi sebagian anak muda, mengakhiri hubungan bukan semata bentuk reaksi emosional, melainkan upaya menjaga diri dari siklus kekecewaan dan ketidakpastian yang berulang, sekaligus menegaskan batas dalam relasi yang mereka bangun.

 Dalam situasi seperti ini, keputusan untuk berpisah kerap dipahami sebagai pilihan bijak versi masing-masing individu. 

 

 

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jelang Lebaran, Pemerintah Siapkan Diskon Tiket Pesawat hingga 18 Persen
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Anak Buah Purbaya Ditangkap KPK, Berawal dari Impor Barang KW Milik Bos Blueray Cargo
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Fahidin HDK Minta Maaf atas Kegaduhan Demo di Paripurna HUT Bulukumba, Sesalkan Cara Penyampaian Aspirasi
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Ketua DPD RI Tegaskan Regulasi Desa Tak Bisa Tambal Sulam, Lingkungan Jadi Sorotan
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Komplotan di Yogya Gembosi Ban Mobil Pakai "Sandal Ranjau", Gasak Rp 243 Juta
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.