Kata Rosan Roeslani soal Outlook Negatif Moody’s dan Peran Danantara

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani merespons perubahan outlook peringkat Indonesia oleh Moody’s Ratings yang menjadi negatif. Ia menegaskan, penilaian tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi kelembagaan dan menjaga kepercayaan pasar, terutama di tengah proses pembangunan institusi Danantara sebagai sovereign wealth fund (SWF) baru Indonesia.

Rosan menjelaskan, Danantara secara aktif mencermati revisi outlook Moody’s dalam kerangka evaluasi berkelanjutan terhadap kebijakan dan penguatan institusi ekonomi nasional. Menurutnya, masukan dari lembaga pemeringkat global tersebut dipandang sebagai pengingat yang konstruktif agar arah kebijakan tetap jelas dan konsisten.

“Danantara Indonesia mencermati revisi outlook terbaru Moody’s Ratings terkait Indonesia dalam konteks melakukan evaluasi berkelanjutan atas kebijakan serta penguatan kelembagaan perekonomian nasional,” ujar Rosan dalam keterangan resminya, Jumat (6/2).

Ia menekankan bahwa perubahan outlook tidak mengubah fakta bahwa peringkat kredit Indonesia masih berada di level investment grade. Kondisi tersebut mencerminkan kepercayaan terhadap ketahanan makroekonomi, disiplin fiskal, serta prospek pertumbuhan jangka panjang Indonesia. Namun, Rosan menggarisbawahi pentingnya reformasi kelembagaan dan konsistensi kebijakan untuk menjaga momentum pembangunan.

Sebagai SWF yang baru dibentuk, Danantara saat ini berada dalam fase pembangunan institusi. Rosan menyebut, fondasi utama Danantara berjangkar pada tata kelola yang kuat, proses investasi yang disiplin, serta manajemen risiko yang pruden sesuai praktik terbaik global. Penguatan landasan tersebut dilakukan secara bertahap untuk menjaga kredibilitas institusi dan meningkatkan kepercayaan pasar.

“Sebagai sovereign wealth fund yang baru didirikan, Danantara Indonesia berada dalam fase pembangunan institusi, yang berjangkar pada tata kelola yang kuat, proses investasi yang disiplin, serta manajemen risiko yang pruden sesuai praktik terbaik global,” katanya.

Rosan juga memaparkan peta jalan tata kelola Danantara yang difokuskan pada sejumlah prioritas utama. Di antaranya penerapan struktur pengambilan keputusan dan fungsi pengawasan berstandar global di seluruh siklus investasi, penguatan kerangka manajemen risiko terpadu, serta memastikan investasi dilakukan secara pruden dengan alokasi modal berbasis kelayakan komersial dan disiplin portofolio jangka panjang. Selain itu, Danantara juga mendorong peningkatan transparansi, akuntabilitas, dan standar tata kelola di seluruh portofolio BUMN.

Menurut Rosan, langkah-langkah tersebut menjadi kunci untuk menjawab kekhawatiran pasar terkait kewenangan Danantara atas aset BUMN dan kebijakan dividen sebagaimana disoroti Moody’s. Dengan tata kelola dan manajemen risiko yang kuat, Danantara diharapkan mampu menjalankan mandatnya tanpa mengganggu kesehatan keuangan BUMN.

“Danantara Indonesia akan terus beroperasi secara profesional, akuntabel, dan transparan guna menjalankan peran kami sebagai pengelola aset negara yang kredibel bagi masa depan Indonesia,” kata Rosan.

Sebelumnya, Moody’s Ratings menilai pembentukan Danantara memunculkan ketidakpastian baru, khususnya terkait sumber pendanaan, tata kelola, serta arah prioritas investasi pemerintah. Penilaian tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong Moody’s menurunkan outlook peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski peringkat kredit tetap dipertahankan di level Baa2.

Dalam laporannya, Moody’s menyoroti besarnya kewenangan Danantara dalam mengelola aset BUMN yang nilainya melampaui USD 900 miliar atau setara sekitar 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Indonesia pada 2025. Di sisi lain, Danantara juga mengemban agenda besar, mulai dari restrukturisasi BUMN, peningkatan imbal hasil, hingga penyaluran investasi ke sektor-sektor prioritas nasional.

Moody’s juga menilai kewenangan Danantara dalam menentukan kebijakan dividen BUMN berpotensi memberi tekanan pada kondisi keuangan perusahaan pelat merah. Selama ini, dividen BUMN menjadi salah satu sumber pendanaan penting, termasuk bagi perbankan BUMN yang pada 2025 tercatat meningkatkan setoran dividennya. Tanpa dukungan tata kelola dan manajemen risiko yang kuat, tekanan tersebut dinilai dapat memengaruhi profil keuangan BUMN ke depan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ketum DNIKS Gus Choi: Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas di Daerah Belum Optimal
• 10 jam lalujpnn.com
thumb
Modus Korupsi Importasi Bea Cukai, Barang KW Lolos Tanpa Pemeriksaan
• 17 jam lalukompas.com
thumb
Pramono Targetkan Transjakarta Rute Blok M-Bandara Soetta Beroperasi Sebelum Lebaran
• 9 jam laluliputan6.com
thumb
Anggota DPR: Hak Kesehatan Tak Boleh Kalah oleh Prosedur Administratif
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Bukan Cuma Wakil, KPK Juga Amankan Ketua PN Depok dalam OTT Semalam
• 3 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.