Harga emas kembali melesat ke rekor tertinggi akhir pekan lalu hingga memicu euforia sekaligus kekhawatiran di kalangan investor. Namun, setelah mencetak puncak baru, harga logam mulia ini justru berbalik arah dan bergerak fluktuatif. Apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana arah pergerakan emas sepanjang 2026?
Untuk pertama kali, harga emas menembus 5.350 dolar AS per troy ounce pada Kamis (29/1/2026). Di Indonesia, harga beli emas Pegadaian saat itu mencapai Rp 3,15 juta per gram, bahkan harga beli emas Antam Rp 3,17 juta per gram. Dibandingkan awal tahun, harga emas telah melonjak sekitar 27 persen hanya dalam kurun kurang dari 30 hari.
Namun, rekor tersebut tidak bertahan lama. Sehari setelahnya, harga emas terkoreksi dan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menurun. Pada Jumat (6/2/2026) pagi, emas Pegadaian dibuka dengan harga Rp 2,85 juta per gram, sementara emas Antam Rp 2,96 juta per gram.
Penurunan tajam ini disebabkan aksi jual besar-besaran di pasar logam mulia pada Jumat pekan lalu, atau sehari setelah rekor harga emas. Aksi jual ini membuat harga emas turun hingga 9 persen, bahkan harga perak terjun hampir 30 persen dan menjadi penurunan harian terdalam sejak 1980.
Aksi jual di pasar logam mulia ini dipicu kekhawatiran investor terhadap calon ketua Bank Sentral AS (The Fed) yang baru, Kevin Warsh. Dikenal sebagai sosok yang pragmatis dan independen, para pelaku pasar menilai kebijakan The Fed akan lebih hawkish di bawah kepemimpinan Warsh.
Hawkish menggambarkan sikap bank sentral yang lebih agresif menahan inflasi melalui kenaikan suku bunga dan pengetatan likuiditas (jumlah uang beredar). Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi membuat dolar AS menguat karena arus modal global mengalir ke instrumen berbasis dolar AS.
Dalam berbagai studi empiris pasar komoditas, penguatan dolar AS hampir selalu berkorelasi negatif dengan harga emas. Sebab, ketika dolar AS menguat, emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor global sehingga permintaan melemah. Akibatnya, harga emas pun tertekan.
Selain faktor kebijakan The Fed, tekanan juga datang dari sisi teknis pasar. Chicago Mercantile Exchange (CME) menaikkan persyaratan margin kontrak berjangka logam mulia untuk membatasi risiko dan menjaga stabilitas perdagangan. Kebijakan ini memaksa sebagian pelaku pasar mengurangi posisi sehingga mempercepat aksi jual.
Di tengah fluktuasi harga yang tajam, muncul pertanyaan mendasar: apakah koreksi ini menandai akhir reli emas, atau sekadar jeda sementara?
Untuk menjawabnya, Litbang Kompas melakukan pemodelan berbasis machine learning dengan memanfaatkan data historis harga. Hasilnya menunjukkan bahwa tren kenaikan harga emas belum kehilangan momentum. Sepanjang 2026, harga emas masih berpotensi melanjutkan penguatan meski lajunya diperkirakan tidak sedrastis lonjakan pada 2025.
Harga emas tetap bergerak volatil dalam jangka pendek setelah mencatat rekor tertinggi pada akhir Januari. Setelah itu, harganya diperkirakan naik secara bertahap hingga menembus Rp 3,7 juta per gram, dengan catatan kondisi global relatif terkendali. Dalam situasi tertentu, misalnya terjadi gejolak geopolitik atau tekanan ekonomi mendadak, kenaikan harga emas bahkan bisa lebih tinggi seiring lonjakan permintaan.
Pola kenaikan yang cenderung bertahap dari bulan ke bulan mencerminkan karakter emas sebagai instrumen lindung nilai. Emas umumnya menguat secara gradual seiring akumulasi sentimen global, arah kebijakan moneter, serta kekhawatiran jangka menengah. Meski demikian, risiko logam mulia ini tetap ada. Dalam skenario pesimistis, harga emas diperkirakan bertahan Rp 2,97 juta per gram pada akhir Desember 2026.
Proyeksi ini sejalan dengan pandangan sejumlah analis global yang menilai penurunan tajam sepekan terakhir lebih merupakan koreksi sehat ketimbang tanda runtuhnya tren jangka panjang. Minat investor terhadap emas sebagai aset pelindung nilai dinilai masih kuat, bahkan cenderung meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang belum mereda.
