Asap hitam mengepul dari cerobong kapal perang KRI Sultan Iskandar Muda yang terlihat mendekat dari arah barat. Di Dermaga Madura, Koarmada II, Surabaya, berbagai persiapan penyambutan dilakukan. Keluarga pun berkumpul dan berdesakan sambil mengibarkan bendera plastik berwarna merah putih, Sabtu (7/2/2026).
Dengan iringan musik oleh korps musik Koarmada II, KRI Sultan Iskandar Muda yang putar haluan di sekitar Jembatan Suramadu akhirnya sandar, awak kapal yang merupakan Satuan Tugas (Satgas) Maritime Task Force (MTF) TNI Kontingen Garuda XXVIII-P/UNIFIL tampak gagah berdiri sekeliling anjungan kapal. Dengan sikap posisi badan siap, banyak dari mereka akhirnya ”melanggar” protokol dengan menyambut lambaian tangan keluarga. KRI Sultan Iskandar Muda membawa 120 prajurit, terdiri atas 105 prajurit KRI dan 15 personel komponen pendukung
Mereka kembali ke pangkalan stelah tugas selama 14 bulan di Lebanon, termasuk perjalanan. Sebelumnya, KRI Sultan Iskandar Muda pada Minggu (1/2/2026) pagi berlabuh di Dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Jakarta Utara, yang disambut langsung oleh Kepala Staf (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali.
Karena masih dalam aturan protokol para prajurit tetap harus mengikuti rangkaian acara penyambutan yang disiapkan. Sesaat tiba dan tali kapal tertambat sempurna, Komandan KRI Sultan iskandar Muda Letkot Laut (P) Anugerah Annurullah turun dari kapal dan melapor langsung kepada Panglima Koarmada II Laksamana Muda TNI IGP Alit Jaya. Setelah laporan selesai dengan pakaian kebanggan mereka, para prajurit yang baru tiba dipersilahkan untuk melakukan sujud syukur sebagai tanda tugas telah terlaksana.
Setelah sujud syukur dilakukan, merekapun melakukan yel-yel dan ditutup dengan melemparkan baret mereka ke udara. Sesaat pelemparan baret selesai dan mereka telah menggunakan kembali baret meraka, keluarga langsung menghambur.
Suasana yang sebelumnya tampak kaku khas militer menjadi cair. Suara isak tangis dari istri, anak, dan keluarga prajurit terdengar di dermaga, mengalahkan suara ombak dan angin Selat Madura. Para prajurit yang sebelumnya tampak gagah hilang sementara, mereka menyambut keluarga dengan air mata kerinduan 14 bulan berpisah. “Ayah…” ujar seorang anak dengan pakaian lorengnya menyambut pelukan sang ayah.
Salah seorang anggota Satuan Tugas (Satgas) Maritime Task Force (MTF) TNI Kontingen Garuda XXVIII-P/UNIFIL Lettu Laut (P) Sandi Dharma tampak tidak kuasa menahan haru saat bertemu dengan keluarganya . Anaknya yang berusia satu tahun empat bulan tampak tidak mengenali dirinya. Saat Sandi ingin mencium, anaknya yang digendong oleh istrinya, Ayu Sandi, yang bernama Arkenzi berontak. “Anak saya, saya tinggal saat umur lima hari, jadi wajar tidak mengenali ayahnya,” ujar Sandi.
Ia merasa senang bisa kembali pulang ke keluarga setelah hampir 14 bulan bertugas ke luar negeri. “Saya bangga bisa mewakili Indonesia dalam misi menjaga perdamaian. Apalagi satuan tugas saat ini merupakan satuan tugas MTF terakhir, “ ujar Sandi sambil tetap berusaha menggendong anaknya yang menangis.
Bagi mereka, anggota Satgas, misi yang telah tuntas adalah misi menjaga perdamaian dunia, kini misi lainnya tetap dilakukan yaitu mempertahankan kedaulatan NKRI dan keluarga tentunya.




