MerahPutih.com - Barcelona telah mengumumkan pengunduran dirinya dari Liga Super Eropa. Hal itu menjadi pukulan terbaru bagi proyek yang kesulitan berkembang tersebut.
Liga Super awalnya diluncurkan pada 2021 dengan dukungan 12 klub terbesar di Eropa. Namun, reaksi negatif dari penggemar di Inggris dengan cepat menyebabkan enam tim Premier League, Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, Manchester United, dan Tottenham Hotspur, menarik dirinya.
Kemudian, Atletico Madrid, Inter Milan, AC Milan, dan Juventus, ikut mengikuti jejak mereka. Jadi, hanya tersisa Real Madrid dan Barcelona saja sebagai wajah proyek tersebut.
Baca juga:
Barcelona Pertimbangkan Perpanjang Kontrak Robert Lewandowski, Syaratnya Gaji Harus Dipangkas
Hubungan Barcelona dan Real Madrid Makin Memburuk Hubungan Barcelona dan Real Madrid memburuk selama beberapa bulan terakhir. Foto: Dok. FC BarcelonaNamun, setelah memburuknya hubungan dengan Madrid dalam beberapa bulan terakhir, ditambah Presiden Barcelona, Joan Laporta, yang kembali menjalin hubungan dengan UEFA serta Asosiasi Klub Sepak Bola Eropa [EFC], tim Catalan kini juga telah mundur.
"Barcelona dengan ini mengumumkan bahwa [pada hari Sabtu] telah secara resmi memberitahukan kepada Perusahaan Liga Super Eropa dan klub-klub yang terlibat tentang penarikan mereka dari proyek tersebut," demikian pernyataan klub.
Setelah dampak awal peluncuran Liga Super Eropa dan anggapan bahwa ajang tersebut tertutup bagi para anggota pendirinya, liga tersebut diluncurkan kembali pada 2024 sebagai Unify League.
Promotor Liga Super Eropa, A22 Sports mengatakan pada saat itu, bahwa mereka telah mengajukan proposal kepada UEFA dan FIFA.
Baca juga:
Spotify Camp Nou Berpeluang Jadi Tuan Rumah Final Liga Champions 2029, Proposal Sudah Diajukan
Mereka meminta badan pengatur sepak bola untuk secara resmi mengakui haknya untuk menyelenggarakan kompetisi Eropa yang baru.
Langkah ini menyusul putusan Mahkamah Eropa pada Desember 2023, setelah Super League mencari perlindungan untuk rencananya berdasarkan hukum Uni Eropa yang menyatakan, bahwa UEFA dan FIFA telah "menyalahgunakan posisi dominan."
Mereka juga menyebut aturan yang mengatur format baru dengan sewenang-wenang. Kemudian, UEFA menyatakan bahwa mereka yakin aturan yang diberlakukan sejak upaya peluncuran Super League pada 2021 telah memastikan, jika liga tersebut kini mematuhi hukum Uni Eropa.
Liga Super Eropa Kalah Saing dengan Format Baru Liga Champions Liga Super Eropa tak banyak peminat. Foto: Dok. European Super LeagueMeskipun ada rencana A22 Sports, tetapi minat terhadap Super League di Eropa masih rendah setelah adanya perubahan format Liga Champions dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, hubungan antara Barca dan Madrid memburuk dalam beberapa bulan terakhir, terutama antara kedua presiden, yakni Joan Laporta dan Florentino Perez.
Sebagai sekutu dalam proyek Liga Super, mereka mengesampingkan perbedaannya saat mengejar kompetisi yang diyakini akan menguntungkan secara finansial. Sebab, banyak liga Eropa kesulitan bersaing dengan kekayaan Premier League.
Perbedaan tersebut kembali muncul ke permukaan baru-baru ini, ketika Perez dan Madrid mendesak agar tindakan diambil terhadap Barca dalam kasus Negreira.
Baca juga:
Alvaro Arbeloa Bawa Angin Segar ke Real Madrid, Suasana Ruang Ganti Makin Membaik
Investigasi tersebut terkait pembayaran yang dilakukan Blaugrana kepada wakil presiden komisi wasit di Spanyol antara 2001 dan 2018.
Pada Oktober 2025 lalu, Laporta mengonfirmasi bahwa rencananya adalah membangun kembali hubungan dengan UEFA dan EFC dalam pertemuan di Roma. (sof)



