Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga pemeringkat Moody’s Ratings memangkas outlook tiga perusahaan pembiayaan Indonesia dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI/Indonesia Eximbank) dari stabil menjadi negatif, menyusul perubahan outlook peringkat kredit Indonesia.
Kendati demikian, lembaga pemeringkat global itu tetap menegaskan peringkat (rating) yang saat ini ada di masing-masing entitas tetap dipertahankan.
Melalui keterangan resminya pada Jumat (6/2/2026), Moody’s menyampaikan tiga perusahaan pembiayaan yang dipangkas outlook-nya adalah PT Astra Sedaya Finance (ASF), PT Federal International Finance (FIF), dan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI.
Moody’s menjelaskan, perubahan outlook menjadi negatif ini dipicu oleh outlook negatif peringkat Indonesia di level Baa2. Lembaga ini menilai ada peningkatan risiko terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah, terutama terkait menurunnya prediktibilitas dan efektivitas komunikasi kebijakan.
“Jika berlanjut, tren ini dapat menggerus kredibilitas kebijakan yang telah lama terbangun, yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi yang solid serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan,” tulis pengumuman Moody’s.
Moody’s tetap mempertahankan peringkat Indonesia di level Baa2 karena ketahanan ekonomi masih terjaga, yang didukung oleh faktor-faktor struktural seperti sumber daya alam yang kuat dan demografi yang solid, sehingga menopang pertumbuhan PDB yang stabil dan baik.
Baca Juga
- Moody's Pangkas Outlook 5 Bank Jumbo RI
- Memahami Dampak Berantai Pengumuman MSCI sampai Moody's Ratings bagi RI
- Menakar Peluang Rebound Yield SUN Usai Dihempas Pengumuman Moody's
“Namun, apabila peringkat kredit Indonesia diturunkan, hal tersebut akan berujung pada penurunan peringkat Indonesia Eximbank dan PT SMI, mengingat peringkat keduanya mencakup dukungan pemerintah.” .
Selain itu, penurunan peringkat kredit juga akan memicu penurunan peringkat ASF dan FIF, karena kedua entitas ini dibatasi oleh peringkat kredit Indonesia.
Penjelasan Skor RatingUntuk PT SMI, Moody’s menilai skornya berada di level ba2 atau empat tingkat lebih rendah dibandingkan skor awal yang sebesar Baa1. Perbedaan ini mencerminkan eksposur PT SMI terhadap pembiayaan proyek infrastruktur yang umumnya berisiko lebih tinggi dan berjangka panjang.
Selain itu, penilaian tersebut pun mempertimbangkan proyeksi perubahan pada kondisi permodalan dan tingkat profitabilitas perseroan ke depan.
Sementara itu untuk LPEI atau Indonesia Eximbank, Moody’s menetapkan skor sebesar b2, dua tingkat di bawah skor awal yakni Ba3. Penetapan ini mencerminkan kondisi lingkungan operasional tempat perusahaan beroperasi, termasuk sifat harga komoditas yang volatil.
“Yang menyumbang porsi signifikan terhadap ekspor nasional, serta lemahnya likuiditas di neraca perusahaan,” tulis Moody’s.
Adapun untuk PT ASF, Moody’s memberikan skor sebesar ba1 atau dua tingkat di bawah skor awal yang sebesar Baa2. Penetapan ini mencerminkan kondisi lingkungan operasional tempat perusahaan beroperasi, sifat siklikal dalam bisnis pembiayaan kendaraan bermotor.
“Dan penilaian kualitatif kami atas kemampuan perusahaan dalam mengakses pendanaan pada saat dibutuhkan,” sebutnya.
Terakhir, Moody’s memberikan skor untuk PT FIF sebesar ba1, ditetapkan tiga tingkat di bawah skor awal sebesar Baa1. Alasan pemberian skor seperti itu adalah sama dengan alasan untuk PT ASF.
Data Perusahaan yang Ditampilkan Moody’s:- PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI: Total aset Rp116 triliun (per 30 Juni 2025)
- Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI/Indonesia Eximbank): Total aset Rp43,7 triliun (per 30 September 2025)
- PT Astra Sedaya Finance (ASF): Total aset Rp42,3 triliun (per 30 Juni 2025)
- PT Federal International Finance (FIF): Total aset Rp50,4 triliun (per 30 September 2025)
---------------
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





