Untung-Rugi Apabila Saham RI Turun Kasta ke Frontier Market

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Indeks saham Indonesia kini terancam turun kasta dari kategori Emerging Market ke Frontier Market oleh Morgan Stanley Capital International atau MSCI.

Ancaman ini muncul karena tuntutan transparansi data kepemilikan saham yang belum terpenuhi, dengan tenggat waktu hingga Mei 2026.

Jika penurunan status ini benar-benar terjadi, Indonesia akan berada di level yang sama dengan negara seperti Vietnam, Filipina, dan Bangladesh.

Global Market Economist Maybank, Myrdal Gunarto, menilai perubahan status ini akan sangat memengaruhi tingkat kepercayaan investor global terhadap pasar saham domestik.

"Jadi masuknya ke kolongan kelas bawah jadi yang masuk ke pasar yang belum berkembang dan ini kalau kita lihat sih sebenarnya memberikan citra buruk buat investasi kita ya," ucap Gunarto, kepada kumparan, Minggu (8/2).

Gunarto memperingatkan bahwa investor global kemungkinan besar akan menarik dananya dari Indonesia jika status diturunkan menjadi Frontier Market.

"Jadi kalau kita lihat misalkan kita ditempatkan jadi frontier market sudah pasti investor-investor global terutama investor global ya ini bakal keluar dari pasar sini. Nah kalau misalkan itu terjadi ya memang kapital outflow tidak bisa terhindarkan jadi itu yang akan kita lihat," sambungnya.

Potensi Stabilitas Pasar

Meski terdengar mengkhawatirkan, Gunarto melihat arus keluar dana asing tersebut tidak selalu bersifat permanen. Jika fundamental ekonomi nasional tetap kokoh, investor masih berpotensi kembali karena melihat peluang pertumbuhan.

"Tapi kalaupun mereka keluar kelihatannya hanya sementara saja ya karena misalkan kondisi ekonomi kita ternyata bagus tidak sesuai dengan apa yang disampaikan oleh MSCI ya walaupun mungkin kalau misalkan diturunkan sampai frontier kan berarti apa yang menjadi concernnya MSCI kan gak dikasih ya sama otoritas pasar modal kita," jelasnya.

Selain itu, ada satu sisi positif yang mungkin muncul stabilitas pasar yang lebih baik karena dominasi investor lokal. Dengan berkurangnya porsi investor asing, fluktuasi pasar akibat sentimen global yang ekstrem bisa lebih diredam.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai penurunan status tak berarti minat investasi akan hilang sepenuhnya. Sebagian investor masih melihat peluang, terlebih jika valuasi saham menjadi lebih murah.

"Biasanya masih terdapat buyers atau demand ketika misalnya market kita kalau benar-benar diturunkan ke frontier market tetap saja ada demand," tutur Nafan, Minggu (8/2).

Tetapi, Nafan menyebut dampak negatif tetap dominan, khususnya arus keluar dana dari manajer investasi global serta penurunan likuiditas perdagangan saham.

"Outflow pasti terjadi. Outflow dari global fund managers misalnya. Bisa besar seperti yang diberikan oleh Goldman Sachs," sebut Nafan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Sepekan: Antam Anjlok Rp 107.000/Gram, Galeri24 Turun Rp 23.000/Gram
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
APBN Sehat, Energi Kuat: Jalan Indonesia Menuju Mandiri Energi
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
IIMS 2026: Nissan Tampilkan X-Trail e-POWER hingga Navara Terbaru
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Kemdiktisaintek Jajaki Kemitraan Strategis dengan Oxford untuk Riset dan Pendidikan Kesehatan
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Modus Pemilik "Wedding Organizer" di Garut Diduga Tipu 2 Calon Pengantin | SAPA MALAM
• 23 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.