Saya sering melihat orang belajar seni sambil duduk di lantai.
Tanpa papan tulis, tanpa modul, bahkan tanpa rencana yang jelas.
Ada gitar yang belum disetem sempurna, ada alat musik yang dipinjamkan, ada jeda-jeda canggung sebelum bunyi pertama keluar. Kadang latihan berjalan, kadang berhenti karena satu orang lupa masuk, yang lain terlalu cepat, yang lain lagi menunggu isyarat yang tak kunjung datang.
Namun, justru di situ proses belajar berlangsung.
Orang belajar mendengar.
Belajar menunggu.
Belajar menyesuaikan diri dengan orang lain yang cara berpikir dan ritmenya berbeda.
Anehnya, pengalaman semacam ini jarang disebut sebagai “pengetahuan”. Ia lebih sering dianggap latihan teknis, kebersamaan informal, atau sekadar pemanasan sebelum tampil. Padahal, banyak hal penting tentang hidup bersama justru dipelajari di ruang-ruang seperti ini.
Pertanyaannya sederhana, tapi mendasar: Mengapa pengalaman belajar seperti ini jarang diakui sebagai bentuk pengetahuan yang sah?
Di kampus, belajar biasanya diukur dari kejelasan tujuan dan hasil. Ada rencana pembelajaran, capaian, evaluasi, dan penilaian yang terstruktur. Semua harus bisa dijelaskan, dituliskan, dan dipertanggungjawabkan secara formal.
Tidak ada yang salah dengan itu. Masalahnya muncul ketika hanya model belajar seperti itulah yang dianggap sah.
Dalam praktik seni—terutama yang tumbuh dari komunitas—belajar sering berlangsung melalui proses panjang yang tidak rapi. Ia terjadi lewat pengulangan, kesalahan, imitasi, pergaulan, bahkan konflik kecil. Banyak pengetahuan tidak diajarkan secara eksplisit, tetapi diserap perlahan melalui keterlibatan langsung.
Kita tahu kapan harus masuk, kapan menahan diri, kapan membiarkan orang lain memimpin—tanpa pernah ada yang mengajarkannya secara tertulis. Kita tahu “rasanya” ketika sebuah musik hidup, meski sulit menjelaskannya dengan kata-kata.
Ini bukan kekurangan. Ini cara kerja manusia.
Masalahnya, ketika seni masuk ke dunia akademik, ia sering dipaksa menyerupai disiplin lain agar dianggap setara. Harus rapi. Harus sistematis. Harus bisa diuji dengan ukuran yang seragam. Akibatnya, banyak aspek penting dari seni justru tersingkir: kepekaan, pengalaman tubuh, dan pengetahuan yang tumbuh dari relasi sosial.
Seni kemudian direduksi menjadi keterampilan, hiburan, atau pelengkap kegiatan akademik. Teori dan sejarah seni tetap diajarkan, tetapi sering terputus dari praktik hidup yang melahirkannya. Ia hadir di ruang kelas, tetapi jarang hadir di ruang publik—di festival, di komunitas, di forum sosial tempat seni sebenarnya berakar.
Ironisnya, banyak mahasiswa justru menemukan kedalaman teori dan sejarah seni ketika mereka meneliti praktik hidup di luar kampus: komunitas, tradisi lokal, atau kerja kolektif masyarakat. Artinya, pengetahuan itu ada, tetapi jalur pengakuannya terbatas.
Seni sesungguhnya mengajarkan sesuatu yang sangat dibutuhkan hari ini: kemampuan hidup dalam ketidakpastian dan perbedaan. Dalam musik, tidak semua orang harus menonjol. Dalam pertunjukan, tidak semua peran terlihat. Dalam proses kreatif, kegagalan adalah bagian dari belajar.
Nilai-nilai ini jarang mendapat tempat dalam sistem pendidikan yang semakin instrumentalis: cepat, terukur, dan berorientasi hasil. Di tengah tuntutan efisiensi, seni menawarkan waktu untuk berhenti sejenak, mendengar, dan memahami kompleksitas manusia.
Ini bukan romantisme. Ini keterampilan sosial yang nyata.
Jika pendidikan tinggi ingin tetap relevan, mungkin pertanyaannya bukan lagi "Apakah seni itu ilmu?" melainkan "Apa yang hilang dari pendidikan kita ketika seni hanya diperlakukan sebagai pelengkap?"
Kampus sering dibayangkan sebagai pusat pengetahuan. Padahal, dalam konteks seni, kampus seharusnya berfungsi sebagai simpul: tempat bertemunya berbagai praktik, pengalaman, dan cara mengetahui dunia.
Sebagai simpul, kampus tidak harus selalu menjadi sumber utama. Ia cukup menjadi ruang yang mampu membaca, menerjemahkan, dan memperkuat pengetahuan yang sudah hidup di masyarakat. Ini menuntut kerendahan hati institusional—kesediaan untuk belajar dari luar tembok akademik.
Artinya, riset seni tidak hanya berbentuk tulisan, tetapi juga praktik. Pengajaran tidak hanya berlangsung di kelas, tetapi juga di ruang sosial. Dan pengetahuan tidak hanya diukur dari publikasi, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan bersama.
Ini bukan hal baru. Banyak tradisi pengetahuan berkembang justru melalui keterlibatan langsung, bukan abstraksi. Seni bekerja di wilayah ini: antara tubuh dan pikiran, antara individu dan kolektif, antara yang bisa diucapkan dan yang hanya bisa dialami.
Tantangan terbesarnya bukan teknis, melainkan cara pandang. Selama pengetahuan hanya didefinisikan sebagai sesuatu yang bisa dirumuskan secara formal, seni akan selalu berada di posisi pinggir. Padahal, banyak aspek penting kehidupan—kepercayaan, empati, kepekaan sosial—tidak bekerja dengan logika yang sepenuhnya terukur.
Seni mengingatkan kita bahwa tidak semua yang bermakna bisa disederhanakan. Dan pendidikan yang mengabaikan hal ini berisiko kehilangan dimensi kemanusiaannya.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti menanyakan "Apakah seni cukup “ilmiah”?" dan mulai bertanya "Apakah sistem pengetahuan kita cukup manusiawi?"
Belajar seni di lantai, di panggung kecil, atau di ruang publik yang seadanya mungkin terlihat sederhana. Namun, di sanalah orang belajar menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Dan barangkali, itulah pelajaran paling penting yang bisa ditawarkan seni—bukan hanya untuk kampus, melainkan juga untuk kehidupan bersama.


