S&P Global Ratings masih mempertahankan outlook utang Indonesia stabil pada level BBB atau satu tingkat di atas level investment grade. Namun, lembaga pemeringkat utang global ini memperingatkan peringkatkan utang Indonesia berpotensi turun jika kondisi fiskal Indonesia memburuk.
"Pemburukan kondisi fikal berisiko memberikan tekanan terhadap posisi peringat utang Indonesia, kecuali jika ada perbaikan kualitas pada indikator kredit lainnya," ujar Rain Yin, analis obligasi pemerintah S&P Global Ratings saat dikonfirmasi melalui email oleh Bloomberg, Jumat (6/2).
Risiko penurunan peringkat dapat terjadi jika defisit utang pemerintah mencapai lebih dari 3% terhadap PDB dan pembayaran bunga utang secara konsisten melampaui 15% terhadap pendapatan negara. Sedangkan volatilitas pada harga saham tidak secara material memengaruhi peringat utang Indonesia.
“Kami tidak melihat perekonomian dan kinerja fiskal Indonesia akan terpengaruh secara negatif dan signifikan jika pemerintah merespons dengan langkah yang dapat menjaga kepercayaan investor," kata dia.
Menurut dia, S&P melihat risiko naik dan turunnya peringkat utang secara seimbang. Dalam konteks Indonesia, potensi pertumbuhan ekonomi masih kuat meski basis ekspor dan pendapatan fiskal relatif sempit.
Keputusan S&P Global Ratings berbeda dengan sejawatnya Moody's yang sebelumnya telah memutuskan untuk memangkas outlook ekonomi Indonesia dari stabil menjadi negatif. Namun, Moody's mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level Baa2.
Dalam pengumumannya, Moody's menyoroti kekhawatiran terhadap kebijakan dan tata kelola pemerintah serta meningkatnya ketidakpastian yang dapat melemahkan kepercayaan investor.
Menurut Moody's risiko utama, terutama pada fiskal pemerintah terutama berasal dari ketergantungan yang lebih tinggi pada belanja publik, basis pendapatan yang lemah, dan ketidakpastian tata kelola seputar Danantara dan arah kebijakan anggaran.
Di sisi lain, Moody's tetap mempertahankan peringkat utang di level Baa2 berdasarkan ketahanan Indonesia, yakni pertumbuhan sekitar 5%, defisit di bawah 3% terhadap PDB, dan tingkat utang masih di bawah negara-negara dengan peringkat yang sama. Namun, peringatkat utang tersebut dipertahankan dengan asumsi disiplin kebijakan yang berkelanjutan.


