Bitcoin (BTC) kembali menguat setelah mengalami kejatuhan tajam pada Minggu (8/2). Ia kembali bangkit usai penurunan harian terdalam sejak keruntuhan dari FTX.
Dikutip dari Coinmarketcap, Bitcoin diperdagangkan dalam kisaran US$71.000. Ia sukses sekaligus menghapus seluruh kenaikan harga yang sempat terbentuk sejak November 2024.
Baca Juga: Deutsche Bank: Harga Anjlok, Bitcoin (BTC) Mulai Tak Dipercaya Investor
Kejatuhan bitcoin sebelumnya mengguncang pasar global. Penurunan tajam tersebut dipicu oleh gelombang likuidasi besar-besaran dalam pasar dan aksi jual agresif tanpa mempertimbangkan harga.
“Situasinya terasa seperti sell at any price,” kata Desk Strategist Wintermute, Jasper De Maere.
Ia menyebut bahwa meja perdagangan institusional hanya mencatat likuidasi dalam skala kecil hingga menengah, sehingga tidak sepenuhnya menjelaskan besarnya tekanan jual yang terjadi.
Akibat kejatuhan bitcoin, volatilitas melonjak hampir satu poin penuh dengan kecenderungan harga put option menjadi jauh lebih mahal. Menurut De Maere, Ether menjadi pusat tekanan terbesar karena banyak pelaku pasar berlomba membeli perlindungan terhadap potensi penurunan lanjutan.
Untuk Bitcoin sendiri, posisi perdagangan menunjukkan ekspektasi volatilitas berkelanjutan. Para trader memperkirakan pergerakan harga dalam rentang lebar, antara US$55.000 - US$75.000.
Adapun pasar juga menyoroti sejumlah manuver perusahaan terkait dengan kripto. Gemini mengumumkan pihaknya akan menutup operasionalnya di Inggris, Uni Eropa dan Australia. Selain itu, ia juga akan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap seperempat total karyawannya secara global.
Baca Juga: Analis Prediksi Harga Bitcoin (BTC) Bisa Anjlok hingga US$38.000
Bitfarms di sisi lain justru menguat setelah perusahaan meninggalkan identitasnya sebagai perusahaan bitcoin dan beralih fokus ke infrastruktur kecerdasan buatan (AI).