Permintaan dari bank sentral turut menopang harga. Negara seperti China, Korea Selatan, dan beberapa negara Eropa terus menambah porsi emas dalam cadangan devisa untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. World Gold Council mencatat pembelian emas bank sentral naik 6 persen pada Oktober-Desember 2025.
Hal yang menarik, reli harga tahun ini tidak berlangsung dalam situasi pasar yang tenang. Pada awal paruh pertama 2026, volatilitas perak masih tergolong tinggi walau trennya naik. Kondisi ini mencerminkan pelaku pasar yang masih diliputi kewaspadaan.
Kenaikan harga emas didukung kebutuhan aset aman, permintaan dari industri, dan harapan kebijakan moneter lebih longgar. Namun, di sisi lain, ketidakpastian global mulai dari konflik geopolitik sampai arah ekonomi dunia akan membuat pasar mudah bereaksi. Setiap kabar baru dapat memicu aksi jual ataupun beli.
Baru memasuki pertengahan tahun 2026 volatilitas diperkirakan mulai mereda. Arah pasar terlihat lebih jelas dan investor mulai terbiasa dengan level harga yang baru. Tren kenaikan masih berlanjut, tetapi dengan pergerakan yang lebih stabil. Pasar perlahan beralih dari fase gelisah menuju fase yang lebih terkendali.
Pertanyaan terpenting sebenarnya bukan lagi apakah harga emas akan naik, melainkan bagaimana investor memaknai kenaikan tersebut, sekadar peluang jangka pendek atau strategi lindung nilai jangka panjang?
Pemodelan Litbang Kompas menunjukkan, baik emas maupun perak memang berada pada lintasan yang sama menarik, tetapi karakter risikonya berbeda. Secara historis, sepanjang 2021-2024, volatilitas emas relatif lebih rendah dan stabil dibandingkan perak. Volatilitas emas berada di kisaran 0,8-1,2 persen, sementara perak lebih lebar antara 1,3 persen dan 2,5 persen.
Pola volatilitas emas yang cenderung datar menegaskan posisi emas sebagai aset defensif atau safe haven. Sebaliknya, perak lebih sensitif terhadap perubahan sentimen pasar. Harganya mudah berayun mengikuti dinamika ekonomi global ataupun permintaan industri.
Situasi sempat berubah pada 2025 ketika ketidakpastian global meningkat tajam. Volatilitas emas naik hingga mendekati 2 persen pada April, sementara perak melonjak sampai 4 persen pada Desember. Kondisi ini memberi sinyal pasar bergerak jauh lebih gelisah.
World Gold Council mencatat, sepanjang tahun tersebut harga emas mencetak 53 kali rekor baru, dengan volume perdagangan menembus 361 miliar dolar AS per hari—tertinggi sepanjang sejarah. Pada saat yang sama, harga perak melesat hingga 147 persen, mencerminkan kombinasi spekulasi investor dan lonjakan kebutuhan industri.
Memasuki tahun 2026, tekanan tersebut diperkirakan mulai mereda. Volatilitas emas kembali stabil di rentang 1,1-1,4 persen, sedangkan perak sekitar 2,2 persen—masih lebih agresif, tetapi jauh lebih terkendali dibandingkan tahun sebelumnya. Stabilitas inilah yang menjadi dasar proyeksi harga emas dan perak berpeluang melanjutkan kenaikan meski tidak sedrastis tahun lalu.
Dari sisi fundamental, tren tersebut turut ditopang permintaan yang tetap kuat. Emas masih diburu investor ritel dan bank sentral sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sementara itu, perak memiliki peran ganda: selain instrumen investasi, logam ini juga menjadi bahan baku penting bagi industri. Kebutuhan dari sektor energi terbarukan, elektronik, hingga otomotif, terutama kendaraan listrik, memberikan fondasi permintaan yang semakin solid bagi harga perak.
Pada akhirnya, emas maupun perak bukan sekadar komoditas, melainkan cerminan psikologi pasar global. Selama ketidakpastian ekonomi dan geopolitik belum sepenuhnya mereda, kebutuhan terhadap aset aman akan tetap ada. Artinya, logam mulia kemungkinan masih bersinar sepanjang tahun ini meski jalannya tak selalu mulus. (LITBANG KOMPAS)

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2020%2F08%2F08%2F8151cf17-4b4c-4bbf-8be1-68c4aa158015.jpg)
