Bisnis.com, JAKARTA - Peta politik untuk Pemilu 2029 ternyata mulai memanas. Meskipun masih tiga tahun lagi, partai politik ternyata mulai memberikan dukungan bagi Prabowo Subianto untuk menjadi petahana di ajang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.
Dukungan tersebut awalnya disampaikan langsung oleh Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin saat mendatangi Istana Negara pada pekan lalu.
Cak Imin mengatakan jajaran pengurus PKB yang datang mulai dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) hingga ketua-ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) se-Indonesia. Cak Imin menjelaskan bahwa kedatangan PKB ke Istana adalah untuk audiensi dengan Presiden Prabowo dan memperkenalkan seluruh jajaran pengurus lengkap sampai ke bawah. PKB juga telah menjalankan Akademi Politik Kebangsaan, di mana calon-calon pengurus utama harus lulus.
"Kami juga melaporkan, kami telah melaksanakan rapat koordinasi dan menyampaikan berbagai ide, gagasan, usulan dalam rangka menyukseskan pemerintahan di bawah kepemimpinan Pak Prabowo," kata Cak Imin di Kompleks Istana Kepresidenan pada Rabu (3/2/2026).
Dia menjelaskan bahwa PKB mendukung penuh semua keputusan kebijakan dan program-program pemerintahan Prabowo yang sangat dinikmati rakyat secara langsung.
"Bahkan kita siap menyukseskan upaya lanjutan dari seluruh program strategis itu. Misalnya membangun ekosistem program makan bergizi gratis [MBG], melibatkan seluruh stakeholders dalam supaya supply and demand dari kebutuhan MBG berjalan dengan lebih produktif lagi," ujar Cak Imin.
Baca Juga
- Mujahadah Kubro Satu Abad, Prabowo Kenang Kiprah NU dalam Kemerdekaan RI
- Survei Indikator: Tingkat Kepuasan Publik terhadap Kinerja Prabowo Tinggi!
- Danantara Siapkan 1.000 Kamar di Makkah, Prabowo Janjikan Biaya Haji Turun
Cak Imin yang juga menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat menjelaskan bahwa PKB pun siap untuk mendukung pemerintah melangkah lebih jauh lagi hingga dua periode.
"Kita pokoknya intinya puas dengan pemerintahan Pak Prabowo dan kompak minimal dua periode-lah," kata Cak Imin.
Selain Cak Imin, dukungan juga disampaikan oleh Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan. Zulhas, sapaan akrabnya, menilai waktu selama lima tahun tidak cukup untuk merealisasikan program kerja Presiden Prabowo Subianto.
Pernyataan itu dia sampaikan sebagai respons terhadap isu yang menyebutkan bahwa Prabowo dinilai perlu menjabat dua periode. Dia juga menegaskan bahwa pihaknya selalu mendukung Prabowo, bahkan sejak Pemilu periode-periode lalu.
Menurut Zulhas, masih banyak program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan ketahanan pangan perlu terus dilanjutkan.
"Saya kok ditanya lagi gimana dukung Pak Prabowo? Lah kok nanya sama saya itu tuh. Saya ini kalah aja 15 tahun, ya kan? Ya kalau sudah seperti ini, tentu untuk merealisasikan program-program Bapak Presiden, 5 tahun nggak cukup ya," tutur Zulhas di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (7/2/2026).
Zulhas yang juga menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan menegaskan bahwa saat ini tugasnya cukup penting. Sebab, urusan pangan bersinggungan langsung dengan hajat hidup orang banyak.
Oleh karena itu, untuk mencapai ketahanan pangan tidak cukup dalam waktu 5 tahun saja.
"Pangan itu pertanian, peternakan, nelayan, 30% rakyat yang paling bawah ada di situ. Jadi tugas sangat mulia, tentu tidak cukup 5 tahun, saudara-saudara sekalian," kata Zulhas.
Gerindra Respons soal Kandidat CawapresSekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerindra Sugiono mengomentari terkait peluang Cawapres pendamping Presiden RI Prabowo Subianto di Pilpres 2029. Namun, menurutnya, gelaran Pilpres masih lama dan banyak hal yang akan terjadi.
Sugiono mengatakan bahwa di internal Partai Gerindra sendiri peluang Cawapres pendamping Prabowo belum pernah dibicarakan.
"2029 juga masih 3 tahun lagi, banyak yang bisa terjadi. Jadi tidak ada yang bicara soal itu. Perjuangan masih panjang, program-program yang diluncurkan harus terus kita kawal kesuksesannya," ujar Sugiono saat bertemu dengan media pada Jumat (6/2/2026).
Sugiono menjelaskan saat ini Partai Gerindra pun berfokus untuk menyukseskan pemerintahan Prabowo-Gibran. Dia mengatakan saat ini Pemerintahan Prabowo sudah menunjukkan prestasinya.
"60 juta penerima manfaat MBG [makan bergizi gratis], statistik juga angka-angka perbaikan bidang pemberantasan kemiskinan, itu trajectori yang harus dipelihara dan ditingkatkan," katanya.
Sementara itu, sejumlah partai koalisi pun telah menunjukkan dukungannya agar Prabowo bisa melaju hingga dua periode.
