Polda Metro Jaya ikut menyelidiki penemuan 3 balita di Suku Anak Dalam, Jambi, saat pengungkapan kasus TPPO Balita Tamansari. Mereka tengah mendalami kemungkinan apakah 3 balita tersebut juga dijual oleh orang tua mereka.
Sehingga, Polres Jakarta Barat kini membuka posko orang hilang bila ada masyarakat yang kehilangan anggota keluarga mereka.
“Memang diamankan pertama atas dasar satu laporan terkait tentang satu anak yang diperdagangkan oleh orang tua kandung. Terkait yang diamankan di sana ada tiga orang lagi, makanya Polres Metro Jakarta Barat membuka suatu layanan posko pengaduan kepada masyarakat yang merasa bahwa ada anaknya hilang,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto kepada wartawan usai kegiatan Korvei Polda Metro Jaya di kawasan Danau Sunter Papanggo, Jakarta Utara, Minggu (8/2).
Saat ditanya apakah tiga balita lainnya juga dijual oleh orang tua kandung, Budi menegaskan akan mendalami hal tersebut.
“Iya, pasti. Nah kami masih mendalami, makanya dititipkan untuk pelayanan dan perhatian terkait tentang kondisi kesehatan fisik dan psikisnya,” ujar Budi.
Menurut Budi, hingga saat ini belum ada pihak yang datang melapor atau mengklaim sebagai keluarga dari tiga balita lainnya. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pendalaman yang kini dilakukan penyidik.
“Tapi akan sangat aneh apabila dengan kita sudah konferensi pers, kita sudah mengunggah di media online, media sosial tapi belum ada yang hadir. Apakah ini memang suatu adab, suatu kebiasaan untuk memperdagangkan anaknya? Nah, ini menjadi pendalaman oleh kita,” ujarnya.
Budi menegaskan, keempat balita yang berhasil diselamatkan kini berada dalam penanganan negara. Polisi memastikan kondisi fisik dan psikis para korban terus dipantau bersama instansi terkait.
“Empat orang anak ini juga diberikan perhatian terkait tentang kondisi fisik. Dicek kondisi fisiknya apakah dalam kondisi sehat. Terkait tentang psikis, kemarin disampaikan dari Dinas Sosial bahwa kondisi psikis empat orang anak ini sesuai dengan umur dan usianya, dan sudah mulai membaik,” jelasnya.
Ia menambahkan, anak-anak tersebut kini sudah mulai berkomunikasi dan berbaur dengan anak-anak lain di rumah aman milik Dinas Sosial.
Sindikat Perdagangan Anak Terlibat?
Lebih jauh, Polda Metro Jaya masih mendalami kemungkinan adanya sindikat dalam kasus ini. Pasalnya, pola perdagangan anak ditemukan di beberapa wilayah lain di Indonesia.
“Kami juga masih mendalami apakah ada kaitan tentang sindikat terkait ini. Karena ini kalau kita lihat terjadi di beberapa wilayah, ada yang terjadi di Sulawesi Selatan, termasuk beberapa wilayah,” ucap Budi.
Ia meminta masyarakat memberi waktu kepada penyidik untuk mendalami motif serta jaringan di balik praktik perdagangan anak tersebut.
“Kami mohon teman-rekan sekalian memberi waktu dan ruang kepada rekan-rekan penyelidik dan penyidik untuk mendalami ini karena proses ini masih berjalan,” tuturnya.
Budi juga mengingatkan pentingnya peran lingkungan sekitar dalam mencegah kejahatan terhadap anak, terlebih karena dalam kasus ini pelaku berasal dari lingkungan terdekat korban.
“Kami mengimbau karena terjadi ini adalah di lingkungan terdekat, di mana pelaku itu adalah orang tua dari anak itu sendiri. Nah, ini ada awareness bagi kita semua, tetangga, saudara, untuk bisa melihat apabila hal-hal ini terjadi bisa melaporkan melalui 110 dan beberapa posko yang sudah disiapkan oleh Polda Metro Jaya,” pungkasnya.




