BI Pastikan Kenaikan Harga Emas Tak Ganggu Target Inflasi Tahun ini

wartaekonomi.co.id
9 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Pontianak -

Demam emas melanda Indonesia. Terus meroketnya harga emas membuat banyak masyarakat Indonesia tergiur membelinya sebagai salah satu instrumen investasi. Harga emas Antam dan Galeri24 sendiri pada awal tahun 2026 sempat menyentuh rekor tertingginya yakni Rp3 juta per gram. Posisi ini naik dua kali lipat bila dibandingkan awal tahun lalu yang masih senilai Rp1,5 juta per gramnya. 

Kendati begitu, Bank Indonesia (BI) meyakini kenaikan harga emas tidak akan mempengaruhi target inflasi yang disasar bank sentral yakni sebesar 2,5 plus minus 1 persen di tahun ini dan tahun depan.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), Juli Budi Winantya mengatakan, kenaikan harga emas batangan biasanya sejalan dengan emas perhiasan, yang masuk dalam komponen Indeks Harga Konsumen (IHK) atau laju inflasi.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Terpangkas Rp100 Ribu ke Rp2.856.000 per Gram

"Memang ada pengaruhnya, tapi sejauh ini kami melihat tidak mengganggu pencapaian sasaran inflasi kita," ujarnya saat diskusi media di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (6/2/2026).

Menurutnya, sebetulnya yang masuk ke Indeks Harga Konsumen (IHK) atau laju inflasi itu emas perhiasan yang mengikuti perkembangan harga emas logam mulia atau batangan.

Mengacu data resmi laman logammulia.com, harga emas Antam hari ini (6/2/2026) anjlok Rp100.000 menjadi Rp2.856.000 per gram. Tak hanya harga jual, nilai buyback juga terkoreksi cukup dalam. Harga pembelian kembali turun Rp149.000 menjadi Rp2.571.000 per gram, dari sebelumnya Rp2.720.000 per gram.

"Ada dampaknya terhadap inflasi, tapi kita lihat inflasi inti, yang menggambarkan interaksi permintaan penawaran ini masih di level yang cukup rendah, ada di level sekitar 2,4 persen," katanya.

Baca Juga: Bos BI Tegaskan Outlook Negatif Moody’s Tak Cerminkan Pelemahan Ekonomi RI

Adapun pada Januari 2026, inflasi IHK secara tahunan tercatat sebesar 3,55% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 2,92% (yoy). Sementara inflasi inti Januari 2026 tercatat sebesar 2,45% (yoy), meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 2,38% (yoy).

Sedangkan kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 1,14% (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 6,21% (yoy). Lalu kelompok administered prices tercatat inflasi sebesar 9,71% (yoy), lebih tinggi dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,93% (yoy), terutama diakibatkan oleh faktor base effect seiring implementasi kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50% pada Januari-Februari 2025.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KPK akan analisis keterangan saksi soal Ida Fauziyah terima uang
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
KPK Sampai Kejar-kejaran, Terungkap Nego Suap Sengketa Lahan di PN Depok dari Rp1 M Jadi Rp850 Juta
• 10 jam lalusuara.com
thumb
Cuma Cek Ombak, Nissan Navara Pro 4X Belum Dijual di IIMS 2026
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Saran dari Hensa untuk Prabowo jika Gibran Berambisi jadi Capres 2034
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Pilu Gajah Ditemukan Mati di Riau: Ditembak Pemburu, Kepala Dipotong
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.