"Yang saya tangkap bahwa semua ini berawal dari cita-cita yang sama, nafas yang sama, dalam periode satu tahun beliau [Presiden Prabowo] memimpin dan menjalankan program-programnya," ujar Sugiono.
Prabowo Belum Punya Lawan SepadanAnalis komunikasi politik Hendri Satrio menilai hingga saat ini belum tampak figur yang sepadan untuk menjadi penantang Presiden Prabowo Subianto pada Pemilu 2029.
Ia mengatakan penerimaan publik terhadap Prabowo masih relatif baik. Sementara, poros oposisi juga belum menunjukkan tanda-tanda mengajukan tokoh kuat.
"Prabowo hingga saat ini masih diterima dengan baik. Program-program seperti MBG masih disukai oleh masyarakat," kata Hensa sapaan akrabnya dalam keterangan di Jakarta, Jumat.
Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI itu memaparkan dua alasan yang menurutnya memperkuat penilaian tersebut. Pertama, ia melihat respons masyarakat terhadap kepemimpinan Prabowo sejauh ini masih relatif baik, terutama terhadap program-program yang dirasakan langsung.
Kedua, Hensa menilai belum ada figur alternatif yang secara konsisten muncul dengan daya saing kuat untuk mengimbangi Prabowo menuju 2029. Ia mencontohkan partai oposisi pun belum terlihat memanaskan mesin politik untuk memperkenalkan kandidat.
"Bahkan, oposisi seperti PDI Perjuangan belum ada geliat akan mengeluarkan jagoannya per hari ini ya," ujar Hensa.
Di sisi lain, Hensa menilai pembahasan yang justru menarik dalam peta politik ke depan adalah soal siapa yang akan mendampingi Prabowo. Dia menilai pilihan pendamping akan sangat menentukan stabilitas pemerintahan sekaligus mempengaruhi peta kompetisi menuju pemilu berikutnya.
"Menurut saya, yang mendampingi Pak Prabowo di 2029 ini ada tiga, antara dari Gerindra, orang yang tidak partai politik, atau orang yang tidak punya ambisi jadi capres," kata Hensa.
Ia menyebut salah satu opsi adalah figur dari internal Partai Gerindra. Alasannya, langkah tersebut bisa mencegah efek politik yang membesarkan partai lain di lingkar koalisi, terutama bila belum ada lawan kuat yang muncul dari luar.
"Pak Prabowo akan rugi jika ia memilih calon wapres dari partai lain, karena itu sama saja memberikan panggung bagi partai lain untuk bersinar," katanya.
Selain itu, ia juga membuka kemungkinan Prabowo memilih sosok non-partai atau figur yang tidak memiliki ambisi menjadi calon presiden pada periode berikutnya.
Ia menilai figur yang memiliki ambisi kuat maju sebagai capres berisiko lebih sibuk membangun panggung politik pribadi ketimbang fokus membantu kerja presiden.
"Kalau dia berambisi jadi capres, dia akan sibuk mencari panggung dan tidak fokus membantu kerja presiden," ujar Hensa.
Berdasarkan Survei Nasional Indikator terkait Persepsi Publik terhadap Kinerja Presiden dan Kepercayaan Warga terhadap Lembaga-lembaga Negara, tingkat kepuasan publik mencapai 79,9%. Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengungkapkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto tergolong sangat tinggi.
Burhanuddin menjelaskan, Presiden Prabowo memiliki modal politik yang sangat besar dibandingkan presiden-presiden sebelumnya. Modal pertama, menurutnya, adalah modal elektoral yang kuat pada Pemilihan Presiden 2024. Dia mencatat pasangan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka meraih sekitar 96 juta suara, menjadi kemenangan terbesar sepanjang sejarah pemilihan presiden langsung di Indonesia. Perolehan tersebut melampaui capaian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono maupun Presiden Joko Widodo dalam kemenangan pemilu mereka.
“Pak SBY pada 2009 tidak sampai 70 juta suara. Pak Jokowi pada 2014 dan 2019 juga tidak sebesar perolehan suara Pak Prabowo,” ujar Burhanuddin.
Menurutnya, besarnya modal elektoral tersebut ditopang oleh kombinasi basis massa Prabowo sendiri dan dukungan Presiden Joko Widodo yang direpresentasikan melalui pencalonan Gibran sebagai wakil presiden. Modal politik kedua, lanjut Burhanuddin, adalah tingginya approval rating Prabowo sejak awal pemerintahan.
Ia menyebut, secara umum tingkat persetujuan publik terhadap Prabowo relatif lebih tinggi dibandingkan Presiden Jokowi maupun Presiden SBY pada periode awal pemerintahan mereka, meskipun sempat mengalami penurunan pada periode tertentu.
“Pak Prabowo mendapatkan dua kekuatan sekaligus, kekuatan basis dirinya sendiri dan kekuatan dukungan Pak Jokowi,” kata Burhanuddin.
Burhanuddin menilai, meskipun tingkat kepuasan secara keseluruhan tergolong tinggi, basis responden yang menyatakan sangat puas masih relatif terbatas. Namun demikian, secara umum angka kepuasan tersebut dinilai lebih tinggi dibandingkan tingkat kepuasan pada awal pemerintahan Presiden SBY maupun Presiden Jokowi.




