EtIndonesia. Banyak hal di dunia ini yang sebenarnya sulit dijelaskan dengan logika semata.
Meizi, seorang mahasiswi kedokteran, ternyata menjalani masa magangnya di rumah sakit yang sama dengan lima teman sekamarnya. Karena mengambil jurusan yang sama, mereka semua ditempatkan di bagian kebidanan dan kandungan.
Bisa belajar bersama saat kuliah, lalu kembali bersama saat magang, tentu membuat keenam sahabat itu sangat bahagia.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Sebuah kenyataan pahit harus mereka hadapi: rumah sakit tersebut pada akhirnya hanya dapat mempertahankan satu orang saja.
Bisa bekerja di rumah sakit dengan peringkat tertinggi di tingkat provinsi adalah impian bersama keenam sahabat itu. Tetapi mereka mau tak mau harus menghadapi persaingan yang kejam—jika ada kamu, maka tidak ada aku; jika ada aku, maka tidak ada kamu.
Hari kelulusan semakin dekat, dan persaingan di antara mereka pun semakin terasa. Meski demikian, keenam sahabat itu tetap saling menyemangati dan mendoakan satu sama lain.
Pihak rumah sakit kemudian mengadakan sebuah penilaian untuk menentukan siapa yang akan diterima. Setelah hasil keluar, mereka justru semakin bingung—keenamnya sama-sama luar biasa, sulit untuk memilih satu di antaranya.
Namun kenyataannya, rumah sakit tetap hanya boleh memilih satu orang.
Di antara keenam sahabat itu, mulai ada yang mengatakan bahwa keluarganya berada di provinsi lain dan dia lebih ingin pulang ke kampung halaman. Ada pula yang berkata bahwa rumah sakit di kota kecil tempat asalnya sudah bersedia menerimanya. Kebohongan-kebohongan yang indah itu menyentuh hati banyak orang.
Suatu hari, keenam sahabat itu tiba-tiba menerima panggilan darurat yang sama: seorang ibu hamil akan segera melahirkan dan membutuhkan pertolongan segera di rumahnya.
Mereka bergegas naik ambulans.
Seorang wakil direktur rumah sakit, seorang dokter kepala, enam dokter magang, dan dua perawat—semuanya berangkat bersama untuk menyelamatkan satu pasien. Formasi yang begitu besar membuat keenam sahabat itu merasakan ketegangan yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
Seseorang diam-diam bertanya kepada direktur rumah sakit, pasien seperti apa yang sampai membutuhkan penanganan sebesar ini.
Direktur hanya menjelaskan singkat: “Identitas dan kondisi pasien ini agak khusus. Saya membawa kalian semua agar tidak ada yang kehilangan kesempatan belajar. Perhatikan dan pelajari dengan sungguh-sungguh.”
Suasana di dalam ambulans pun menjadi sunyi.
Rumah pasien berada di lokasi yang terpencil. Setelah ambulans berbelok ke sana-sini dan akhirnya tiba, ibu hamil itu sudah berkeringat hebat karena menahan rasa sakit.
Setelah para tenaga medis mengangkat pasien ke dalam ambulans, muncul sebuah masalah—ambulans sudah penuh sesak, dan suami pasien tidak bisa ikut naik.
Padahal semua orang tahu, saat pasien dibawa ke rumah sakit untuk tindakan darurat, kehadiran anggota keluarga sangat diperlukan untuk mengurus berbagai prosedur.
Tanpa sadar, semua mata tertuju pada wakil direktur. Wakil direktur sedang memeriksa kondisi pasien, lalu tanpa mengangkat kepala berkata singkat : “Cepat jalan!”
Semua orang tertegun. Tak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba, Meizi melompat turun dari ambulans dan memberi isyarat agar suami pasien segera naik.
Ambulans pun melaju kencang menuju rumah sakit. Ketika Meizi terengah-engah tiba kembali di rumah sakit, setengah jam telah berlalu.
Di pintu rumah sakit, ia dihentikan oleh wakil direktur yang ikut dalam operasi penyelamatan.
Wakil direktur bertanya: “Kesempatan belajar seperti itu sangat langka. Mengapa kamu justru turun dari ambulans?”
Sambil mengusap keringat di dahinya, Meizi menjawab : “Di dalam ambulans sudah ada begitu banyak dokter dan perawat. Tanpa saya pun, proses penyelamatan tidak akan terpengaruh. Tetapi tanpa anggota keluarga pasien, penyelamatan justru bisa mengalami kendala yang penting.”
Tiga hari kemudian, hasil seleksi diumumkan. Meizi menjadi orang yang terpilih.
Direktur rumah sakit pun mengungkapkan alasannya: “Operasi penyelamatan tiga hari lalu sebenarnya adalah sebuah ujian tak terduga. Kelak, ke mana pun kalian pergi dan apa pun profesi yang kalian jalani, ingatlah satu kalimat ini: malaikat bisa terbang karena mereka menganggap dirinya ringan.”
Percayakah kamu?
Jika seseorang mampu melepaskan ego, melepaskan semua beban dan keterikatan duniawi, maka dirinya pun akan menjadi ringan—dan juga mampu terbang.
Jika saat ini kita belum bisa melakukannya, bukan karena itu mustahil, melainkan karena kita belum percaya… dan karena ego kita masih terlalu kuat.
Hikmah Cerita
Orang yang berakhlak baik, pasti memiliki keberkahan dalam hidupnya. Banyaknya pertikaian dan konflik di dunia ini bersumber dari sikap manusia yang terlalu berpusat pada diri sendiri.
Jika setiap orang mampu melepaskan ego dan kepentingan pribadi, dunia ini niscaya akan menjadi tempat yang jauh lebih harmonis dan damai.(jhn/yn)



