Bisnis.com, JAKARTA – Perdagangan hari Jumat (6/2/2026) diakhiri dengan koreksi indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kondisi ini dinilai menjadi cerminan persepsi investor yang memburuk dengan kondisi dan outlook perekonomian nasional saat ini.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun dalam dua hari perdagangan terakhi pasca dua hari perdagangan sebelumnya konsisten menguat. IHSG mengakhiri perdagangan ke level 7,935 yang mencerminkan koreksi 4,73% dalam sepekan terakhir.
Sementara itu, kurs rupiah ditutup melemah 0,20% ke level Rp16.876 per dolar AS. Adapun, indeks dolar AS menguat 0,03% ke 97,85.
Sentimen negatif utamanya berasal dari pengumuman lembaga pemeringkat utang Moody's Ratings yang menurunkan outlook peringkat Indonesia menjadi negatif, dari sebelumnya di stabil.
Alasannya, kredibilitas pemerintah terhadap penyusunan kebijakan dan pengelolaan fiskal relatif rendah sehingga berimbas ke turunnya kepercayaan investor. Faktor lain yang dikeluhkan adalah tata kelola fiskal yang kurang ideal lantaran terlalu banyak meminta bantuan moneter untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai dalam jangka pendek hasil peringkat Moody's Ratings itu menjadi sentimen negatif di pasar karena memperkuat persepsi perlambatan ekonomi dan risiko fiskal.
Baca Juga
- IHSG Ditutup Turun 2,08% Usai Moody's Turunkan Outlook RI, Kapan Bisa Rebound?
- Pertaruhan Kepercayaan Pasar saat Politisi Muncul dalam Bursa Ketua OJK
- Kejar Target Revisi Free Float 15% demi MSCI Saat Pasar Masih Gamang
"Dampaknya bisa berupa tekanan arus dana asing, volatilitas meningkat, dan rotasi ke saham defensif. Namun, efeknya cenderung lebih bersifat psikologis dan jangka pendek, selama fundamental emiten besar tetap solid," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (6/2/2026).
Di sisi pasar modal, David menilai agar persepsi investor membaik otoritas perlu fokus pada konsistensi kebijakan, kredibilitas komunikasi, dan penguatan tata kelola pasar. Menurutnya, investor sangat sensitif terhadap ketidakpastian regulasi, sehingga stabilitas aturan dan roadmap yang jelas menjadi kunci.
"Selain itu, penegakan hukum terhadap manipulasi pasar dan saham gorengan harus lebih tegas agar meningkatkan kepercayaan terhadap fairness pasar," tegasnya.
Selanjutnya, David melihat dari sisi makro otoritas juga perlu menjaga disiplin fiskal, stabilitas rupiah, dan koordinasi kebijakan moneter–fiskal untuk mengurangi risiko sistemik.
Terakhir, pendalaman pasar melalui peningkatan free float, likuiditas, dan peran investor institusi domestik penting untuk membuat pasar lebih resilien terhadap arus dana asing.
Secara teknikal, David memaparkan level IHSG sekarang berpotensi menguji area support di 7.800–7.900 jika tekanan global dan outflow asing berlanjut.
"Rebound berpotensi terjadi jika ada katalis positif seperti stabilisasi rupiah, inflow asing kembali, atau sinyal stimulus moneter dan fiskal," tandasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/4634415/original/077249600_1698994939-IMG_1340.jpeg)

