Jakarta, VIVA – Industri film Indonesia kembali kedatangan karya yang menawarkan perspektif tak biasa. Lewat film terbarunya berjudul Tanah Runtuh, Denny Siregar mengambil langkah berani dengan menempatkan anak dengan Down syndrome sebagai tokoh utama—bukan sebagai pelengkap cerita, apalagi objek simpati.
Diproduksi oleh Denny Siregar Production, Tanah Runtuh hadir sebagai drama keluarga yang bergerak dalam nada sunyi dan intim. Film ini menyoroti hubungan persaudaraan dan ikatan keluarga di tengah situasi kehilangan, keterbatasan, serta kondisi hidup yang rapuh. Scroll untuk info lengkapnya, yuk!
Alih-alih menjadikan disabilitas sebagai sumber konflik, film ini justru menempatkannya sebagai bagian alami dari kehidupan tokohnya.
Kisah berpusat pada dua anak kecil yang menjadi jantung narasi. Perjalanan mereka bukan sekadar fisik, melainkan juga emosional—sebuah upaya bertahan di dunia yang tidak selalu ramah. Dengan dialog yang minimal, film ini mengandalkan kekuatan gestur, suasana, dan relasi antarkarakter untuk menyampaikan emosi.
Film ini merupakan buah kolaborasi Denny Siregar dengan sutradara Rudi Soedjarwo setelah sebelumnya sukses lewat Sayap-Sayap Patah (2022). Namun kali ini, keduanya memilih pendekatan yang jauh lebih personal. Tanah Runtuh tidak menawarkan konflik besar atau dramatika berlebihan, melainkan menghadirkan luka-luka kecil yang sering luput dari perhatian, tetapi membekas dalam kehidupan sehari-hari.
Lingkungan dalam film digambarkan rapuh dan penuh ketidakpastian. Di tengah kondisi tersebut, ikatan emosional antarmanusia menjadi satu-satunya tempat berpijak. Hubungan dua tokoh anak dibangun melalui ketergantungan yang saling menguatkan, menghadirkan potret persaudaraan yang hangat sekaligus jujur.
Lewat Tanah Runtuh, Denny Siregar ingin membuka ruang diskusi tentang penerimaan dan empati. Film ini menolak narasi bahwa anak dengan Down syndrome adalah beban, dan sebaliknya menampilkan mereka sebagai individu yang utuh, kuat, dan relevan dalam cerita.
Dengan atmosfer yang lirih dan narasi yang membumi, Tanah Runtuh diproyeksikan menjadi film reflektif yang meninggalkan kesan emosional mendalam. Sebuah karya yang sederhana dalam penyajian, namun berani dalam gagasan—dan berpotensi memperluas cara pandang penonton tentang keluarga, cinta, dan ketahanan manusia.




