Bisnis.com, SURABAYA – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq memberikan sejumlah catatan kritis mengenai kebijakan penanganan sampah di Surabaya, apalagi dengan status Kota Pahlawan sebagai satu dari sekian kota yang tergolong apik dalam tata kelola sampah.
Berdasarkan data yang dihimpun, timbulan sampah di Kota Surabaya mencapai 1.811 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.779 ton per hari telah terkelola melalui sistem pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan yang tersedia.
"Dari hasil penilaian Adipura atau tata kelola sampah nasional, Surabaya ini termasuk satu dari tiga kota yang nilainya paling tinggi. Jadi saya mau melihat langsung karena ini kan baru pertama penghargaan Adipura diberikan," ucap Hanif dikutip Senin (9/2/2026).
Hanif menjelaskan dirinya masih menemukan banyak persoalan yang belum dapat diatasi oleh pemerintah setempat berkaitan dengan pengelolaan sampah di wilayah urban. Dia mengaku masih banyak menemukan tempat pembuangan sampah (TPS) liar hingga aliran sungai yang tercemar oleh sampah di sejumlah titik kota.
"Sungainya juga saya lihat masih ada problem banyak sampah yang menimbun, kemudian sepanjang jalan juga masih cukup banyak TPS liar, yang mungkin merupakan lapak-lapak atau pengepul-pengepul sampah, yang memang mau nggak mau harus ditertibkan, baik itu dengan penegakan hukum ataupun dengan memberinya fasilitas. Sehingga itu cara paling gampang menuju kota yang bersih," bebernya.
Walau begitu, Hanif menyebut pengelolaan sampah di wilayah protokoler Surabaya sudah tergolong baik. Namun, pembenahan secara serius perlu dilakukan secara menyeluruh, termasuk di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kota. Tak hanya itu, Hanif juga menyoroti budaya pemilahan sampah yang diklaimnya belum terlaksana sepenuhnya di Surabaya.
"Surabaya kita terima kasih, daerah protokolernya sangat bagus, mungkin terbagus ya, tapi daerah pinggirnya perlu perhatian serius. Kita tidak melihat dari protokol saja, kita lihat dari penanganan sampah secara substansial, dan dari rumah tangga yang kita datangi di Surabaya, hampir belum semuanya melakukan pilah sampah," ungkapnya.
Oleh sebab itu, Hanif menegaskan dalam kriteria penilaian Adipura, tidak boleh terdapat satu tempat pembuangan sampah liar (TPS) liar yang ditemukan. Dengan adanya temuan tersebut, dirinya menilai dapat memengaruhi hasil akhir penilaian Adipura terhadap Surabaya.
"Jadi di tempat-tempat krusial perlu banyak dibenahi. Tentu nilai tinggi yang dilakukan oleh tim akan kita kalibrasikan kembali, apakah masih tinggi atau seperti apa," tegasnya.
Meski memberi sorotan kritis, Hanif tetap mengapresiasi Kota Surabaya dalam komitmen untuk melakukan pengolahan sampah. Menurutnya, berbagai kebijakan dan penanganan terhadap masalah pengelolaan sampah harus melibatkan segenap warga.
"Jadi hanya satu rumah tangga yang bisa menyebut dan itu yang lainnya sampahnya masih tidak terlalu baik, dan begitu kita keluar jalan TPS-nya banyak, saya harap terus diperbaiki dan saya terima kasih dengan apa yang dilakukan Surabaya, tapi harus ditingkatkan. Surabaya pondasinya sudah sangat kuat, tinggal beberapa item yang harus dipacu," pungkasnya.

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F06%2Ff3f9fa9cd15d59554f5a8b5ce502251b-20260106TOK15.jpg)


