JAKARTA, DISWAY.ID - Kendati kondisinya cenderung masih tidak stabil, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekonomi pada triwulan IV 2025 tumbuh sebesar 5,39 persen (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan sebelumnya sebesar 5,04 persen (y-o-y).
Menurut Ramdan Denny Prakoso selaku Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), pertumbuhan tersebut sendiri telah membuktikan bahwa secara keseluruhan, ekonomi telah meningkat dari tahun 2025 sebesar 5,11 persen (y-o-y), meningkat dari pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya sebesar 5,03 persen (y-o-y).
Dengan pertumbuhan ini, Ramdan sendiri turut menyatakan keoptimisannya akan ke-depannya, pertumbuhan ekonomi 2026 akan meningkat dalam kisaran 4,9-5,7 persen (y-o-y), dengan didukung oleh peningkatan permintaan domestik sejalan dengan berbagai bauran kebijakan yang ditempuh.
BACA JUGA:Moody’s Revisi Outlook, Gubernur BI Tegaskan Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat
BACA JUGA:Soal Keraguan Moody’s, Purbaya : Ekonomi Tumbuh 5,39 Persen Yakin Akan Balik Arah
"Dalam kaitan ini, Bank Indonesia berkomitmen terus memperkuat bauran kebijakan yang diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas," ujar Ramdan kepada media secara daring, pada Sabtu (07/02).
Kendati begitu, Pengamat sendiri menilai bahwa pertumbuhan ini sendiri tidak bisa dijadikan patokan laju perkembangan perekonomian Indonesia. Pasalnya, rasa optimisme publik sendiri tidak otomatis menguat.
Dalam hal ini, Ekonom sekaligus Dosen Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat turut menilai bahwa angka tersebut memberikan pesan ganda.
"Di satu sisi, Indonesia tetap bergerak, tidak sedang jatuh. Capaian itu belum sejalan dengan ekspektasi lompatan yang dijanjikan, terutama narasi pertumbuhan lebih tinggi yang sering disampaikan sebagai tanda “mesin baru” ekonomi," tutur Achmad ketika dihubungi oleh Disway.
BACA JUGA:Promo Superindo Hari Ini Terbaru 8 Februari 2026, Jelang Puasa Biskuit Mulai Rp29 Ribuan
BACA JUGA:Klaim Saldo DANA Gratis Rp110.000 ke Dompet Elektronik Pagi Ini, Caranya Lewat Fitur DANA Kaget
Lebih lanjut, Achmad juga turut menyoroti dua masalah pokok yang sering luput dalam perdebatan publik. Salah satunya adalah konflik kepentingan yang membuat belanja negara dan kebijakan ekonomi tidak selalu bergerak ke arah yang paling produktif bagi pertumbuhan.
Selain itu, dirinya menambahkan, program prioritas sendiri belum menempatkan daya beli dan penciptaan lapangan kerja sebagai poros utama.
"Akibatnya, program besar bisa ramai di awal, tetapi daya ungkitnya ke ekonomi riil, terutama ke kelas pekerja dan UMKM, tidak cukup kuat," pungkas Achmad.
BACA JUGA:Kejar Menit Bermain, Persija Resmi Pinjamkan Ryo Matsumura ke Bhayangkara FC
- 1
- 2
- »


