Bisnis.com, JAKARTA - Berawal dari pengalaman sederhana membeli tas bermerek yang cepat mengelupas, Stevitri Sarasti menemukan celah sekaligus panggilan bisnisnya. Pada 2013, perempuan asal Bandung ini mendirikan Felistianova, brand sepatu dan tas kulit yang menggabungkan kualitas material dengan kekayaan kain etnik Nusantara.
“Awalnya mama ingin bikin tas yang benar-benar kulit. Dari situ kami berpikir, kenapa tidak sekalian punya misi mengangkat budaya Indonesia,” ujar Stevitri, CEO sekaligus Creative Director Felistianova ditemui di sela pameran Inacraft 2026.
Pilihan Felistianova jatuh pada batik dan tenun, dua material tradisional yang kerap dianggap kuno. Tantangan terbesarnya adalah mengubah persepsi tersebut. Stevitri menjawabnya dengan desain yang modern, premium, dan elegan, agar kain etnik bisa hadir relevan dalam gaya busana masa kini.
Pada awal berdiri, Felistianova hanya memproduksi tas kulit. Namun pada 2017, lini sepatu mulai diluncurkan seiring permintaan pelanggan yang menginginkan tampilan satu set antara tas dan sepatu. Sejak itu, keduanya tumbuh beriringan sebagai pilar utama bisnis.
Secara frekuensi, penjualan sepatu lebih tinggi karena harga yang relatif lebih terjangkau. Sementara tas menyasar segmen middle to high, sehingga secara nilai penjualannya tetap seimbang. “Revenue stream kami juga bukan hanya dari produk sendiri, tapi juga dari pesanan korporat dan maklun,” kata Stevitri.
Pada 2025, komposisi penjualan Felistianova tercatat relatif seimbang antara ritel dan korporat, masing-masing sekitar 50 persen. Melalui skema maklun, Felistianova membuka peluang bagi brand lain dengan minimum order yang relatif rendah, yakni 12 pasang per desain dan warna. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap sesama brand lokal.
Baca Juga
- IFA 2026 Hadirkan Tren Fashion Raya dengan Konsep Sophisticated
- Fashion Sebagai Sarana Ekspresi Budaya dan Penggerak Ekonomi Kreatif
- Tips Nikita Willy dan Suami Memilih Fashion untuk Traveling yang Nyaman
Tagline “Koleksi Nusantara” menjadi identitas kuat Felistianova. Brand ini tidak terpaku pada satu daerah tertentu, melainkan mengangkat keragaman kain dari berbagai wilayah di Indonesia, masing-masing dengan cerita dan karakter unik.
Beberapa koleksi menggunakan material alami seperti kain goni dari batang rosella serta serat daun doyog yang ditenun secara tradisional. “Setiap bahan punya cerita. Itu yang ingin kami sampaikan lewat produk,” ujar Stevitri.
Pendekatan ini menempatkan Felistianova dalam kategori slow fashion, yang mengedepankan kualitas, nilai budaya, dan keberlanjutan relasi dengan pengrajin dibanding produksi massal.
Felistianova sebenarnya telah menjajal pasar internasional sejak awal berdiri. Pada 2013–2014, produk Felistianova sudah dikirim secara satuan ke Eropa, seperti Belgia dan Jerman, melalui marketplace. Namun keseriusan ekspor baru benar-benar dimulai pada 2023, seiring meningkatnya dukungan pemerintah melalui pelatihan dan pameran.
Partisipasi Felistianova dalam Trade Expo Indonesia menjadi titik balik penting. Melalui business matching, Stevitri bertemu dengan perwakilan perdagangan dari berbagai negara dan semakin memahami mekanisme ekspor secara profesional.
Hasilnya terlihat pada 2024, ketika Felistianova berhasil menutup pesanan dari Arab Saudi. Sebanyak 50 tas kulit dipesan dengan desain khusus, termasuk aksesori kunci logam berlapis emas yang terinspirasi dari kunci Ka’bah. Untuk mewujudkannya, Felistianova menggandeng pengrajin khusus yang biasa memproduksi lencana logam presisi.
“Dari situ kami makin yakin, produk berbasis budaya Indonesia punya tempat di pasar global,” kata Stevitri.





