Di banyak rumah hari ini, orang tua tampak sibuk menjadi sempurna. Jadwal anak rapi, sekolah dipilih terbaik, les ditambah, gawai dibatasi, nilai dipantau. Namun, di balik semua upaya “yang terlihat”, sering ada satu hal yang pelan-pelan hilang: kehadiran orang tua yang utuh.
Kehadiran yang dimaksud bukan sekadar pulang tepat waktu atau duduk di ruang yang sama. Banyak orang tua “ada” secara fisik, tetapi pikiran tertinggal di pekerjaan, mata sibuk pada layar, dan percakapan tinggal daftar perintah: “PR sudah?”, “Nilai berapa?”, “Besok les apa?”. Anak tumbuh di rumah yang ramai, tetapi relasi terasa sunyi.
Kisah Kecil yang Terlalu Sering TerjadiBayangkan satu adegan yang barangkali akrab di banyak keluarga: seorang anak kelas 4 SD pulang sekolah dengan wajah murung. Ia meletakkan tas, duduk di ruang tamu, dan berkata pelan, “Bu, tadi aku dimarahi teman.” Ibunya menjawab sambil tetap menatap ponsel, “Nanti ya, ibu bales chat dulu.” Sepuluh menit berubah jadi satu jam. Ketika ibu akhirnya menoleh, anak sudah masuk kamar. Malamnya, ibu mendapati anak lebih tenang. Akan tetapi bukan karena masalahnya selesai. Ia tenang karena belajar satu hal: ceritanya tidak cukup penting untuk mengalahkan layar.
Ini bukan kisah tentang orang tua jahat. Ini kisah tentang orang tua lelah yang dikejar target, dikejar notifikasi, dan dikejar standar “orang tua ideal” dari media sosial. Parenting berubah menjadi proyek pembuktian: anak harus berhasil, rumah harus beres, dan orang tua harus tampak mampu. Tanpa sadar, kita mengejar kesempurnaan, tetapi kehilangan momen-momen kecil yang justru membangun kedekatan.
Apa yang Dikatakan Penelitian Terbaru?Istilah yang kini banyak dibahas peneliti adalah technoference gangguan relasi karena teknologi, terutama ketika ponsel “menyela” interaksi orang tua dan anak. Meta-analisis terbaru menunjukkan ada hubungan yang konsisten antara technoference orang tua dan meningkatnya penggunaan media yang bermasalah pada anak, menguatkan pentingnya intervensi berbasis keluarga.
Penelitian lain juga menemukan bahwa penggunaan ponsel orang tua saat percakapan dengan anak berkaitan dengan reaksi emosi/perilaku anak dan kesejahteraan subjektif anak sederhananya, anak bisa merasa “diabaikan” meski orang tua ada di sampingnya.
Di sisi yang lebih luas, organisasi kesehatan dunia menegaskan bahwa masa remaja adalah fase krusial pembentukan kebiasaan sosial-emosional, dan lingkungan yang protektif serta suportif di keluarga adalah faktor penting bagi kesehatan mental. Sementara itu, laporan terbaru dari WHO menunjukkan penurunan dukungan keluarga yang dirasakan remaja di beberapa wilayah dan meningkatnya tekanan sekolah gambaran yang relevan untuk dibaca sebagai “alarm relasi”, termasuk bagi keluarga kita.
Data Indonesia juga memberi sinyal penting: misalnya, profil kesehatan remaja Unicef menunjukkan masih adanya isu kesepian, depresi, serta kesenjangan pencarian bantuan (treatment gap). Ini menegaskan bahwa ketika dukungan emosional di rumah melemah, tidak semua anak akan otomatis mencari pertolongan profesional.
Kabar baiknya, penelitian juga konsisten menunjukkan bahwa dukungan emosional orang tua berhubungan dengan gejala psikologis yang lebih rendah pada remaja, antara lain melalui penguatan self-efficacy (keyakinan diri untuk menghadapi masalah). Artinya, kehadiran yang hangat bukan sekadar “feel good”; ia punya konsekuensi nyata bagi ketahanan mental anak.
Hadir Itu Bukan Lama, Tapi UtuhSering kali orang tua berkata, “Saya tidak punya waktu.” Padahal, banyak anak tidak menuntut waktu berjam-jam. Mereka butuh momen kecil yang utuh tatapan mata, respons yang tidak menghakimi, dan ruang aman untuk bercerita.
Kehadiran yang utuh berarti mendengar tanpa buru-buru memberi ceramah. Menahan diri untuk tidak menyepelekan emosi anak dengan kalimat “ah gitu aja nangis” atau “kamu harus kuat”. Kehadiran juga berarti mengakui: orang tua pun bisa salah, bisa lelah, dan tetap bisa memperbaiki relasi.
Di titik inilah parenting bukan soal metode paling mutakhir, melainkan soal relasi. Anak belajar tentang dunia melalui hubungan dengan orang tuanya: apakah ia aman ketika rapuh, apakah ia dihargai ketika berbeda, apakah ia diterima ketika gagal.
Solusi Nyata yang Bisa Dilakukan Mulai Malam IniSolusi paling efektif sering justru yang paling sederhana bukan yang paling rumit.
Pertama, buat “zona tanpa layar” di rumah pada jam-jam relasi: meja makan, 30 menit sebelum tidur, atau saat anak baru pulang sekolah. Rekomendasi membuat Family Media Plan dan menerapkan aturan seperti screen-free zones, mematikan notifikasi, dan “one screen at a time” menjadi langkah praktis untuk mengurangi distraksi.
Kedua, terapkan ritual 10 menit hadir: satu anak, satu orang tua, satu waktu pendek, tanpa interupsi. Bukan untuk menginterogasi nilai, tetapi untuk bertanya hal yang membuat anak merasa dilihat: “Hari ini yang paling menyenangkan apa?” atau “Tadi ada yang bikin kamu kepikiran?” Konsistensi ritual kecil lebih kuat daripada upaya besar yang jarang.
Ketiga, ubah respons dari “memperbaiki” menjadi “memahami” terlebih dulu. Saat anak cerita, tahan godaan memberi solusi cepat. Mulailah dengan validasi: “Pasti tidak enak ya,” “Kamu kecewa, ya?” Setelah emosi mereda, barulah ajak mencari jalan keluar bersama. Dukungan emosional semacam ini terbukti menjadi pelindung psikologis.
Keempat, rawat kesehatan emosi orang tua. Banyak jarak lahir bukan karena orang tua tidak sayang, tetapi karena orang tua kehabisan energi. Mengatur ulang beban, berbagi peran pengasuhan, dan memberi ruang pemulihan untuk orang tua adalah bagian dari “hadir”. Anak tidak butuh orang tua sempurna mereka butuh orang tua yang cukup sehat untuk merespons.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan “apakah saya orang tua terbaik?”, melainkan “apakah saya cukup hadir ketika anak membutuhkan saya?” Di tengah derasnya tuntutan zaman, kehadiran adalah bentuk cinta yang paling konkret. Nilai rapor akan berganti, prestasi akan datang dan pergi, tetapi rasa aman yang lahir dari orang tua yang hadir akan tinggal lama dan menjadi bekal anak menghadapi hidupnya kelak.




