Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkapkan dampak penurunan harga komoditas global seperti batu bara hingga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terhadap ekspor Indonesia.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyampaikan bahwa kinerja ekspor Tanah Air pada 2025 tak terlepas dari tantangan global, termasuk kebijakan proteksionisme Amerika Serikat (AS).
Di samping itu, dia menggarisbawahi harga komoditas ekspor utama Tanah Air yang menurun di pasar global sebagai faktor pemberat kinerja ekspor.
“Sebagai contoh adalah CPO tahun 2025 itu harganya turun 16,2%. Kemudian batu bara turun 19,7%. Ini tentu akan mempengaruhi kinerja ekspor terutama untuk komoditas ini, karena komoditas ini ekspornya cukup tinggi,” kata Busan dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026).
Kendati demikian, dia menyebut bahwa Indonesia tetap mempertahankan pertumbuhan ekspor sebesar 6,15% pada tahun lalu, terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang mencapai 7,66%.
Sementara itu, dia menyebut neraca dagang Indonesia mengalami pertumbuhan 31,03% atau surplus sekitar US$41,05 miliar.
Baca Juga
- ESDM Berencana Kerek Porsi DMO Batu Bara di Atas 30%
- Tok! Kemendag Bidik Ekspor 2026 Tumbuh 5,3%-6,9%, Lebih Rendah dari 2025
- Ekspor 2025 Meleset, Mendag Bakal Revisi Target 2026?
“Ini adalah surplus yang ke 68 ya, 68 bulan berturut-turut ya. Mudah-mudahan dalam kondisi apapun di pasar global kita tetap terus meningkatkan ekspor kita,” kata Busan.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total ekspor Indonesia sepanjang 2025 mencapai US$282,91 miliar atau meningkat 6,15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya di level US$266,53 miliar.
Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan target pertumbuhan ekspor 2025 yang ditetapkan Kemendag, yakni 7,1%.
Secara terperinci, nilai ekspor migas tercatat anjlok 17,69% YoY menjadi US$13,07 miliar dari US$15,88 miliar. Sebaliknya, ekspor nonmigas menguat 7,66% YoY dari US$250,65 miliar menjadi US$269,84 miliar.


