Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah ke level Rp16.876 pada perdagangan hari ini, Jumat (6/2/2026). Rupiah melemah bersama dengan mata uang Asia lainnya.
Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup melemah 0,20% ke level Rp16.876 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS menguat 0,03% ke 97,85.
Mata uang lainnya di Asia ditutup bervariasi. Yen Jepang naik 0,10%, dolar Hong Kong menguat 0,03%, dolar Singapura menguat 0,09%, dolar Taiwan melemah 0,03%, dan won Korea Selatan turun 0,40%.
Kemudian peso Filipina menguat 0,21%, yuan China melemah 0,03%, ringgit Malaysia melemah 0,01%, dan baht Thailand menguat 0,39%.
Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan sentimen dari global datang dari para pejabat AS dan Iran yang dijadwalkan bertemu di Oman, setelah Washington mengerahkan setidaknya dua armada angkatan laut di wilayah tersebut.
Pasar berharap bahwa pembicaraan antara Teheran dan Washington akan membantu meredakan beberapa ketegangan dan mencegah perang yang lebih luas.
Namun, AS dan Iran terlihat berbeda pendapat mengenai subjek pembicaraan, dengan Iran menolak seruan AS untuk membahas persenjataan rudalnya dan menyatakan bahwa diskusi hanya akan terbatas pada pembahasan ambisi nuklir Teheran.
Iran adalah produsen minyak utama, dan terletak di sebelah Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia untuk minyak mentah.
Selain itu, data pemutusan hubungan kerja Challenger menunjukkan perusahaan-perusahaan AS memangkas jumlah karyawan pada bulan Januari dengan laju tercepat sejak resesi besar tahun 2009.
Data lain menunjukkan peningkatan klaim pengangguran mingguan yang lebih besar dari perkiraan, sementara data lowongan kerja untuk bulan Desember juga di bawah ekspektasi.
Dari dalam negeri, sentimen datang dari lembaga pemeringkat, Moody’s Ratings yang menurunkan rating outlook atau prediksi utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski peringkat utang Indonesia dipertahankan di level layak investasi alias investment grade.
Perubahan ini mencerminkan kebijakan yang makin sulit ditebak, kekhawatiran terhadap tata kelola, dan meningkatnya ketidakpastian yang bisa mempengaruhi kepercayaan investor.
Apabila kondisi ini terus berlanjut, Moody’s memperkirakan akan menggerus kepercayaan terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama dibangun. Meski begitu, Moody’s tetap mempertahankan rating Indonesia di Baa2. Artinya, Indonesia masih tergolong di kelompok investment grade.
Adapun penurunan rating ini menambah deretan peringatan terhadap meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya tata kelola pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Moody’s juga menyoroti tantangan yang dihadapi pemerintahan Prabowo dalam upaya memulihkan kepercayaan pasar dan mencegah aksi jual besar-besaran aset Indonesia.
Adapun Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah akan ditutup melemah pada rentang Rp16.870-Rp16.920 untuk Senin depan, dengan rentang untuk pekan depan pada level Rp16.750-Rp17.200 per dolar AS.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



