Jerman Siaga, Mata-mata Iran Incar Jantung Militer Bundeswehr

republika.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah eskalasi geopolitik yang semakin membara, Uni Eropa baru saja menarik garis tegas dengan menetapkan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris. Manuver ini, yang disahkan oleh Parlemen Eropa pada akhir 2025, bukan sekadar simbolik: ia membekukan aset, membatasi pergerakan, dan menargetkan sejumlah tokoh kunci IRGC seperti komandan elitnya, yang dituduh mendukung proksi teroris di Timur Tengah dan Eropa.

Langkah ini seperti menusuk sarang lebah, memicu reaksi keras dari Teheran yang melihatnya sebagai deklarasi perang ideologis, sementara bagi Brussel, ini adalah benteng pertahanan untuk melindungi stabilitas kawasan dari pengaruh destruktif IRGC.

Baca Juga
  • Iran Siapkan Kartu Terakhir: Houthi Aktifkan Senjata yang Belum Pernah Digunakan
  • Usai Oasis Diplomasi di Oman, Amerika Langsung Jatuhkan Sanksi Baru untuk Iran
  • Perundingan Amerika dan Iran di Oman, Siapa yang akan Mengalah?

Tak ayal, keputusan UE ini memicu balasan cepat dari Iran, yang membalas dengan melabeli angkatan bersenjata Eropa, termasuk Bundeswehr Jerman, sebagai "kelompok teroris". Ini bukan sekadar retorika; ini adalah permainan catur geopolitik di mana setiap pion yang digerakkan bisa memicu ledakanm sebagaimana diberitakan Euronews.

Bagi Jerman, negara dengan sejarah pasca-perang yang sensitif terhadap isu keamanan, ini seperti bayangan gelap yang merayap ke dalam bentengnya sendiri, mengancam tidak hanya tentara tapi juga fondasi demokrasinya. Pertanyaannya: seberapa dalam akar intelijen Iran telah menembus, dan apakah Eropa siap menghadapi badai yang akan datang?

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Angkatan Bersenjata Jerman (Bundeswehr) kini menjadi sasaran utama dinas intelijen Iran, dengan otoritas Berlin memperingatkan peningkatan spionase, serangan siber, dan ancaman langsung. Langkah Iran ini dipandang sebagai reaksi langsung terhadap penetapan IRGC sebagai teroris oleh UE, sebuah keputusan yang telah memperburuk hubungan yang sudah tegang.

Konstantin von Notz, ketua Komite Pengawasan Parlemen dari Partai Hijau, menggambarkan situasi ini sebagai "ancaman baru yang nyata" terhadap fasilitas dan personel Bundeswehr, menekankan bahwa balasan Teheran bukan hanya kata-kata kosong tapi strategi untuk mengganggu keseimbangan kekuatan Eropa.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jakarta Jadi Magnet Dunia Digital, 900 Pemimpin Internet Global Hadir di APRICOT 2026
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Sebelum Ketua PN Depok Tertangkap, Ada Sepucuk Surat Penting
• 15 jam lalujpnn.com
thumb
MUI Serukan Penanganan Bencana yang Partisipatif dan Manusiawi
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Longsor Cisarua Masuk Masa Pemulihan, 24 Korban Masih Belum Ditemukan
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
Polisi: 1 Penjual Anak di Jakbar Kenal dengan Pelaku di Kasus Penculikan Bilqis
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.